Lampung Targetkan Pembuatan 1.000 Biopori untuk Atasi Banjir Secara Efektif
Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan target pembuatan 1.000 lubang biopori sebagai bagian dari upaya strategis mengatasi banjir yang kerap melanda wilayah Bandarlampung dan sekitarnya. Langkah ini menjadi bagian dari program jangka pendek untuk mencegah dan mengendalikan banjir berulang yang selama ini menjadi permasalahan utama di kawasan tersebut.
Strategi Pembuatan Biopori untuk Pengendalian Banjir
Kepala Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung, Budi Darmawan, menjelaskan bahwa pembuatan lubang biopori tidak hanya bertujuan sebagai resapan air, tapi juga berkontribusi pada konservasi air tanah yang sangat dibutuhkan di masa kini. Biopori yang dibuat di area rumah warga secara signifikan dapat meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan, sehingga mengurangi limpasan air dan risiko banjir.
"Dalam jangka pendek untuk melakukan pencegahan serta pengendalian banjir yang berulang di Bandarlampung dan sekitarnya, kami mendorong adanya area resapan di setiap rumah warga," ujar Budi Darmawan di Bandarlampung, Selasa.
Program ini menjadi prioritas Dinas PSDA Lampung pada tahun 2026 dengan anggaran khusus bagi pembuatan 1.000 biopori di Kota Bandarlampung. Meski demikian, menurut Budi, jumlah ini merupakan langkah awal yang perlu diperluas secara masif untuk memberikan dampak yang lebih besar.
Peran Masyarakat dan Dunia Usaha dalam Pembuatan Biopori
Budi menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat umum dan sektor dunia usaha, untuk mendukung pembuatan biopori secara menyeluruh. Dengan kolaborasi ini, target pembuatan lubang biopori yang ideal dapat dicapai, yakni sebanyak 20.000 hingga 50.000 lubang biopori yang mampu memberikan dampak signifikan dalam pengendalian banjir dan konservasi air tanah di Lampung.
- Biopori sebagai daerah resapan air di lingkungan rumah warga
- Konservasi air tanah untuk menjaga ketersediaan air
- Pengurangan risiko banjir akibat limpasan air hujan
- Keterlibatan masyarakat dan dunia usaha untuk jumlah yang lebih besar
Budi menambahkan, "Kalau diperbanyak sampai 20.000-50.000 lubang biopori, itu akan ada dampaknya. Tapi untuk langkah paling cepat, 1.000 lubang biopori di Kota Bandarlampung sudah kami targetkan tahun ini."
Kontribusi Biopori dalam Konservasi dan Mitigasi Banjir
Biopori merupakan lubang silindris yang dibuat di tanah untuk mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah. Teknologi sederhana ini efektif untuk mengurangi genangan air di permukaan dan mengatasi penyumbatan drainase. Selain itu, biopori juga membantu mengisi kembali cadangan air tanah, yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan air di musim kemarau.
Di Kota Bandarlampung, pemasangan lubang biopori telah mulai dilakukan oleh Pemerintah Kota yang dipimpin oleh Wali Kota Eva Dwiana, seperti yang terlihat dalam kegiatan pemasangan lubang biopori di Kecamatan Kemiling pada Agustus 2025.
Langkah Terintegrasi untuk Penanganan Banjir Lampung
Selain pembuatan biopori, Pemprov Lampung dan Pemkot Bandarlampung juga telah melakukan berbagai inisiatif lain untuk menanggulangi banjir, seperti pembenahan sungai dan edukasi larangan membuang sampah sembarangan ke sungai. Badan Wilayah Sungai (BBWS) setempat pun mengingatkan pentingnya rencana induk sebagai pedoman penanganan banjir secara menyeluruh di wilayah Lampung.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, target pembuatan 1.000 biopori yang digagas Pemprov Lampung adalah langkah awal yang positif dan perlu diapresiasi sebagai bentuk mitigasi banjir yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari ideal mengingat kebutuhan sampai puluhan ribu lubang biopori untuk memberikan dampak maksimal.
Pelibatan aktif masyarakat dan dunia usaha sangat krusial dalam program ini agar tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah semata. Selain itu, perlu integrasi dengan program konservasi dan pengelolaan tata ruang yang lebih luas agar fungsi biopori dapat optimal. Pemerintah daerah sebaiknya juga memperkuat edukasi dan insentif agar masyarakat termotivasi membuat biopori di lingkungan masing-masing.
Ke depan, pengembangan teknologi biopori dan inovasi daerah resapan air lainnya harus terus didorong sebagai bagian dari adaptasi perubahan iklim yang makin menantang. Masyarakat pun harus lebih sadar terhadap pentingnya menjaga lingkungan untuk mengurangi risiko banjir yang tidak hanya merugikan secara materi tapi juga kesehatan dan kualitas hidup.
Jangan lewatkan update berikutnya mengenai perkembangan program ini dan langkah-langkah penanganan banjir di Lampung yang akan terus menjadi perhatian pemerintah dan publik.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0