Rumah di Tebet Amblas karena Longsor Sudah Kosong dan Miring Lama Sebelum Kejadian

Mar 11, 2026 - 07:40
 0  5
Rumah di Tebet Amblas karena Longsor Sudah Kosong dan Miring Lama Sebelum Kejadian

Jakarta – Peristiwa longsor yang menyebabkan sebuah rumah kontrakan tiga lantai di Tebet amblas ke Sungai Ciliwung pada Jumat, 6 Maret 2026, ternyata tidak menimbulkan korban jiwa. Rumah yang sudah dalam kondisi miring dan kosong sejak tahun lalu ini memang telah dikosongkan oleh pemiliknya sebelum longsor terjadi.

Ad
Ad

Rumah Kontrakan di Tebet Sudah Kosong Sejak Tahun Lalu

Istiqomah, anak dari pemilik kontrakan, menjelaskan bahwa bangunan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kemiringan cukup lama sehingga keluarga memutuskan untuk tidak lagi menempatinya pada awal tahun 2026. "Baru tahun ini emang kita udah kosongin. Karena kan, udah miring-miring juga, bangunannya karena tanah," ungkap Komang, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan detikcom pada Selasa (10/3/2026).

Setelah dikosongkan, kontrakan tersebut tidak langsung ditinggalkan sepenuhnya, melainkan difungsikan sebagai dapur keluarga. Sementara itu, keluarga tinggal terpisah di rumah lain yang hanya berjarak satu rumah dari lokasi kontrakan.

Penyebab Longsor dan Kondisi Tanah di Sekitar Kali Ciliwung

Kontrakan tersebut dibangun oleh ayah Istiqomah pada era 1980-an dan telah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, posisi bangunan yang berada di tepi Kali Ciliwung membuatnya sangat rentan terhadap erosi tanah. Ditambah lagi, terdapat banyak pipa pembuangan air milik warga di bawah rumah yang berpotensi mempercepat pergerakan tanah.

Hujan deras yang turun terus menerus dalam beberapa waktu terakhir memperparah kondisi tanah dan melemahkan penyangga bangunan di bawah. Akibat penyangga tidak lagi kokoh dan tanah yang tergerus, struktur bangunan menjadi miring dan berisiko amblas.

Melihat kondisi tersebut, keluarga memutuskan untuk tidak mengambil risiko dan mengosongkan bangunan tersebut sejak awal tahun.

Rencana Renovasi Tertunda karena Cuaca dan Kondisi Tanah Tak Tentu

Keluarga sebenarnya berencana untuk merenovasi atau bahkan merobohkan bangunan yang sudah rawan itu, sesuai saran tetangga. Namun, mereka merasa proses pembongkaran terlalu berisiko bagi keselamatan tukang karena kondisi tanah dan dinding turap penyangga yang tidak diketahui secara pasti.

Sebagai gantinya, mereka berfokus ingin memperbaiki jalanan di sekitar rumah yang sudah retak-retak besar. Namun, karena hujan yang terus turun, niat tersebut belum bisa direalisasikan. Air hujan yang masuk melalui celah retakan di jalan membuat tanah di bawahnya menjadi lunak, yang akhirnya memicu longsor.

"Kita mau benerin kan tadinya, mau ditutup lah retakan itu, mau dibenerin dari atas. Cuman kan karena masih hujan terus, cuacanya nggak memungkinkan juga buat kerja," ujar Komang. "Di bawahnya juga kan kita nggak tahu bawahnya itu tiangnya masih utuh atau nggak. Tanahnya udah tergerus itu seberapa banyak, kita juga nggak tahu, tanahnya udah kopong atau masih ada tanah, kita kan nggak tahu bagian bawahnya," tambahnya.

Tidak Ada Korban Jiwa, Keluarga Sudah Ikhlas

Meskipun longsor ini menghancurkan salah satu aset keluarga, Istiqomah menyatakan keluarga sudah ikhlas dengan kejadian tersebut. Mereka memang sudah berniat merobohkan rumah itu sejak lama dan orang tua mereka memiliki rumah lain yang layak di kota berbeda sebagai tempat berteduh.

“Makanya longsor begini tuh, kami sekeluarga udah ikhlas,” tuturnya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kasus longsor rumah kontrakan di Tebet ini menggambarkan betapa pentingnya perhatian terhadap kondisi tanah dan bangunan di wilayah rawan erosi, khususnya di wilayah pinggir sungai seperti Kali Ciliwung. Peristiwa ini menjadi peringatan nyata bahwa bangunan yang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural, seperti kemiringan, harus segera diantisipasi dengan tindakan tegas untuk mencegah risiko kecelakaan serius atau korban jiwa.

Selain itu, kurangnya pemahaman dan data mengenai kondisi tanah di bawah bangunan menghambat proses renovasi dan pembongkaran yang aman. Ini menunjukkan perlunya keterlibatan ahli geoteknik dan perencanaan yang matang dalam pengelolaan properti di kawasan rawan longsor. Pemerintah daerah juga harus memperkuat pengawasan dan memberikan dukungan untuk perbaikan infrastruktur yang dapat mencegah erosi, seperti perbaikan turap dan drainase.

Ke depan, masyarakat dan pemilik properti di kawasan rawan longsor harus lebih proaktif melakukan pengecekan kondisi bangunan dan tanah secara berkala. Sementara itu, pemerintah diharapkan dapat mempercepat program mitigasi bencana di daerah aliran sungai agar insiden serupa tidak terulang dan risiko kerugian materi serta nyawa dapat diminimalisir.

Peristiwa ini juga membuka diskusi lebih luas tentang urbanisasi dan pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek lingkungan dan risiko alam. Kesadaran akan pentingnya tata ruang dan pembangunan berkelanjutan harus menjadi prioritas bersama demi keselamatan dan kenyamanan warga Jakarta.

Simak terus update berita properti dan lingkungan di detikProperti untuk informasi terkini dan tips menjaga keamanan rumah Anda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad