AS Tiru Taktik Putin, Kampanye Militer ke Iran Picu Kekhawatiran Global

Mar 11, 2026 - 08:10
 0  5
AS Tiru Taktik Putin, Kampanye Militer ke Iran Picu Kekhawatiran Global

Amerika Serikat dan Israel kini tengah menjalankan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran yang menimbulkan kekhawatiran global dan perhatian internasional. Strategi yang digunakan Washington dalam konflik ini dianggap memiliki kemiripan yang mencolok dengan invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022.

Ad
Ad

Kemiripan Strategi AS dengan Invasi Rusia ke Ukraina

Meskipun skala operasi berbeda—di mana AS masih membatasi serangan pada operasi udara sementara Rusia melakukan invasi darat besar-besaran—esensi dari konflik ini dinilai serupa. Kedua negara menggunakan narasi yang berubah-ubah, tanpa garis waktu yang jelas, dan dalih hukum yang dipertanyakan oleh para analis internasional.

Awalnya, AS menyatakan serangan terhadap Iran bertujuan mencegah pengembangan senjata nuklir oleh rezim Teheran dan melemahkan jaringan proksi Iran di kawasan. Namun, dalam perkembangannya, tujuan tersebut bergeser menjadi upaya penggulingan rezim Iran secara total.

Presiden Trump dan Seruan Penggulingan Rezim Iran

Presiden terpilih AS, Donald Trump, secara terbuka menyatakan bahwa kepemimpinan Iran harus segera diganti demi stabilitas kawasan. Trump bahkan menuntut penyerahan diri tanpa syarat dari pihak Teheran dalam waktu dekat.

"Kepemimpinan Iran harus diganti. Tehran harus melakukan penyerahan diri tanpa syarat," tegas Trump dalam pernyataan terbarunya mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pergeseran narasi ini sangat mirip dengan yang dilakukan Kremlin saat menyerang Ukraina. Putin awalnya mengklaim tujuan invasi adalah untuk mendemiliterisasi Ukraina, namun kemudian berubah menjadi perlindungan terhadap warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina.

Retorika Militer dan Sikap Pemerintah AS

Baik AS maupun Rusia sama-sama menggunakan bahasa defensif untuk membenarkan aksi militer mereka. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki mandat untuk menyelesaikan kekacauan di Timur Tengah di bawah kepemimpinan Trump.

"Kami tidak memulai perang ini, tetapi di bawah Presiden Trump, kami akan menyelesaikannya," ujar Hegseth.

Ucapan ini hampir identik dengan klaim Putin pada awal invasi Ukraina, yang menyatakan bahwa Rusia tidak memulai perang, melainkan berusaha mengakhirinya.

Kedua pemerintahan juga menolak menggunakan istilah "perang". Rusia menyebut aksinya sebagai "Operasi Militer Khusus" sementara pejabat AS menyebut serangan mereka sebagai "operasi terbatas." Ketua DPR AS, Mike Johnson, menegaskan bahwa aksi militer saat ini adalah langkah taktis dan terbatas, bukan perang skala penuh.

Dukungan Politik dan Potensi Risiko Jangka Panjang

Dukungan politik domestik AS juga mulai mengikuti pola Rusia, di mana kritik awal terhadap intervensi militer berubah menjadi dukungan atas nama nasionalisme. Michael McFaul, mantan Duta Besar AS untuk Moskow yang dikenal kritis terhadap Trump, mengakui dilema ini:

"Begitu presiden kita membuat keputusan untuk berperang, bahkan ketika saya tidak setuju dengan keputusan dan prosesnya—seperti dalam perang dengan Iran saat ini—saya tetap ingin angkatan bersenjata kita menang," tulis McFaul.

Salah satu kekhawatiran utama adalah apakah AS akan terperangkap dalam perang berkepanjangan seperti Rusia di Ukraina, terutama dengan rencana pengiriman pasukan elite untuk mengamankan cadangan uranium Iran. Para ahli mengingatkan bahwa tanpa tujuan yang jelas dan terukur, keberhasilan militer awal dapat berubah menjadi bencana jangka panjang.

Danny Citrinowicz, pengamat dari Atlantic Council, memperingatkan bahwa ambisi yang tidak realistis bisa menyeret AS ke dalam perang atrisi yang berkepanjangan. Ia menekankan pentingnya menetapkan tujuan strategis yang jelas dan realistis agar kampanye militer dapat diakhiri secara terukur.

"Ketika tujuan strategis menjadi terlalu ambisius atau tidak realistis, bahkan kampanye militer yang sukses pun lambat laun dapat merosot menjadi perang atrisi. Untuk menghindari hasil tersebut, sangat penting untuk menetapkan tujuan yang jelas dan realistis—tujuan yang dapat diukur dan memberikan titik yang jelas di mana kampanye dapat berakhir," pungkas Citrinowicz.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kemiripan taktik dan narasi antara AS dan Rusia dalam konflik yang berbeda menunjukkan pola yang berbahaya bagi stabilitas global. Amerika Serikat yang meniru langkah Kremlin bukan hanya soal strategi militer, tetapi juga soal risiko terjebak dalam perang yang berkepanjangan tanpa kepastian hasil.

Perubahan narasi yang bergeser dari tujuan awal ke ambisi penggulingan rezim memperlihatkan potensi konflik yang sulit dikendalikan. Hal ini berpotensi memicu ketidakstabilan lebih luas di kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh, serta meningkatkan risiko konfrontasi langsung dengan kekuatan regional dan global lain.

Publik dan pembuat kebijakan harus waspada terhadap narasi yang memuluskan eskalasi militer tanpa batas waktu. Fokus pada tujuan yang realistis, transparansi, dan diplomasi harus menjadi prioritas untuk menghindari perang yang merugikan semua pihak.

Ke depan, perkembangan situasi ini harus diikuti dengan seksama karena dapat menentukan arah keamanan dan politik global dalam beberapa tahun mendatang. Apakah AS akan berhasil menghindari jebakan perang berkepanjangan seperti yang dialami Rusia, menjadi pertanyaan utama yang harus dijawab oleh para pemimpin dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad