Fakta Terkini Perang Iran-AS: Serangan Meluas dan Ketegangan di Selat Hormuz

Mar 12, 2026 - 10:51
 0  3
Fakta Terkini Perang Iran-AS: Serangan Meluas dan Ketegangan di Selat Hormuz

Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah memasuki hari ke-13, dengan situasi yang semakin memanas dan korban jiwa yang terus bertambah. Hingga Rabu, 11 Maret 2026, lebih dari 1.300 orang tewas akibat serangan yang meluas di berbagai wilayah Iran, terutama di ibu kota Teheran dan sepanjang jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi titik krusial perdagangan minyak dunia.

Ad
Ad

Korban Jiwa dan Dampak Serangan

Berdasarkan laporan dari pihak berwenang Iran dan dikutip Al Jazeera, jumlah korban tewas telah mencapai 1.300 orang dengan sekitar 10.000 warga terdampak langsung oleh serangan udara dan bombardir. Korban terdiri dari 1.262 warga sipil dan 190 personel militer, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA).

Situasi ini menunjukkan betapa luas dan intensnya serangan yang dilakukan AS dan Israel, yang tidak hanya menyasar target militer tapi juga infrastruktur sipil dan ekonomi yang vital.

Mojtaba Khamenei Terluka dalam Serangan

Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan mengalami luka-luka akibat bombardir yang terjadi selama konflik. Media pemerintah Iran menyebut bahwa Mojtaba "terluka dalam perang Ramadan" namun tidak merinci jenis luka yang diderita. Sumber dari New York Times mengonfirmasi Mojtaba mengalami cedera, termasuk di bagian kaki, meskipun masih sadar dan berlindung di lokasi aman dengan komunikasi terbatas.

"[Mojtaba] mengalami luka, termasuk di bagian kaki, tapi dia sadar dan berlindung di tempat paling aman," ujar sumber pejabat Iran.

Namun, anak Presiden Iran dan penasihat pemerintah, Yousef Pezeshkian, membantah kabar tersebut dan memastikan kondisi Mojtaba Khamenei dalam keadaan sehat.

Iran Siap Serang Aset Ekonomi AS dan Israel

Menanggapi serangan yang menargetkan bank di Teheran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kesiapan untuk membalas dengan menyerang aset ekonomi Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Komando Operasi Militer Pusat Khatam Al Anbiya menyampaikan bahwa mereka telah mendapat "kebebasan" untuk menargetkan pusat-pusat ekonomi dan perbankan yang terkait dengan kedua negara tersebut.

"Musuh sudah memberi kebebasan kita untuk menyasar pusat-pusat ekonomi dan bank yang terkait Amerika Serikat dan rezim zionis," tegas pernyataan militer Iran.

Serangan Drone di Pelabuhan Oman dan Ketegangan Selat Hormuz

Ketegangan tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga meluas ke laut. Pada Rabu, sebuah serangan drone menyebabkan kebakaran di salah satu tangki bahan bakar di Pelabuhan Salalah, Oman. Meski belum jelas siapa yang bertanggung jawab, insiden ini terjadi di tengah balasan Iran atas serangan yang menimpa Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menghubungi Sultan Oman Haitham bin Tariq untuk membahas insiden tersebut dan menyatakan akan melakukan penyelidikan.

Sementara itu, Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, semakin bergejolak. Iran menutup jalur tersebut sebagai respons terhadap serangan gabungan AS-Israel. Tiga kapal dagang, termasuk kapal berbendera Thailand, Jepang, dan Kepulauan Marshal, terkena proyektil tak dikenal, dengan satu kapal mengalami kebakaran.

Ketakutan dan Dampak di Israel

Konflik ini juga berdampak besar di wilayah Israel. Jutaan warga Israel dilaporkan tidak bisa tidur sepanjang malam karena serangan roket dan tembakan dari Iran dan Lebanon. Banyak dari mereka bergegas mencari perlindungan, namun sejumlah warga gagal masuk ke tempat aman.

Iran Tolak Gencatan Senjata

Menanggapi upaya internasional untuk menghentikan peperangan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menolak gagasan gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata sebelumnya, seperti yang terjadi pada perang 13 hari tahun lalu, telah dilanggar oleh pihak lawan dan tidak ingin mengulangi kondisi serupa.

"Perang ini harus diakhiri secara permanen. Kecuali kita mencapai hal itu, saya pikir kita perlu terus berjuang demi rakyat dan keamanan kita," ujar Araghchi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, eskalasi konflik Iran-AS dan Israel ini menandakan perubahan dramatis dalam dinamika geopolitik Timur Tengah, yang tidak hanya mempengaruhi keamanan regional tetapi juga pasar energi global melalui gangguan di Selat Hormuz. Penargetan aset ekonomi oleh Iran menunjukkan bahwa perang ini sudah melebar dari sekadar pertempuran militer menjadi perang ekonomi dan teknologi yang kompleks.

Selain itu, luka yang dialami Mojtaba Khamenei berpotensi memicu ketidakpastian politik di Iran, yang bisa memperburuk stabilitas internal negara tersebut. Ketegangan di Selat Hormuz dan insiden serangan drone di Oman menunjukkan bahwa konflik ini bisa berubah menjadi perang terbuka yang melibatkan negara-negara tetangga dan memperbesar risiko krisis kemanusiaan serta ekonomi global.

Pemirsa dan pembaca disarankan untuk terus memantau perkembangan terbaru karena situasi ini masih sangat dinamis dan dapat berubah dengan cepat. Perang ini tidak hanya soal kekuatan militer, tapi juga akan menentukan masa depan politik dan keamanan di kawasan yang sangat strategis ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad