Investigasi Bocor: Serangan AS Bunuh 168 Anak SD Iran Karena Salah Sasaran

Mar 12, 2026 - 12:30
 0  5
Investigasi Bocor: Serangan AS Bunuh 168 Anak SD Iran Karena Salah Sasaran

Jakarta, CNBC Indonesia – Penyelidikan militer yang tengah berlangsung mengungkap bahwa serangan rudal yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran pada 28 Februari 2026 merupakan salah sasaran dan diduga kuat dilakukan oleh militer Amerika Serikat (AS). Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 168 anak-anak dan 14 guru, memicu kemarahan dan keprihatinan dunia internasional.

Ad
Ad

Temuan awal ini pertama kali diungkap oleh The New York Times dan menunjukkan bahwa serangan rudal yang menghantam Sekolah Shajareh Tayyiba di kota Minab tersebut kemungkinan besar terjadi karena penggunaan data lama oleh militer AS yang mengira sekolah tersebut masih berada dalam kompleks pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Kesalahan Data dan Penyebab Serangan

Menurut beberapa sumber yang mengetahui hasil awal investigasi, Komando Pusat militer AS atau United States Central Command (CENTCOM) menggunakan koordinat target dari data lama yang disediakan oleh Defense Intelligence Agency (DIA). Data ini tidak diperbarui sehingga mengakibatkan rudal menghantam sekolah dasar yang sebenarnya sudah terpisah dari pangkalan militer sejak beberapa tahun lalu.

Citra satelit yang dianalisis menunjukkan pada tahun 2013 sekolah dan pangkalan IRGC berada dalam satu kompleks. Namun, pada 2016 sebuah pagar telah dibangun memisahkan kedua fasilitas tersebut, dan pada Desember 2025, citra menunjukkan aktivitas anak-anak yang bermain di halaman sekolah, menandakan sekolah aktif dan terpisah dari fasilitas militer.

Rekaman dan Bukti Rudal Tomahawk AS

Video serangan yang diperoleh CNN memperlihatkan rudal yang diperkirakan adalah BGM atau UGM-109 Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) buatan AS menghantam pangkalan IRGC. Sementara itu, kepulan asap besar terlihat dari arah sekolah Shajareh Tayyiba tak lama setelah serangan.

Pejabat Iran menemukan serpihan rudal di lokasi serangan, dan analisis pakar persenjataan menunjukkan bahwa fragmen tersebut konsisten dengan rudal Tomahawk. Rudal ini hanya diproduksi oleh kontraktor pertahanan AS Raytheon dan tidak dimiliki oleh Iran atau sekutu lainnya, termasuk Israel.

Reaksi Pejabat AS dan Proses Investigasi

Presiden AS saat ini, Donald Trump, mengaku tidak mengetahui laporan mengenai tanggung jawab AS terhadap serangan tersebut. Sebelumnya, Trump sempat menyebut kemungkinan Iran yang bertanggung jawab, namun tidak ada pejabat resmi yang mendukung klaim tersebut secara terbuka.

Juru bicara Pentagon dan CENTCOM menolak memberikan komentar lebih lanjut karena investigasi masih berlangsung. Sementara itu, Juru bicara Gedung Putih menegaskan bahwa penyelidikan masih berjalan sesuai laporan media.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa serangan ini akan diselidiki secara menyeluruh dan menegaskan AS berupaya menghindari korban sipil, sambil menuduh Iran melakukan serangan tak pandang bulu terhadap warga sipil.

Implikasi dan Dampak Serangan Salah Sasaran

  • Kematian massal anak-anak dan guru menimbulkan keprihatinan kemanusiaan yang mendalam.
  • Ketegangan diplomatik antara AS dan Iran semakin meningkat akibat insiden ini.
  • Kredibilitas militer AS dipertanyakan terkait akurasi intelijen dan prosedur target serangan.
  • Potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang sudah sangat rentan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, bocornya hasil investigasi ini membuka tabir penting tentang bagaimana kesalahan intelijen dapat berakibat fatal dalam konflik bersenjata, khususnya di wilayah sensitif seperti Iran yang memiliki banyak warga sipil. Tragedi kematian ratusan anak-anak tak berdosa ini bukan hanya persoalan kemanusiaan, tapi juga cerminan kegagalan sistem pengendalian dan verifikasi target dalam operasi militer AS.

Lebih jauh, insiden ini berpotensi memperburuk citra AS di mata dunia, khususnya di negara-negara Timur Tengah yang sudah sangat skeptis dengan intervensi militer asing. Kesalahan ini juga bisa menjadi bahan bakar bagi kelompok-kelompok radikal dan memperpanjang konflik yang sudah kompleks.

Ke depan, publik dan komunitas internasional harus mengawasi ketat hasil investigasi resmi dan menuntut transparansi serta akuntabilitas dari pihak-pihak yang terlibat. Langkah ini penting agar kesalahan serupa tidak terulang dan untuk menjaga agar korban sipil tidak menjadi korban yang terlupakan dalam konflik geopolitik.

Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya pembaruan intelijen secara rutin dan penggunaan teknologi canggih dalam operasi militer untuk meminimalisir risiko korban sipil.

Terus pantau perkembangan berita ini untuk informasi terbaru dan dampak lanjutan dari insiden memilukan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad