Mojtaba Khamenei Serukan Perlawanan Keras dan Ancaman Militer AS di Timur Tengah

Mar 13, 2026 - 08:40
 0  5
Mojtaba Khamenei Serukan Perlawanan Keras dan Ancaman Militer AS di Timur Tengah

Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru Iran, menyampaikan pidato perdana yang langsung menegaskan sikap keras terhadap Amerika Serikat dan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Pidato ini disampaikan setelah resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang meninggal dunia akibat serangan gabungan AS dan Israel pada awal konflik besar di Timur Tengah.

Ad
Ad

Pesan Perdana Mojtaba Khamenei: Persatuan dan Ancaman Militer AS

Pesan Khamenei disiarkan pada Kamis, 12 Maret 2026, melalui stasiun televisi resmi Press TV. Dalam pernyataannya, Khamenei menyerukan persatuan nasional Iran serta menegaskan sikap tegas untuk menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap musuh-musuh Teheran.

Yang paling menonjol dari pidato tersebut adalah ancaman langsung terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah tersebut:

"Semua pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang," tegas Khamenei, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Selain itu, Khamenei menegaskan bahwa serangan terhadap instalasi militer AS akan terus berlanjut dan menekankan dukungan kelompok bersenjata di kawasan, khususnya di Yaman dan Irak, dalam melawan tekanan terhadap Iran.

Apresiasi untuk Militer Iran di Tengah Tekanan Perang

Dalam pidatonya, Mojtaba Khamenei juga memberikan apresiasi kepada militer Iran yang menurutnya berhasil menjaga kedaulatan negara di tengah tekanan dan serangan militer yang datang dari luar:

"Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan diserang,"

Ia menegaskan bahwa Iran akan terus melanjutkan perlawanan tanpa kompromi.

Konteks dan Reaksi Terhadap Pidato Khamenei

Kematian Ali Khamenei pada 28 Februari lalu dalam serangan yang diduga dilakukan Amerika Serikat dan Israel meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang segera diisi oleh Mojtaba Khamenei berdasarkan keputusan Dewan Ahli Iran.

Namun, beberapa analis menilai pidato Mojtaba lebih banyak menonjolkan isu perlawanan bersenjata dan menghindari pembahasan masalah domestik yang krusial, seperti reformasi ekonomi dan pembangunan nasional. Analis Timur Tengah, Zeidon Alkinani, mengatakan:

"Fokus pada perlawanan bersenjata memungkinkan pemimpin tertinggi untuk menghindari diskusi tentang reformasi ekonomi, pembangunan negara, dan banyak isu fundamental lain yang penting bagi rakyat Iran."

Selain itu, pidato Khamenei tidak disampaikan langsung oleh dirinya, melainkan dibacakan oleh seorang penyiar televisi. Hal ini menimbulkan spekulasi terkait kondisi kesehatan dan legitimasi pemimpin baru tersebut di tengah situasi perang yang intens.

Dari sisi internasional, Presiden AS Donald Trump diprediksi tidak akan menerima keras pernyataan tersebut, mengingat pendekatan Trump yang menginginkan Iran memilih pemimpin yang lebih kompromistis terhadap tuntutan Washington.

Rob Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King's College London, menilai:

"Alih-alih perubahan retorika, kita justru mendengar lebih dari hal yang sama dari pemimpin baru Iran."

Respon Publik dan Pandangan Akademisi Iran

Di dalam negeri, sebagian kalangan menyambut baik sikap tegas Mojtaba Khamenei. Zohreh Kharazmi, akademisi University of Tehran, mengatakan banyak warga Iran mengapresiasi pesan tersebut sebagai bentuk keberanian menghadapi ancaman dari AS:

"Keamanan yang berkelanjutan adalah hak paling dasar dari sebuah bangsa. Khamenei menyampaikan posisi yang sangat sah yang didukung oleh jutaan warga Iran di sini."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pidato perdana Mojtaba Khamenei menandai kelanjutan sikap keras Iran di tengah konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Penekanan pada perlawanan militer dan penutupan Selat Hormuz mengindikasikan Iran tidak akan melunak terhadap tekanan AS dan sekutunya dalam waktu dekat.

Sikap ini berpotensi memperpanjang ketegangan dan memperbesar risiko eskalasi militer di kawasan yang sudah dilanda konflik berkepanjangan. Selain itu, tidak adanya sinyal pembahasan reformasi ekonomi dan sosial dari pemimpin baru berpotensi menimbulkan ketidakpuasan domestik yang bisa berdampak pada stabilitas dalam negeri Iran di masa depan.

Selanjutnya, publik internasional dan pengamat akan terus memantau bagaimana posisi Mojtaba Khamenei berkembang, terutama terkait kemampuan diplomasi dan keteguhan menghadapi tekanan global. Pidato yang disampaikan melalui perantara juga membuka ruang spekulasi yang harus segera diluruskan demi menjaga kredibilitas kepemimpinan baru Iran.

Kita perlu terus mengikuti perkembangan situasi ini karena dampaknya tidak hanya pada Iran, tetapi juga pada keamanan dan stabilitas regional serta hubungan internasional, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad