Harga Emas Anjlok Karena Panic Selling, Ancaman Badai Flush di Tengah Konflik Timur Tengah

Mar 13, 2026 - 09:21
 0  3
Harga Emas Anjlok Karena Panic Selling, Ancaman Badai Flush di Tengah Konflik Timur Tengah

Harga emas dan perak kembali merosot tajam di tengah berlangsungnya konflik di Timur Tengah yang terus memicu ketidakpastian pasar global. Data dari Refinitiv mencatat, pada perdagangan Kamis (12/3/2026), harga emas ditutup di posisi US$ 5.078,89 per troy ons, turun sebesar 1,9%. Penurunan ini memperpanjang tekanan terhadap harga emas, yang dalam dua hari terakhir telah jatuh 2,2%.

Ad
Ad

Harga emas pada posisi terendah sejak 5 Maret 2026, menembus level US$ 5.000 setelah selama empat hari berturut-turut bertengger di atas US$ 5.100. Meski demikian, pada Jumat (13/3/2026) pagi, harga emas sempat menguat tipis 0,25% menjadi US$ 5.091,38 per troy ons.

Pengaruh Geopolitik dan Faktor Ekonomi Terhadap Harga Emas

Secara tradisional, gejolak geopolitik seperti konflik Timur Tengah biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, fenomena panic selling dan kekhawatiran akan inflasi yang membayangi membuat investor menjadi gelisah dan harga emas justru mengalami tekanan.

Bank-bank besar tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas meskipun harga saat ini sedang melemah. Sebelumnya, selama perang singkat 12 hari dengan Iran tahun lalu, harga emas sempat melonjak dari US$ 5.296 ke US$ 5.423 per troy ons setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Namun, reli tersebut tidak bertahan lama dan harga kembali turun setelah pengumuman gencatan senjata.

Meski konflik terbaru sudah berlangsung dua minggu, harga emas masih relatif stabil di kisaran US$ 5.050 hingga US$ 5.200 per troy ons, tidak menunjukkan lonjakan signifikan yang diharapkan pasar.

Faktor Penghambat Kenaikan Harga Emas

Menurut Ross Norman, CEO Metals Daily, beberapa faktor utama yang menekan harga emas antara lain:

  • Penguatan dolar AS yang membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
  • Kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS yang meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
  • Kenaikan harga minyak yang dapat memicu inflasi berkepanjangan dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral.
  • Risiko penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital minyak dunia, yang menambah ketidakpastian pasar energi dan keuangan.

"Kenaikan suku bunga biasanya membuat investor lebih memilih obligasi daripada emas," ujar Norman kepada CNBC International. Ia juga menambahkan bahwa investor institusi kini lebih berhati-hati dalam memegang emas karena volatilitas harga yang tak biasa pasca konflik ini.

Badai "Flush" dan Panic Selling di Pasar Emas

Selain faktor ekonomi, mekanisme pasar juga berperan besar dalam penurunan harga emas. Amer Halawi, kepala riset di Al Ramz, menjelaskan bahwa kondisi panic selling dapat memicu terjadinya "flush" — situasi di mana para trader terpaksa menjual posisi mereka saat harga turun drastis agar likuiditas pasar tetap terjaga.

"Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual hingga pasar kembali stabil dan investor bisa fokus pada aset yang tepat," kata Halawi pada program "Access Middle East".

Menurutnya, hal ini adalah fenomena tradisional di mana harga emas dan logam mulia lain bisa turun terlebih dahulu dalam guncangan pasar, sebelum akhirnya kembali naik ketika sentimen membaik.

Harga Perak Juga Terkapar Lebih Dalam

Tidak hanya emas, harga perak pun mengalami penurunan yang lebih parah. Pada Kamis (12/3/2026), harga perak ditutup di US$ 83,91 per troy ons, turun 2,2%, sehingga total penurunan dalam dua hari terakhir mencapai 5,1%. Pada Jumat pagi, harga perak sedikit menguat 0,34% ke US$ 84,19 per troy ons.

Optimisme Bank Besar dan Prospek Harga Emas ke Depan

Meski volatilitas dan tekanan jangka pendek masih terjadi, sejumlah bank besar tetap mempertahankan pandangan positif terhadap harga emas. J.P. Morgan memproyeksikan harga emas akan mencapai US$ 6.300 per troy ons pada akhir tahun 2026, sementara Deutsche Bank menargetkan harga di level US$ 6.000 per troy ons.

Proyeksi ini didasarkan pada potensi berkepanjangan konflik Timur Tengah, risiko inflasi tinggi, dan kebijakan moneter ketat bank sentral yang tetap menjaga permintaan terhadap logam mulia sebagai lindung nilai inflasi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penurunan harga emas dalam situasi geopolitik yang memanas seperti ini menandakan dinamika pasar yang kompleks dan penuh tekanan. Panic selling dan mekanisme "flush" menunjukkan bahwa investor besar dan trader institusional sedang berusaha mengelola risiko dan likuiditas di pasar yang sangat volatile.

Hal ini juga menunjukkan bahwa emas tidak selalu berperilaku sebagai aset safe haven secara otomatis ketika terjadi konflik, terutama jika faktor ekonomi makro seperti penguatan dolar dan kenaikan suku bunga lebih dominan. Investor harus mewaspadai bahwa volatilitas harga emas bisa berlangsung lama sebelum tren kenaikan berkelanjutan kembali terbentuk.

Ke depan, perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan moneter AS akan menjadi faktor kunci yang harus dipantau. Jika inflasi tetap tinggi dan konflik berkepanjangan, peluang kenaikan harga emas masih terbuka lebar. Namun, risiko penurunan harga lebih dalam juga tetap ada bila pasar global memasuki fase koreksi likuiditas.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk berhati-hati dan memantau perkembangan pasar dengan cermat sambil mempertimbangkan diversifikasi aset dalam portofolio mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad