Bank Jago Catat Laba Rp 276 M, BCA Bagikan Dividen Rp 41 T Tahun 2025
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (12/3) lalu, turun 0,37% ke level 7.362,12. Meski demikian, beberapa saham unggulan seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Jago (ARTO) menunjukkan kinerja yang menarik dengan catatan laba dan dividen yang cukup signifikan untuk tahun buku 2025.
Kinerja Laba Bank Jago (ARTO) Meningkat Tajam
Bank Jago (ARTO) berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih setelah pajak sebesar 115% menjadi Rp 276 miliar pada tahun 2025, dibandingkan dengan Rp 129 miliar pada tahun sebelumnya. Lonjakan laba ini didorong oleh ekspansi penyaluran kredit yang tumbuh 38% menjadi Rp 24,30 triliun dari Rp 17,70 triliun pada 2024.
Perseroan mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan berbagai mitra strategis serta pengembangan layanan pinjaman "Jago Dana Cepat" menjadi faktor utama dalam peningkatan penyaluran kredit tersebut. Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga juga tumbuh signifikan sebesar 38%, mencapai Rp 25,90 triliun dari Rp 18,80 triliun pada tahun sebelumnya.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah bruto (gross NPL) yang rendah, yaitu 0,6%. Selain itu, jumlah nasabah Bank Jago juga bertambah hampir 3 juta menjadi sekitar 18,2 juta nasabah pada 2025, naik dari 15,3 juta pada 2024.
BCA (BBCA) Bagikan Dividen Tunai Rp 41,3 Triliun
Sementara itu, Bank Central Asia (BBCA) mengumumkan pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 41,3 triliun atau setara Rp 336 per saham. Nilai dividen ini mencerminkan dividend payout ratio sebesar 72% dari laba bersih perseroan, dengan sisanya dialokasikan sebagai laba ditahan guna memperkuat permodalan bank.
BBCA juga berencana menerapkan pembagian dividen interim hingga tiga kali setahun mulai tahun buku 2026, yang dijadwalkan setiap kuartal. Analis memperkirakan saham BBCA memiliki potensi untuk menguji area harga sekitar Rp 6.675 dalam jangka pendek.
Pengaruh Sentimen Global dan Pergerakan Pasar
Pergerakan pasar saham Indonesia tidak terlepas dari sentimen global yang saat ini sedang cukup menekan. Bursa saham Amerika Serikat kompak melemah, dengan indeks Dow Jones turun 1,56%, S&P 500 melemah 1,52%, dan Nasdaq terkoreksi 1,78%. Kekhawatiran meningkat akibat ancaman serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak Brent sebesar 10,40% ke US$101,60 per barel.
Lonjakan harga minyak ini menimbulkan kekhawatiran potensi gangguan pasokan energi global yang turut memengaruhi Indeks ETF Indonesia EIDO turun 1,92%, meski indeks MSCI Indonesia relatif stabil.
Rekomendasi Saham dan Outlook Pasar
- OILS: Buy pada harga 248-254 dengan target harga 260-268, stop loss 236.
- ESSA: Buy pada harga 735-755 dengan target harga 770-785, stop loss 700.
- SRTG: Buy pada harga 1550-1560 dengan target harga 1590-1615, stop loss 1480.
- ICBP: Buy pada harga 7500-7550 dengan target harga 7700-7850, stop loss 7100.
- MEDC: Buy pada harga 1715-1725 dengan target harga 1760-1805, stop loss 1620.
Perlu diingat bahwa rekomendasi ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi tetap bergantung pada profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kinerja positif Bank Jago yang mampu menggandakan laba bersihnya menunjukkan bahwa strategi ekspansi kredit dan kolaborasi dengan mitra strategis mulai membuahkan hasil. Pertumbuhan jumlah nasabah yang signifikan juga menandakan kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital banking yang semakin diminati di era saat ini.
Di sisi lain, keputusan BCA untuk membagikan dividen dengan payout ratio yang cukup tinggi menegaskan posisi solid bank ini sebagai institusi keuangan besar dengan arus kas yang sehat. Langkah memperkenalkan dividen interim tiga kali setahun dapat menarik minat investor dan meningkatkan likuiditas saham BBCA.
Namun, sentimen global yang tidak menentu, terutama terkait risiko geopolitik dan harga energi, akan menjadi faktor yang harus diwaspadai oleh investor dalam beberapa waktu ke depan. IHSG yang menurun dan pelemahan bursa AS memberi sinyal bahwa volatilitas pasar masih akan berlangsung.
Ke depan, penting bagi investor untuk memantau perkembangan global dan performa emiten unggulan seperti ARTO dan BBCA sebagai indikator kesehatan sektor perbankan dan pasar modal Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0