Serangan Israel Meluas ke Lebanon, Ratusan Tewas dan Pengungsian Besar-besaran

Mar 13, 2026 - 12:20
 0  2
Serangan Israel Meluas ke Lebanon, Ratusan Tewas dan Pengungsian Besar-besaran

Serangan udara Israel yang sebelumnya terfokus di wilayah Palestina kini meluas hingga ke Lebanon, khususnya ke ibu kota Beirut. Pada Kamis, 12 Maret 2026, serangan yang dilancarkan Israel menghantam kawasan pusat kota Beirut yang berdekatan dengan kompleks pemerintahan Lebanon, menewaskan sedikitnya 12 orang, dan menimbulkan kerusakan serius di kawasan padat penduduk tersebut.

Ad
Ad

Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militer Israel telah diperintahkan untuk memperluas kampanye militernya, termasuk ke Lebanon, dengan tujuan memberikan keamanan bagi masyarakat di wilayah utara Israel.

"Kami menjanjikan ketenangan dan keamanan kepada masyarakat di utara, dan itulah yang akan kami berikan," kata Katz dalam pertemuan dengan pejabat militer senior, seperti dikutip Reuters, Jumat (13/3/2026).

Serangan Udara di Beirut dan Dampaknya

Serangan udara Israel menghantam sebuah gedung di kawasan Bachoura, yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari kantor pemerintahan Lebanon, Grand Serail, pada pukul 17.30 waktu setempat. Militer Israel sebelumnya sudah mengeluarkan peringatan kepada warga agar menjauh dari kawasan yang diduga menjadi target fasilitas Hizbullah.

Selain Bachoura, serangan juga menyasar distrik Zuqaq al-Blat yang berdekatan. Pada serangan subuh di Beirut, kawasan tepi laut yang menjadi tempat puluhan keluarga pengungsi mendirikan tenda ikut menjadi sasaran. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dalam serangan tersebut.

"Siapa yang ada di tenda-tenda ini? Ada anak-anak, orang tua, dan perempuan di dalamnya. Israel... pembenaran apa yang akan mereka ciptakan untuk serangan tadi malam?" kata Abu Ali, seorang pengungsi yang menjadi saksi kejadian.

Korban lainnya, Mahmoud Kassem, mengungkapkan kesedihannya, "Hatiku hancur," saat melihat dampak serangan terhadap pengungsi yang tidak berdaya.

Korban Jiwa dan Gelombang Pengungsian Besar

Menurut data otoritas Lebanon, total korban tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan dan timur Lebanon serta pinggiran selatan Beirut kini telah mencapai 687 orang, termasuk 98 anak-anak, 62 perempuan, dan 18 tenaga medis. Angka ini menggambarkan dampak serius dari konflik yang semakin memburuk ini.

Selain korban jiwa, konflik ini memicu gelombang pengungsian masif. Lebih dari 800.000 orang meninggalkan rumah mereka setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi di wilayah selatan Lebanon, yang kini mencakup sekitar sepertiga wilayah negara tersebut.

Kepala militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan bahwa operasi militer ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. "Operasi ini tidak akan singkat. Kami akan membawa pasukan dan kemampuan tambahan ke utara... kami terus bergerak maju," ujarnya.

Latar Belakang dan Eskalasi Konflik

Konflik antara Israel dan Hizbullah meningkat tajam setelah kelompok militan tersebut menembakkan roket ke wilayah Israel pada 2 Maret 2026. Sejak saat itu, Hizbullah secara rutin melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel hampir setiap hari.

Militer Israel melaporkan bahwa pada Rabu malam, Hizbullah menembakkan sekitar 200 roket dan 20 drone secara simultan, disertai peluncuran rudal balistik dari Iran. Namun, menurut Zamir, hanya dua proyektil dari ratusan tersebut yang berhasil mengenai wilayah Israel.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, eskalasi serangan Israel ke Lebanon bukan hanya sekadar operasi militer biasa, melainkan sebuah pergeseran strategis yang berpotensi memperluas konflik di wilayah Timur Tengah. Serangan yang menyasar kawasan perkotaan seperti Beirut, termasuk area yang dihuni pengungsi, memperlihatkan tingkat risiko kemanusiaan yang semakin tinggi.

Gelombang pengungsian masif yang mencapai ratusan ribu orang menimbulkan krisis kemanusiaan yang harus menjadi perhatian dunia internasional. Konflik ini berpotensi memicu instabilitas politik dan sosial yang lebih luas di Lebanon, negara yang sudah lama menghadapi berbagai tantangan internal.

Ke depan, publik dan pengamat internasional harus mengawasi dengan seksama bagaimana respons komunitas global, termasuk PBB dan negara-negara besar, terhadap eskalasi ini. Upaya diplomasi dan gencatan senjata menjadi sangat krusial agar konflik tidak semakin meluas dan menimbulkan korban lebih banyak lagi.

Perkembangan konflik ini juga akan sangat menentukan stabilitas regional dan hubungan antarnegara di Timur Tengah, khususnya peran Iran yang mendukung Hizbullah dan keterlibatan Amerika Serikat yang bersekutu dengan Israel.

Untuk itu, pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan situasi ini agar mendapatkan informasi terbaru dan analisis mendalam yang dapat membantu memahami dinamika yang sedang berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad