Harga Minyak Melambung Tajam, IHSG Turun 1,07% di Awal Perdagangan

Mar 13, 2026 - 17:00
 0  5
Harga Minyak Melambung Tajam, IHSG Turun 1,07% di Awal Perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 1,07% pada awal perdagangan hari Jumat, 13 Maret 2026. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia yang terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Ad
Ad

Pada pukul 09.27 WIB, IHSG tercatat di level 7.284,41, dengan 463 saham turun, 151 saham naik, dan 344 saham stagnan. Transaksi saham mencapai nilai Rp 2,19 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 5,2 miliar saham dalam 321.800 kali transaksi.

Pasar Saham Asia Turun Seiring Kekhawatiran Harga Minyak

Penurunan IHSG pagi ini selaras dengan tren negatif di bursa saham Asia. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,3%, Indeks Nikkei 225 Jepang jatuh 2%, dan indeks Topix turun 1,4%. Di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok hampir 3%, sementara indeks Kosdaq yang berfokus pada saham berkapitalisasi kecil turun hampir 2%.

Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar atas pasokan minyak global yang terganggu oleh konflik yang diperkirakan akan berkepanjangan. Harga minyak dunia melonjak drastis, mencerminkan ketidakpastian pasokan energi utama dunia.

Harga Minyak Brent Melejit di Atas US$ 100 per Barel

Harga minyak mentah Brent mencapai US$ 100,72 per barel, menandai kenaikan tajam lebih dari 38% dalam kurang dari dua pekan. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 95,37 per barel.

Lonjakan harga ini disebabkan oleh serangan terhadap dua kapal tanker dan fasilitas pelabuhan minyak di perairan Irak, yang menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keamanan jalur navigasi di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak global, sehingga gangguan di sini berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia secara signifikan.

Pihak militer Iran bahkan memberikan peringatan bahwa harga minyak dapat meroket hingga US$ 200 per barel jika ketegangan terus meningkat. Hal ini semakin memperparah ketidakpastian pasar energi global.

Kondisi Politik dan Militer di Iran dan Dampaknya pada Pasokan Minyak

Di tengah operasi militer besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, intelijen AS menyatakan bahwa pemerintah Iran saat ini masih stabil dan struktur kepemimpinannya tetap utuh. Putra Khamenei, Mojtaba, telah menggantikan posisi pemimpin tertinggi untuk memastikan kestabilan rezim Teheran.

Kendati ada tawaran dari kelompok milisi Kurdi Iran untuk melakukan pemberontakan, opsi tersebut ditolak oleh Presiden Donald Trump karena keraguan atas kemampuan persenjataan kelompok tersebut.

Pemaparan publik pertama Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap musuh. Kebijakan ini semakin memperburuk kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia.

Ringkasan Dampak dan Implikasi bagi Pasar

  • IHSG turun tajam 1,07% mencerminkan reaksi negatif investor terhadap risiko geopolitik dan energi.
  • Harga minyak Brent melonjak ke level di atas US$ 100 per barel, meningkatkan risiko inflasi dan ketidakstabilan ekonomi global.
  • Pasar saham Asia secara umum melemah, menunjukkan kekhawatiran luas atas dampak konflik terhadap pertumbuhan ekonomi.
  • Ketegangan di Selat Hormuz sebagai jalur vital pengiriman minyak menjadi faktor kunci yang memicu volatilitas pasar.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga minyak dan penurunan IHSG ini bukan hanya reaksi sementara, melainkan indikasi awal dari ketidakpastian jangka menengah hingga panjang di pasar keuangan global. Konflik yang terus berlarut di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, akan membuat pasar energi dan saham rentan terhadap gejolak yang lebih besar.

Investor dan pelaku pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas harga minyak yang tinggi, yang berpotensi menekan sektor-sektor energi, logistik, dan industri manufaktur. Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga harus waspada terhadap dampak inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dapat memperberat biaya produksi dan kebutuhan pokok masyarakat.

Ke depan, perkembangan di kawasan Timur Tengah, kebijakan Iran terkait Selat Hormuz, serta respons diplomatik global akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar saham dan harga minyak dunia. Para pembaca disarankan untuk terus memantau berita terkini dan melakukan strategi investasi yang berhati-hati.

Situasi ini juga menegaskan pentingnya diversifikasi energi dan ketahanan pasokan nasional untuk mengurangi risiko eksternal yang berdampak pada ekonomi domestik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad