Perang Timur Tengah Bisa Picu Harga Minyak US$ 150, Risiko Berat bagi Ekonomi RI

Mar 14, 2026 - 01:41
 0  5
Perang Timur Tengah Bisa Picu Harga Minyak US$ 150, Risiko Berat bagi Ekonomi RI

Perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai US$ 150 per barel, memperingatkan Prasasti Center for Policy Studies. Kondisi ini membawa risiko serius bagi ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada impor energi dan bahan baku.

Ad
Ad

Ancaman Kenaikan Harga Minyak dan Gangguan Rantai Pasok

Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, menjelaskan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah berimbas pada keterbatasan suplai energi global. "Ini bukan hanya sekadar hambatan di Selat Hormuz, tapi juga menyerang kilang-kilang minyak yang berdampak sangat signifikan pada pasokan minyak dunia," ungkapnya dalam konferensi pers pada Jumat (13/3/2026).

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20-30% perdagangan minyak dunia. Gangguan di jalur ini menyebabkan shock pada rantai pasok energi global, memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.

Meski Badan Energi Internasional (IEA) berupaya meredam dampak dengan melepas cadangan minyak sebanyak 400 juta barel, Piter menilai konflik ini akan berlangsung lama dan harga minyak berpotensi terus meningkat.

Dampak Langsung pada Ekonomi Indonesia

Menurut Piter, risiko terbesar yang dihadapi Indonesia adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan memburuknya rantai pasok global. Beberapa dampak yang diperkirakan antara lain:

  • Kenaikan biaya logistik dan ekspor-impor, yang akan menaikkan harga produk dan memperlambat aktivitas perdagangan.
  • Gangguan suplai bahan baku industri yang sangat bergantung pada impor, sehingga produktivitas dan output industri berpotensi menurun.
  • Penurunan penerimaan pajak dari ekspor dan konsumsi akibat melemahnya aktivitas ekonomi.

"Meskipun Indonesia bukan negara eksportir minyak utama, ketergantungan pada impor energi dan bahan baku membuat kita sangat rentan terhadap guncangan ini," jelas Piter.

Strategi Pemerintah Menghadapi Risiko Kenaikan Harga Minyak

Piter menyampaikan ada tiga opsi kebijakan yang dapat diambil pemerintah Indonesia dalam menghadapi risiko kenaikan harga minyak akibat konflik ini:

  1. Mengikuti mekanisme pasar global tanpa subsidi – Harga BBM dalam negeri dinaikkan mengikuti harga pasar dunia. Kelebihan: menghindari pembengkiran anggaran subsidi. Kekurangan: bisa memicu inflasi tinggi dan menurunkan daya beli masyarakat.
  2. Menahan harga BBM domestik – Pemerintah menahan kenaikan harga untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kelebihan: meredam inflasi dan menjaga konsumsi. Kekurangan: beban subsidi APBN meningkat tajam.
  3. Subsidi sebagian kenaikan harga – Pemerintah menanggung sebagian biaya kenaikan, sisanya diteruskan ke konsumen. Pilihan ini dianggap paling realistis dan seimbang.

"Pilihan yang paling mungkin adalah sebagian kenaikan harga ditanggung pemerintah dan sebagian diteruskan ke konsumen," pungkas Piter.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, konflik Timur Tengah yang melibatkan negara-negara besar seperti AS dan Israel memiliki potensi besar untuk mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Lonjakan harga minyak hingga US$ 150 per barel bukan sekadar angka, tetapi sinyal peringatan berat bagi ketahanan energi dan ekonomi nasional.

Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor energi dan bahan baku industri harus mempersiapkan skenario mitigasi risiko yang matang. Pilihan kebijakan pemerintah perlu menyeimbangkan antara menjaga daya beli masyarakat dan mengelola beban subsidi agar tidak membebani APBN secara berlebihan.

Lebih jauh, dampak dari gangguan rantai pasok global berpotensi memicu inflasi yang menyeluruh di berbagai sektor. Oleh karena itu, selain kebijakan fiskal, perlu diperkuat pula diversifikasi sumber energi dan pengembangan industri dalam negeri agar ketergantungan impor bisa dikurangi dalam jangka panjang.

Kita harus mencermati perkembangan situasi geopolitik ini dengan seksama karena dampaknya tidak hanya bersifat sementara, melainkan bisa mengubah lanskap ekonomi dan energi nasional secara fundamental.

Kesimpulannya, lonjakan harga minyak akibat perang Timur Tengah adalah ancaman nyata yang harus diantisipasi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Kebijakan yang tepat dan kesiapan menghadapi risiko ini menjadi kunci utama menjaga stabilitas ekonomi nasional ke depan.

Terus ikuti perkembangan berita ini untuk informasi terbaru dan rekomendasi kebijakan yang dapat membantu menghadapi tantangan global yang dinamis ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad