Negara yang Paling Diuntungkan dari Perang Timur Tengah AS-Israel vs Iran

Mar 14, 2026 - 05:00
 0  3
Negara yang Paling Diuntungkan dari Perang Timur Tengah AS-Israel vs Iran

Perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran membawa dampak dramatis bagi kawasan Timur Tengah dan dunia internasional. Konflik ini tidak hanya mengganggu stabilitas politik, tapi juga memicu gejolak ekonomi global, terutama di sektor energi dan rantai pasok. Namun, di balik kekacauan tersebut, ada beberapa negara yang justru berpeluang meraih keuntungan strategis.

Ad
Ad

Dampak Langsung Perang pada Pasar Energi dan Lalu Lintas Maritim

Perang yang terjadi di wilayah penting seperti Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dunia—mendorong harga minyak melonjak hingga hampir menyentuh US$120 per barel. Gangguan pengiriman minyak dan gas dari Teluk Persia menaikkan biaya bahan bakar dan memicu kekhawatiran kelangkaan energi.

Selain itu, serangan terhadap kapal-kapal kargo di Selat Hormuz dan Laut Merah yang dilakukan oleh kelompok milisi Houthi yang didukung Iran memperparah gangguan lalu lintas maritim. Alternatif rute pengiriman melalui Afrika selatan menambah waktu pelayaran 10-14 hari dan biaya ekstra mencapai sekitar US$2 juta per kapal.

Rusia: Penerima Manfaat Strategis dan Finansial

Rusia, sebagai sekutu utama Iran sekaligus negara eksportir minyak besar, mendapat keuntungan ganda dari konflik ini. Pertama, perhatian militer AS yang teralihkan ke Iran mengurangi tekanan di medan perang Ukraina, terutama karena berkurangnya penggunaan rudal Patriot dan sistem pencegat AS. Menurut Nicole Grajewski, profesor dari Institut Ilmu Politik Paris, ini membatasi kemampuan militer AS dalam mendukung Ukraina.

Kedua, kenaikan harga minyak global memberi keuntungan finansial besar bagi Rusia. Dengan harga minyak yang semula di bawah US$60 per barel, lonjakan harga sekarang memungkinkan Rusia meningkatkan pendapatan ekspor, terutama ke pasar besar seperti China dan India. Bahkan India mendapat pengecualian sementara dari AS untuk membeli minyak Rusia kembali, yang sebelumnya dibatasi sanksi.

Meski demikian, ketergantungan Rusia pada dukungan drone dari Iran telah berkurang, karena Rusia kini mampu memproduksi teknologi serupa secara mandiri.

China: Tantangan dan Peluang Diplomatik

China sebagai importir minyak terbesar kedua di dunia belum merasakan dampak langsung yang signifikan dari konflik ini, karena hanya sekitar 12% minyak mentahnya berasal dari Iran dan negara ini memiliki cadangan minyak yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.

Namun, sektor ekspor China yang menyumbang sekitar 20% dari PDB berpotensi terdampak akibat gangguan jalur pengiriman. Terutama bila gangguan di Selat Bab el Mandeb berlanjut, produk China yang dikirim ke negara-negara Barat akan menghadapi keterlambatan dan biaya logistik meningkat.

Dari sisi diplomatik, konflik ini memberikan peluang bagi China untuk tampil sebagai penyeimbang yang bertanggung jawab dalam kancah internasional. Presiden Xi Jinping diperkirakan akan memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat citra stabil dan dapat diprediksi, berbeda dengan Presiden AS Donald Trump yang dianggap lebih tidak terduga.

Negara-negara Berkembang dan Asia Tenggara: Menghadapi Dampak Ekonomi Berat

Negara-negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah menghadapi tekanan besar. Kenaikan harga bahan bakar menyebabkan langkah penghematan drastis, seperti:

  • Vietnam menaikkan harga solar hingga 60% dan mendorong warga bekerja dari rumah.
  • Filipina mengurangi jam kerja pegawai sektor publik menjadi empat hari seminggu.
  • Pakistan memberlakukan pembatasan penggunaan bahan bakar dan mengalihkan pendidikan ke platform daring.
  • Bangladesh menerapkan sistem rasionalisasi BBM dengan kuota per hari untuk kendaraan.

Selain kelangkaan energi, dampak perang juga berpotensi memicu krisis pangan global. Sekitar 30% pasokan urea dunia—bahan baku utama pupuk yang diproduksi melalui penyulingan minyak mentah—melalui Selat Hormuz. Gangguan pasokan pupuk ini dapat mempengaruhi produksi pertanian, memicu inflasi, dan ancaman keamanan pangan dalam 6-9 bulan mendatang.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, konflik AS-Israel melawan Iran tidak sekadar soal kekuatan militer atau politik regional, tapi juga sebuah game-changer dalam geopolitik dan ekonomi global. Rusia menjadi pemenang tak terduga karena dapat memanfaatkan kondisi pasar energi yang kacau untuk menguatkan posisi ekonominya dan mengurangi tekanan di Ukraina. Ini merupakan contoh nyata bagaimana krisis di satu wilayah dapat membuka celah bagi kekuatan lain untuk mengonsolidasikan pengaruhnya.

China juga memanfaatkan konflik ini untuk memperkuat citra sebagai aktor global yang stabil, meskipun secara ekonomi menghadapi risiko dari gangguan logistik. Sementara itu, negara-negara berkembang, khususnya di Asia Tenggara, mungkin menghadapi dampak jangka panjang yang cukup berat, mulai dari kenaikan harga energi hingga potensi krisis pangan akibat gangguan pasokan pupuk. Hal ini menuntut kesiapan dan kebijakan adaptif yang lebih matang dari pemerintah di kawasan tersebut.

Ke depan, penting untuk terus memantau bagaimana perkembangan konflik ini memengaruhi stabilitas global dan ekonomi dunia. Perubahan aliansi, sanksi, maupun kebijakan energi akan sangat menentukan siapa yang benar-benar mendapatkan keuntungan atau justru menanggung beban paling berat dari perang ini.

Selalu ikuti update terbaru untuk mendapatkan wawasan lengkap seputar pergeseran geopolitik dan dampak ekonomi dari perang Timur Tengah ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad