Cadangan Minyak Terbesar Dunia Dilepas, Harga Minyak Justru Melonjak Tajam

Mar 15, 2026 - 04:00
 0  3
Cadangan Minyak Terbesar Dunia Dilepas, Harga Minyak Justru Melonjak Tajam

Amerika Serikat bersama lebih dari 30 negara lainnya secara resmi mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah, dengan harapan dapat menekan lonjakan harga minyak yang semakin mengkhawatirkan. Namun, upaya ini justru belum membuahkan hasil yang diharapkan karena harga minyak mentah dunia tetap melonjak tajam.

Ad
Ad

Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar dalam 50 Tahun

Koordinasi yang dipimpin oleh International Energy Agency (IEA) ini melibatkan negara-negara dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut yang sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global. Dari jumlah tersebut, AS menyumbang pelepasan terbesar yakni sekitar 172 juta barel, atau sekitar 43% dari total cadangan yang dilepas.

Ini menjadi langkah terbesar yang pernah dilakukan IEA selama hampir 50 tahun dalam menjaga keamanan energi anggotanya saat menghadapi krisis global. Namun, pelepasan ini belum mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia.

Harga Minyak Malah Melonjak Karena Faktor Geopolitik

Setelah pengumuman pelepasan cadangan pada awal Maret 2026, harga minyak mentah Brent justru naik lebih dari 17% dan bertahan di atas US$100 per barel selama dua sesi perdagangan berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.

Tamas Varga, analis dari PVM di London, menegaskan bahwa kondisi geopolitik menjadi faktor utama pengerek harga minyak saat ini. Insiden serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia, penutupan Selat Hormuz, serta sumpah pemimpin tertinggi Iran untuk menjaga jalur perdagangan tersebut tetap tertutup, menjadi pemicu utama ketegangan.

"Sampai transit diaktifkan kembali, pengumuman kebijakan semacam itu akan memiliki dampak terbatas,"
ujar Tom Liles, wakil presiden senior riset hulu di Rystad Energy.

Pasokan Minyak Terhambat, Pelepasan Cadangan Tidak Langsung Merata

Sebelum perang dan ketegangan regional, negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mengekspor sekitar 14 juta barel per hari (bpd). Namun, sekitar 5-6 juta bpd pasokan itu melewati jalur pipa yang berakhir di Laut Merah dan Teluk Oman, sementara sisanya sekitar 9 juta barel per hari hanya bisa melewati Selat Hormuz yang kini tertutup.

Ini berarti, meski pelepasan 400 juta barel cadangan terlihat besar, volume yang benar-benar bisa masuk pasar dalam jangka pendek sangat terbatas. Liles menjelaskan bahwa cadangan tersebut tidak serta-merta dilepaskan sekaligus, melainkan bertahap sesuai kemampuan pasar menyerapnya.

Stok Darurat dan Dampaknya Terbatas

Menurut analis Bernstein, gangguan pasokan minyak akibat konflik jauh lebih besar dibandingkan jumlah cadangan darurat yang dilepas IEA. AS sendiri akan melepas 172 juta barel selama 120 hari, setara dengan 1,4 juta barel per hari, yang hanya mencapai 15% dari pasokan yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz.

Lebih lanjut, diperlukan waktu sekitar 13 hari agar minyak dari cadangan darurat ini mulai memasuki pasar setelah otorisasi resmi dari Presiden AS Donald Trump. Negara anggota IEA lainnya juga akan menyesuaikan volume dan waktu pelepasan berdasarkan kondisi domestik masing-masing.

IEA terakhir kali mengerahkan cadangan darurat pada saat invasi Rusia ke Ukraina, dengan pencapaian puncak 1,3 juta barel per hari pada September 2022. Potensi peningkatan laju pelepasan hingga hampir 2 juta barel per hari mungkin masih bisa dilakukan, namun dampaknya hanya memberikan waktu tambahan tanpa benar-benar menyelesaikan krisis.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pelepasan cadangan minyak terbesar ini menunjukkan betapa kompleks dan rapuhnya pasar energi global saat ini. Langkah ini memang penting sebagai sinyal solidaritas internasional dan upaya bersama menstabilkan harga, namun tidak bisa menjadi solusi jangka panjang mengingat tantangan geopolitik yang belum mereda.

Ketidakpastian di kawasan Teluk Persia dan jalur strategis Selat Hormuz menjadi game-changer utama yang membuat pasokan minyak global sulit diprediksi. Bahkan pelepasan cadangan sebesar 400 juta barel pun belum mampu menurunkan tekanan harga secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap risiko geopolitik dan gangguan rantai pasok.

Ke depan, para pelaku pasar dan pemerintah perlu mengantisipasi dampak volatilitas yang berkepanjangan serta memperkuat diversifikasi sumber energi. Pemantauan situasi politik di Timur Tengah harus menjadi prioritas utama agar jalur perdagangan minyak dapat kembali stabil dan harga energi dunia tidak terus merangkak naik.

Dengan gambaran ini, masyarakat dan pelaku industri harus tetap waspada dan mengikuti perkembangan situasi agar dapat mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad