Pakar Sebut Trump Putus Asa Hadapi Iran di Tengah Ketegangan Memuncak
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas menarik perhatian banyak pengamat politik dunia. Profesor ilmu politik dari Universitas Chicago, Robert Pape, mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump sebenarnya sudah sangat putus asa dalam menghadapi situasi ini.
Donald Trump dan Upaya Mengendalikan Konflik dengan Iran
Pape dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Sabtu (14/3) menjelaskan, serangan AS ke pusat ekspor minyak mentah di Pulau Kharg, Teheran, merupakan tanda bahwa Trump mencoba mengembalikan kendali atas situasi yang semakin sulit dikendalikan. "Sulit untuk memahami pikiran siapa pun, apalagi pikiran Donald Trump. Tetapi saya pikir apa yang dia coba lakukan adalah mendapat kembali kendali atas situasi ketika dia kehilangan kendali dari jam ke jam, hari demi hari," ujar Pape.
Pulau Kharg sendiri memproses sekitar 90 persen ekspor minyak Iran dan menangani sekitar 950 juta barel minyak setiap tahunnya, sehingga menjadi target strategis dalam konflik ini.
Rencana dan Realita Konflik AS-Iran
Menurut Pape, rencana awal AS untuk menyerang Iran hanya dalam hitungan hari ternyata tidak berjalan mulus. AS terus menekan Iran setelah tujuan awal tak tercapai, sementara serangan balasan dari Tehran juga semakin intensif.
Tujuan utama AS dan sekutunya Israel adalah untuk menghancurkan rezim ulama di Iran serta program nuklir dan rudal balistik negara tersebut. Namun, hingga kini, tujuan itu belum tercapai secara sempurna.
"Dia pikir dia akan mendapatkan perubahan rezim dan bahwa kepemimpinan Iran akan runtuh seperti rumah kartu remi, tetapi dia kemudian mengatakan terkejut mereka tidak runtuh," jelas Pape.
Meski operasi militer AS-Israel berhasil menewaskan beberapa pejabat tinggi termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Iran tetap menunjukkan kekuatan kepemimpinan yang kokoh dan mekanisme transisi yang terstruktur.
Mekanisme Kepemimpinan dan Masa Depan Iran
Iran memiliki sistem pemilihan calon pemimpin tertinggi yang jelas dan terorganisir. Setelah kematian Khamenei, Iran langsung membentuk dewan pemerintah sementara dan menyiapkan pengganti melalui pemilihan Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang, yang sudah melalui proses seleksi ketat oleh Dewan Penjaga.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan militer luar, struktur politik dan kepemimpinan di Iran tetap stabil dan tidak mudah digoyahkan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pernyataan Profesor Robert Pape ini mengungkap sisi lain dari dinamika konflik antara AS dan Iran yang jarang dibahas. Putus asa yang dialami Trump menunjukkan bahwa pendekatan militer dan tekanan keras belum mampu menciptakan hasil yang diharapkan AS, bahkan berpotensi memperpanjang ketegangan dan konflik.
Lebih jauh, kegagalan dalam meruntuhkan rezim Iran menunjukkan bahwa kekuatan politik dan sosial dalam negeri Iran jauh lebih solid dan adaptif daripada yang diperkirakan. Hal ini menandakan bahwa solusi militer saja tidak akan menyelesaikan masalah, dan pendekatan diplomatik yang lebih matang mungkin perlu diperkuat.
Ke depan, publik dan pengamat internasional perlu memantau bagaimana AS akan menyesuaikan strateginya dalam menghadapi Iran, apakah akan terus mengedepankan tekanan militer atau merangkul jalan diplomasi yang lebih konstruktif. Konflik ini juga menjadi cermin penting bagi negara-negara lain terkait bagaimana menghadapi rezim yang kokoh di tengah tekanan luar.
Dengan situasi yang terus berkembang, penting bagi semua pihak untuk tetap mengikuti update terbaru, karena setiap langkah dalam konflik ini dapat berdampak luas pada stabilitas kawasan dan hubungan internasional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0