Iran Tegaskan Selat Hormuz Bebas Dilewati Kecuali Kapal AS dan Israel
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal-kapal yang bukan berasal dari Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan MS Now pada 15 Maret 2026, di tengah ketegangan yang berlangsung di wilayah tersebut.
Menurut Abbas Araghchi, "Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh Iran, yaitu mereka yang menyerang Iran dan sekutu mereka. Namun, bagi yang lain, jalur ini tetap dibuka dan dipersilakan untuk melintas."
Faktor Keamanan Jadi Alasan Banyak Negara Menghindari Selat Hormuz
Meski menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka, Menlu Iran tidak menampik fakta bahwa banyak negara enggan melewati selat strategis tersebut. Hal ini dikarenakan faktor keamanan yang dianggap berisiko tinggi, terutama di tengah konflik berkepanjangan antara Iran dan negara-negara Barat.
"Banyak negara lebih memilih untuk tidak melewati karena masalah keamanan, dan hal ini tidak bisa disalahkan pada Iran," ujar Abbas Araghchi.
Selat Hormuz memegang peranan kritis dalam ekonomi dunia, karena sekitar 20% dari pasokan minyak mentah global melewati jalur sempit ini. Oleh karena itu, keamanan di wilayah ini menjadi perhatian utama bagi negara-negara pengimpor minyak.
Negara-Negara yang Masih Melintasi Selat Hormuz
Hingga saat ini, terdapat sejumlah kapal tanker dan kapal dagang yang berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman. Dua negara yang diketahui tetap melakukan pelayaran melalui selat tersebut adalah India dan China. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun risiko keamanan tinggi, jalur ini tetap vital bagi kebutuhan energi dunia.
Namun, ketegangan yang terjadi di kawasan ini telah memicu kekhawatiran global. Amerika Serikat dan sekutunya terpaksa mengeluarkan cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel untuk menstabilkan harga minyak yang melonjak tajam akibat gangguan pasokan.
Dampak Konflik Terhadap Harga Minyak Global
Harga minyak mentah acuan dunia saat ini terus merangkak naik. Harga minyak WTI telah mencapai US$ 98 per barel, sementara Brent menembus US$ 103 per barel. Lonjakan harga ini tidak lepas dari kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Iran sendiri sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas beberapa insiden serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, termasuk kapal dari Thailand pada Rabu lalu. Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa setiap kapal yang ingin melewati selat ini harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pihak Iran.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pernyataan Iran ini menunjukkan strategi diplomasi yang selektif dan tegas dalam menjaga kedaulatan wilayahnya sekaligus mengirim sinyal kuat kepada AS dan Israel. Dengan menutup akses bagi kapal-kapal dari kedua negara tersebut, Iran memperlihatkan sikap protektif yang bisa memicu eskalasi ketegangan di kawasan.
Di sisi lain, keputusan banyak negara untuk menghindari Selat Hormuz menandakan bahwa risiko keamanan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika perdagangan minyak dunia. Hal ini berpotensi mengubah pola perdagangan energi global dan menekan harga minyak lebih lanjut.
Ke depan, penting untuk terus mengawasi respons dari negara-negara konsumen minyak utama serta bagaimana diplomasi internasional berkembang untuk menjaga stabilitas di Selat Hormuz. Konflik yang berkepanjangan dapat menimbulkan dampak luas, tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada keamanan dan politik global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0