IHSG Ambruk, Ini 10 Saham yang Diborong Investor Asing Pekan Lalu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren penurunan yang signifikan di tengah ketidakpastian pasar akibat sentimen konflik geopolitik global. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/3/2026), IHSG menutup sesi dengan koreksi tajam sebesar 3,05% ke level 7.137,21.
Sepanjang pekan, IHSG hanya mampu mencatat penguatan pada satu hari perdagangan saja. Secara keseluruhan, indeks pasar modal Indonesia ini terkoreksi 5,91% selama lima hari kerja terakhir, mencerminkan tekanan jual yang cukup besar dari pelaku pasar.
Seiring dengan pelemahan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih yang sangat besar, mencapai Rp1,72 triliun di seluruh segmen pasar. Rinciannya, Rp1,32 triliun berasal dari pasar reguler dan sisanya sebesar Rp399,76 miliar dari pasar negosiasi dan tunai.
Investor Asing Malah Borong 10 Saham Ini
Meskipun terjadi aksi jual bersih secara keseluruhan, menariknya investor asing juga melakukan pembelian bersih yang signifikan pada sejumlah saham pilihan selama pekan lalu. Berdasarkan data dari Indo Premier, berikut adalah 10 saham dengan net foreign buy terbesar di pasar modal Indonesia:
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) - Rp366,2 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) - Rp363,4 miliar
- PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) - Rp362,3 miliar
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) - Rp329,5 miliar
- PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) - Rp195,3 miliar
- PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) - Rp189,7 miliar
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) - Rp154,3 miliar
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) - Rp137 miliar
- PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) - Rp119,3 miliar
- PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) - Rp116,7 miliar
Daftar tersebut mencakup saham-saham dari sektor tambang, energi, infrastruktur, keuangan, dan manufaktur yang masih menarik minat investor asing meski pasar sedang melemah. Fenomena ini menunjukkan adanya seleksi yang cukup tajam dari investor asing dalam memilih saham berpotensi bertahan dan tumbuh di tengah gejolak pasar.
Faktor Penyebab Pelemahan IHSG
Pelemahan IHSG yang cukup drastis pekan lalu sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen negatif dari konflik geopolitik yang masih berlangsung, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global dan aliran modal masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Investor cenderung mengurangi risiko dengan melepas aset berisiko, termasuk saham-saham di pasar modal Indonesia.
Selain itu, data ekonomi global yang menunjukkan perlambatan juga memperkuat sentimen negatif, membuat IHSG sulit bertahan di zona hijau. Aksi jual asing yang besar juga menjadi salah satu faktor tekanan yang menekan indeks utama bursa saham Indonesia.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, meskipun IHSG mengalami koreksi tajam, minat investor asing pada saham-saham tertentu menunjukkan kepercayaan tersendiri terhadap fundamental sektor-sektor strategis seperti pertambangan, energi, dan infrastruktur. Ini bisa menjadi sinyal bahwa para investor masih mencari peluang jangka panjang di tengah ketidakpastian pasar jangka pendek.
Namun, koreksi yang cukup dalam tentu menjadi peringatan untuk seluruh pelaku pasar agar lebih berhati-hati dan selektif dalam mengambil posisi. Situasi geopolitik yang belum stabil berpotensi menyebabkan volatilitas pasar berlanjut di kuartal kedua tahun 2026. Investor disarankan memantau perkembangan global dan domestik secara ketat agar dapat mengantisipasi perubahan arah pasar.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada bagaimana dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global berkembang. Pelaku pasar dan investor disarankan untuk tetap waspada, memanfaatkan momentum beli pada saham-saham dengan fundamental kuat yang masih diminati asing, serta mengelola risiko dengan baik.
Terus ikuti perkembangan pasar dan berita terbaru untuk mendapatkan insight dan strategi investasi yang tepat di tengah situasi pasar yang dinamis ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0