Trump Mendesak NATO dan China Buka Selat Hormuz untuk Stabilkan Harga Minyak

Mar 16, 2026 - 13:30
 0  4
Trump Mendesak NATO dan China Buka Selat Hormuz untuk Stabilkan Harga Minyak

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan seruan mendesak kepada NATO dan China untuk turut serta mengawal dan membuka Selat Hormuz demi mengatasi panic buying yang membuat harga minyak dunia melonjak drastis. Permintaan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (15/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ad
Ad

Selat Hormuz: Jalur Vital Perekonomian Global

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia, yang menjadi akses utama pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke berbagai negara, termasuk Eropa dan Asia. Lebih dari 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap harinya, menjadikannya titik strategis yang sangat rentan terhadap gangguan keamanan.

Trump menegaskan bahwa Eropa dan China, sebagai pengimpor minyak terbesar dari kawasan tersebut, memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga keamanan Selat Hormuz agar pasokan minyak tetap lancar dan harga tidak semakin melambung tinggi.

"Sudah sepatutnya orang-orang yang diuntungkan dari selat itu membantu memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana," ujar Trump, dikutip dari AFP.

Ancaman dan Imbauan dari Trump

Dalam pernyataannya, Trump memperingatkan konsekuensi serius jika Eropa memberikan respons negatif terhadap ajakannya tersebut. Ia menyebutkan bahwa masa depan NATO bisa "sangat buruk" tanpa kerjasama yang solid dalam menjaga keamanan jalur minyak ini.

Selain itu, Trump juga mengancam China dengan kemungkinan membatalkan pertemuan penting dengan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan akhir bulan ini, jika Beijing menolak berpartisipasi dalam pengamanan Selat Hormuz.

Latar Belakang Krisis Minyak dan Ketegangan Regional

Harga minyak mentah Amerika Serikat telah menembus angka US$100 per barel pada pembukaan pasar Minggu malam, kenaikan yang dipicu oleh eskalasi perang antara AS dan Israel melawan Iran yang sudah memasuki pekan ketiga.

Ketegangan memuncak setelah Trump mengancam akan menyerang Pulau Kharg, lokasi terminal ekspor minyak utama Iran yang menyalurkan sekitar 90 persen produksi minyak mentah negara itu. Trump mengklaim AS telah "menghancurkan sepenuhnya" aset militer di pulau tersebut, meskipun bukan aset energi.

Balasan dari Iran datang dalam bentuk serangan drone ke fasilitas minyak di Timur Tengah, menandakan potensi gangguan lebih lanjut terhadap pasokan minyak global.

Seruan Global untuk Pengamanan Selat Hormuz

Merespons situasi ini, Trump pada Sabtu (14/3) mengimbau negara-negara Eropa, China, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengirim kapal pengawal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, ia menulis:

"Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut, dan kami akan membantu."

Permintaan ini mencerminkan kekhawatiran AS atas keamanan pasokan energi dunia yang dapat terganggu karena konflik yang sedang berlangsung, serta dampaknya pada ekonomi global.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tekanan yang dilontarkan Trump kepada NATO dan China bukan sekadar strategi diplomasi biasa, melainkan sinyal bahwa AS mulai kewalahan mengelola konflik yang berpotensi memicu krisis energi global. Dengan menuntut keterlibatan China, Trump juga berusaha memaksa negara adidaya yang selama ini bersikap netral untuk mengambil peran aktif dalam menjaga stabilitas kawasan yang juga menjadi sumber energi vital dunia.

Namun, langkah ini bisa memicu ketegangan baru pada hubungan AS-China, terutama jika Beijing menolak tuntutan tersebut. Selain itu, ancaman Trump membatalkan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dapat memperkeruh diplomasi, padahal kerjasama kedua negara sangat dibutuhkan untuk meredam konflik yang bisa berdampak luas.

Ke depan, publik dan pelaku pasar harus mengawasi respons konkret dari NATO, China, dan negara-negara besar lain terkait pengamanan Selat Hormuz. Keputusan mereka akan sangat menentukan apakah harga minyak bisa stabil kembali atau justru terus melonjak, yang berpotensi memperparah kondisi ekonomi global.

Situasi ini juga menjadi pengingat pentingnya diplomasi multilateral dalam mengatasi krisis geopolitik yang berimbas langsung pada kebutuhan pokok dunia seperti energi. Terus ikuti perkembangan terbaru agar tidak ketinggalan informasi penting terkait keamanan dan ekonomi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad