Drone Lucas Amerika Serikat: Versi 'KW' Shahed Iran yang Jadi Sorotan

Mar 17, 2026 - 07:51
 0  5
Drone Lucas Amerika Serikat: Versi 'KW' Shahed Iran yang Jadi Sorotan

Drone Lucas FLM 136 buatan Amerika Serikat kini tengah menjadi sorotan karena disebut sebagai versi tiruan dari drone Shahed-136 yang diproduksi oleh Iran. Perbandingan ini mencuat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa AS mengembangkan drone mirip dengan model Iran yang digunakan untuk menyerang negara-negara Arab.

Ad
Ad

Asal Usul dan Pengembangan Drone Lucas FLM 136

Drone Shahed-136 yang dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries, afiliasi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pertama kali muncul pada 2016. Drone ini merupakan pesawat tanpa awak otonom yang diluncurkan dari bak truk untuk serangan kamikaze, dan harganya diperkirakan antara US$20.000 hingga US$50.000 (sekitar Rp340 juta sampai Rp850 juta).

Sebagai respons, sejumlah perusahaan Amerika Serikat melakukan rekayasa balik dan mengembangkan versi drone mereka sendiri yang dinamakan FLM 136. Drone ini diperkenalkan pada tahun 2025 oleh perusahaan Spektreworks yang berbasis di Arizona. Sistem ini dikenal dengan istilah Low-cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS), sebuah drone tempur tanpa awak berbiaya rendah yang dapat dioperasikan oleh tim kecil serta mampu lepas landas dan mendarat secara otomatis.

Spesifikasi dan Kemampuan Drone Lucas vs Shahed

  • Ukuran: Drone Lucas memiliki panjang sekitar 3 meter dan lebar 2,5 meter, hampir identik dengan Shahed 136.
  • Berat: FLM 136 jauh lebih ringan dengan bobot 81,5 kilogram, dibandingkan Shahed yang mencapai 200 kilogram.
  • Kapasitas Muatan: FLM 136 mampu membawa muatan sekitar 18 kilogram, sedangkan Shahed dapat membawa hingga 50 kilogram.
  • Jangkauan dan Durasi Misi: Drone FLM 136 dapat melakukan misi serangan hingga enam jam dengan jangkauan sekitar 444 mil laut (sekitar 822 km).
  • Ketinggian Operasi: Mampu beroperasi pada ketinggian maksimum 15.000 kaki (4.500 meter).
  • Kecepatan: Kecepatan jelajah sekitar 137 km per jam dengan kecepatan maksimum mencapai 194 km per jam menggunakan mesin pembakaran internal.
  • Harga: Per unit diperkirakan sekitar US$35.000 (Rp595 juta), setara dengan biaya produksi Shahed 136.

Drone FLM 136 diluncurkan dari darat oleh Satuan Tugas Scorpion Strike (TFSS), sebuah unit di bawah Komando Pusat AS yang ditempatkan di Timur Tengah. Fungsi utama drone ini adalah melaksanakan serangan kamikaze satu arah, konsep operasi yang juga digunakan oleh drone Shahed 136.

Kontroversi dan Penggunaan Drone Lucas di Timur Tengah

Menurut pernyataan Abbas Araghchi yang dikutip dari Doha News, AS dan Israel telah menggunakan drone Lucas dalam serangan terhadap beberapa negara Arab. Hal ini memicu kritik dari Iran yang menilai drone tersebut adalah tiruan dari teknologi milik mereka.

"Kami juga baru-baru ini menerima informasi yang menunjukkan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara-negara Arab dari titik-titik tertentu," ujar Araghchi. "AS telah mengembangkan drone yang mirip dengan drone Shahed kami, yang disebut 'Lucas'. Drone ini digunakan untuk menyerang target di negara-negara Arab."

Penggunaan drone seperti FLM 136 menunjukkan bagaimana teknologi militer tanpa awak semakin berkembang dan menjadi alat strategis dalam konflik regional, khususnya di Timur Tengah.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kemunculan drone Lucas FLM 136 sebagai versi 'KW' dari Shahed-136 Iran menandai eskalasi kompetisi teknologi militer antara negara-negara Barat dan Iran. Walaupun secara ukuran dan kemampuan drone Lucas lebih ringan dan memiliki kapasitas muatan yang lebih kecil, keberadaannya menunjukkan bahwa AS berupaya cepat meniru dan memanfaatkan teknologi drone otonom untuk operasi tempur yang lebih murah dan efektif.

Lebih jauh, penggunaan drone ini di kawasan Timur Tengah memperlihatkan perubahan paradigma perang modern yang semakin mengandalkan serangan presisi jarak jauh dengan risiko minimal bagi operator. Namun, hal ini juga berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik karena serangan drone dapat memicu konflik berkepanjangan dan kerusakan yang sulit dikendalikan.

Ke depan, publik dan pengamat internasional perlu memperhatikan bagaimana regulasi dan etika penggunaan drone tempur ini akan berkembang. Apakah teknologi ini akan semakin menyebar ke negara lain? Bagaimana dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan hukum perang internasional? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting seiring meluasnya penggunaan drone seperti Lucas dan Shahed dalam konflik militer.

Untuk itu, tetap ikuti perkembangan terbaru tentang teknologi drone dan dinamika konflik di Timur Tengah agar mendapatkan gambaran komprehensif mengenai implikasi strategisnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad