Bahaya Kepribadian Trump: Psikolog Ungkap Sifat Agresif dan Rendah Empati

Mar 18, 2026 - 10:10
 0  2
Bahaya Kepribadian Trump: Psikolog Ungkap Sifat Agresif dan Rendah Empati

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menimbulkan kekhawatiran dunia dengan membuka kemungkinan melakukan serangan lanjutan terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara bersama NBC News, di mana Trump mengaku telah menghancurkan sebagian besar fasilitas strategis di pulau tersebut.

Ad
Ad

Tak hanya itu, Trump menyatakan dengan nada santai bahwa serangan tambahan dapat dilakukan "beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang". Pernyataan ini menimbulkan keprihatinan serius mengingat potensi eskalasi konflik yang bisa berdampak luas.

Kepribadian Trump Menurut Psikolog

Psikolog Dan P. McAdams dari Universitas Northwestern pernah meneliti kepribadian Trump pada 2016. Melalui wawancara dengan sejumlah orang dan perbandingan dengan presiden AS sebelumnya, McAdams menggambarkan Trump sebagai sosok yang temperamen tinggi, impulsif, dan rendah empati.

"Profil temperamen Trump, dengan ekstroversi tinggi dan keramahan rendah, memperoleh kekuatannya dari impulsivitas yang diwarnai kemarahan," ujar McAdams dalam wawancara dengan The Guardian.

Kepribadian seperti ini, menurut McAdams, menghasilkan karisma yang memunculkan perasaan bahaya sekaligus kegembiraan. Namun, impulsif dan kemarahan yang mudah muncul menghalangi kemampuan Trump untuk menunjukkan kepedulian, kasih sayang, atau empati kepada orang lain.

Impulsivitas dan Narsisme Sebagai Ciri Khas

Sejak masa sekolah di New York Military Academy, Donald Trump sudah dikenal gigih mengejar tujuan narsistik, yakni mempromosikan dan memuliakan diri sendiri. Ia terkenal dengan kebiasaannya memamerkan nama dan prestasi secara berlebihan, mulai dari gedung pencakar langit, kasino, hingga universitas dan produk lainnya.

McAdams menegaskan bahwa impulsivitas Trump sangat sejalan dengan tujuan hidup utamanya, yakni mengedepankan citra diri dan kepentingan pribadi. Hal ini tercermin dari sikap Trump yang enggan meredam kemarahan atau mundur sejenak untuk memahami situasi dan orang lain.

  • Karakter impulsif dan mudah marah membuat Trump sulit menunjukkan empati.
  • Kepribadiannya yang ekstrovert tapi tidak ramah berbeda dengan presiden AS lain seperti George W. Bush dan Bill Clinton yang dominan namun tetap bersahabat.
  • Sifatnya yang agresif dan narsistik membuatnya sering mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampak kemanusiaan.

Filosofi Hidup Trump dan Implikasinya

Dalam buku "The Art of the Deal", Trump menguraikan filosofi hidupnya yang sederhana: saat diserang, balaslah dengan keras. Prinsip ini menandai sikapnya yang agresif dan cenderung membalas semua kritik atau ancaman tanpa kompromi.

Filosofi ini juga tercermin dari tindakannya yang dianggap kontroversial, seperti mengusir imigran, dan ketidaksenangannya terhadap pihak-pihak yang dianggap menghalangi ambisinya, termasuk lawan politik dan korban kebijakan yang dia ambil.

Menurut pengamat, sikap tanpa empati ini berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan, baik di dalam negeri Amerika Serikat maupun di panggung internasional.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan Trump yang mengancam serangan berulang ke Pulau Kharg bukan sekadar retorika politik, melainkan cerminan karakter kepribadian yang berbahaya dan berisiko memperburuk situasi geopolitik Timur Tengah. Kepribadian impulsif dan rendah empati ini bisa mendorong keputusan-keputusan yang kurang mempertimbangkan dampak kemanusiaan dan stabilitas regional.

Lebih jauh, sifat agresif dan narsistik Trump yang terus berulang selama masa kepemimpinannya menimbulkan ketidakpastian bagi sekutu maupun musuh Amerika Serikat. Dunia harus mewaspadai bahwa tindakan impulsif ini berpotensi mengakibatkan eskalasi konflik yang sulit dikendalikan.

Ke depan, perhatian publik dan pengamat internasional harus difokuskan pada bagaimana kebijakan dan tindakan Trump dapat memengaruhi perdamaian dunia. Sikapnya yang cenderung membalas dengan kekerasan menggarisbawahi perlunya pendekatan diplomasi yang lebih kuat dan kesiapan menghadapi potensi konflik yang tidak terduga.

Terus ikuti perkembangan berita ini untuk memahami dampaknya terhadap stabilitas global dan upaya diplomasi yang sedang berjalan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad