Marsha Timothy: Pembatasan Media Sosial Penting untuk Tumbuh Kembang Anak di Era Digital
Jakarta, InfoPublik – Kehadiran regulasi terbaru dalam perlindungan anak di ruang digital yakni Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau dikenal sebagai PP Tunas mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, terutama pelaku industri kreatif. Salah satu tokoh yang memberikan dukungan kuat adalah aktris ternama, Marsha Timothy.
Peran PP Tunas dalam Membantu Orang Tua Mengawal Anak di Dunia Digital
Menurut Marsha Timothy, regulasi tersebut sangat krusial untuk menjadi penguatan bagi para orang tua dalam mengawal pertumbuhan dan perkembangan anak di era digital yang semakin kompleks. Ia menegaskan bahwa tantangan pengasuhan saat ini tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik, tetapi juga pada dunia digital yang terbuka luas dan penuh risiko.
“Saya sangat menyambut dengan bahagia adanya PP Tunas. Ini membantu kita sebagai orang tua untuk menjaga tumbuh kembang anak di dunia digital,” ujar Marsha dalam acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Menkomdigi pada Rabu, 18 Maret 2026.
Marsha menjelaskan bahwa dalam keluarganya sendiri, pembatasan akses terhadap media sosial dan permainan daring yang memungkinkan interaksi dengan orang asing diterapkan secara ketat. Anak-anak memang diberikan perangkat digital, namun aksesnya dibatasi untuk hal-hal tertentu yang berpotensi membahayakan.
Pentingnya Komunikasi dan Edukasi Sejak Dini
Lebih lanjut, Marsha menegaskan bahwa pembatasan tersebut bukan pendekatan sepihak, melainkan melalui komunikasi intensif dan edukasi sejak usia dini. Ia memperkenalkan risiko dunia digital kepada anaknya sejak mereka berusia delapan hingga sembilan tahun, seiring dengan peningkatan paparan dari lingkungan sosial dan pertemanan.
- Anak tidak diperkenankan memiliki akun media sosial.
- Akses bermain gim yang berinteraksi dengan orang asing sangat dibatasi.
- Edukasi risiko siber dan penipuan diberikan secara bertahap dan terbuka.
“Anak perlu tahu bahwa larangan itu bukan sekadar menakut-nakuti, tetapi memang ada risiko nyata di luar sana. Dengan begitu, dia bisa lebih mengerti dan menerima,” jelas Marsha.
Menurutnya, komunikasi terbuka menjadi kunci agar anak memahami alasan pembatasan, bukan hanya sekadar patuh tanpa pengertian. Pendekatan ini juga membantu anak menghadapi tekanan sosial dari teman sebaya yang sudah lebih dulu menggunakan media sosial.
Sinergi Regulasi dan Peran Keluarga untuk Perlindungan Anak
Pengalaman Marsha menggarisbawahi bahwa keberhasilan perlindungan anak di ruang digital tidak hanya bergantung pada regulasi semata, tetapi juga pada peran aktif keluarga dalam pola asuh yang adaptif dan komunikatif. Sinergi antara kebijakan pemerintah seperti PP Tunas dan pendekatan edukatif keluarga menjadi kunci utama menciptakan ruang digital yang aman dan kondusif bagi anak-anak.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat cepat, pendekatan edukatif dan komunikasi efektif lebih diutamakan dibandingkan pelarangan total. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya terlindungi dari risiko digital, tetapi juga dibekali literasi digital yang memadai untuk menghadapi tantangan masa depan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, dukungan Marsha Timothy terhadap PP Tunas merefleksikan kebutuhan mendesak akan regulasi yang mengimbangi perkembangan teknologi dan perilaku digital anak. Pembatasan media sosial bukan hanya soal membatasi kebebasan anak, melainkan langkah strategis untuk melindungi psikologis dan sosial mereka dalam dunia yang semakin digital.
Namun, yang sering terabaikan adalah pentingnya peran orang tua sebagai pendamping aktif dalam proses ini. Regulasi tanpa dukungan komunikasi keluarga yang baik akan sulit efektif. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah harus mendorong edukasi literasi digital bagi orang tua agar mereka mampu menjadi pelindung sekaligus pembimbing anak dalam menikmati dunia digital secara sehat.
Ke depan, PP Tunas bisa menjadi model kebijakan nasional yang tidak hanya melindungi anak, tetapi juga mempersiapkan generasi muda Indonesia menghadapi tantangan global dengan bekal digital literacy yang kuat. Pembaca sebaiknya terus mengikuti perkembangan implementasi kebijakan ini dan peran aktif keluarga dalam pengasuhan digital.
Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan penuh dari keluarga, masa depan anak-anak Indonesia di era digital bisa lebih terjamin, aman, dan produktif.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0