Harga Minyak Tembus US$103 Akibat Memudarnya Harapan Damai AS-Iran

Mar 26, 2026 - 14:21
 0  5
Harga Minyak Tembus US$103 Akibat Memudarnya Harapan Damai AS-Iran

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak dan menembus level US$103 per barel pada Kamis, 26 Maret 2026, setelah Iran mengumumkan masih meninjau proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS). Kenaikan ini mencerminkan memburuknya prospek penyelesaian damai antara kedua negara yang tengah berkonflik.

Ad
Ad

Situasi Terkini Konflik AS-Iran dan Dampaknya pada Harga Minyak

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya belum berniat untuk memulai pembicaraan yang dapat mengakhiri perang dengan AS dan Israel yang pecah sejak 28 Februari 2026. Sikap keras ini berbanding lurus dengan posisi AS yang juga tidak melunak. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump akan memberikan tekanan militer lebih besar jika Iran tidak mengakui kekalahan mereka secara militer.

Ketidakpastian politik ini langsung berimbas pada pasar minyak global. Pada hari yang sama, harga minyak mentah berjangka Brent naik sebesar US$1,13 atau 1,1 persen menjadi US$103,35 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,08 atau 1,2 persen menjadi US$91,40 per barel.

Hal ini berbalik dari kondisi sehari sebelumnya, ketika harga minyak Brent dan WTI sempat turun hingga 2 persen di bawah level US$100 per barel karena harapan perdamaian sempat muncul.

Dinamika Negosiasi Damai dan Pengaruhnya pada Pasokan Minyak

Menurut ekonom senior dari NLI Research Institute, Tsuyoshi Ueno, optimisme terhadap gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran mulai memudar. Ia menilai tuntutan dalam proposal perdamaian AS kepada Iran sangat berat, sehingga peluang tercapainya kesepakatan sulit terjadi.

"Optimisme terkait gencatan senjata telah memudar," ujar Tsuyoshi, dilansir dari Reuters.

Proposal AS yang dikirim melalui perantara Pakistan berisi 15 poin, termasuk tuntutan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal balistik, dan memutus pendanaan bagi sekutu Iran di kawasan. Tuntutan ini dianggap sangat membatasi dan sulit diterima oleh Teheran.

Konflik yang terus berlanjut menyebabkan gangguan signifikan pada pengiriman minyak mentah global lewat Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar dunia. Penutupan selat ini, menurut Badan Energi Internasional (IEA), merupakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Respons Pasar dan Tindakan Negara-Negara Terkait

Di tengah ketegangan tersebut, beberapa negara melakukan langkah strategis. India dilaporkan membeli kargo gas petroleum cair (LPG) pertama dari Iran dalam beberapa tahun terakhir setelah AS menangguhkan sementara sanksi terhadap minyak dan bahan bakar olahan Iran.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah meminta Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, untuk mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak tambahan secara terkoordinasi sebagai langkah antisipasi terhadap konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.

  • Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya energi global.
  • Gangguan pasokan lewat Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar minyak dunia.
  • Negosiasi perdamaian yang sulit memicu volatilitas harga minyak.
  • Langkah negara-negara besar seperti India dan Jepang menunjukkan pentingnya diversifikasi pasokan energi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kenaikan harga minyak yang menembus US$103 per barel ini bukan sekadar reaksi pasar terhadap berita terbaru, tetapi juga mencerminkan ketidakpastian geopolitik yang semakin dalam. Memudarnya harapan damai antara AS dan Iran berpotensi memperpanjang konflik yang bisa berimbas pada stabilitas pasokan energi global. Jika konflik berlarut, harga minyak dunia kemungkinan akan terus bergejolak dan memberikan tekanan tambahan pada ekonomi negara-negara pengimpor minyak.

Lebih jauh, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz menimbulkan risiko sistemik yang harus diwaspadai oleh pasar dan pemerintah. Negara-negara konsumen minyak besar harus segera memperkuat cadangan energi dan mencari alternatif pasokan agar tidak terjebak dalam krisis energi berkepanjangan.

Kedepannya, penting untuk memantau perkembangan negosiasi damai dan respons militer kedua belah pihak karena hal tersebut akan menjadi faktor penentu utama pergerakan harga minyak dunia. Pemangku kepentingan di sektor energi harus siap menghadapi ketidakpastian yang mungkin meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Untuk informasi lengkap dan update terkini, terus ikuti berita terpercaya seperti dari CNN Indonesia dan sumber resmi lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad