CEO BlackRock: Harga Minyak US$150 per Barel Bisa Picu Resesi Global

Mar 26, 2026 - 13:41
 0  3
CEO BlackRock: Harga Minyak US$150 per Barel Bisa Picu Resesi Global

Jakarta, CNBC Indonesia – CEO BlackRock, Larry Fink, mengeluarkan peringatan serius terkait potensi resesi global jika harga minyak dunia melonjak tajam hingga US$150 per barel. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah, yang telah mendorong kenaikan harga energi secara signifikan.

Ad
Ad

Dalam wawancara eksklusif di podcast BBC, Fink menilai bahwa saat ini masih terlalu dini untuk memastikan dampak jangka panjang dari konflik tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa situasi ini berpotensi bergerak ke dua arah ekstrem yang sangat berbeda.

"Bagi saya, semua orang harus menyadari bahwa tidak akan ada hasil yang berada di tengah-tengah. Akan ada dua ekstrem," ujar Fink, dikutip Kamis (26/3/2026).

Skenario Harga Minyak dan Dampaknya bagi Ekonomi Global

Fink memaparkan dua skenario utama terkait perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga minyak:

  1. Meredanya konflik: Jika ketegangan berkurang dan Iran kembali berperan aktif dalam perdagangan minyak global, pasokan minyak bisa meningkat. Hal ini berpotensi menstabilkan harga energi dan memulihkan pertumbuhan ekonomi dunia.
  2. Ketegangan berkepanjangan: Jika konflik terus berlanjut dan Iran tetap menjadi ancaman di kawasan, harga minyak berpotensi bertahan di atas US$100 per barel dan bahkan mendekati US$150 per barel dalam jangka panjang. Kondisi ini akan membawa dampak negatif besar terhadap ekonomi global.

Menurut Fink, "implikasi harga minyak US$40 adalah tentang kelimpahan dan pertumbuhan, sedangkan yang lainnya adalah akibat dari resesi yang mungkin parah dan tajam."

Lonjakan Harga Energi Akibat Konflik Timur Tengah

Lonjakan harga minyak ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi minyak global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Saat ini, harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$103 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$91 per barel.

Kenaikan harga energi ini pun mulai dirasakan langsung oleh konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata melonjak hingga US$3,98 per galon, naik lebih dari US$1 dibandingkan bulan sebelumnya. Pemerintah AS mengambil berbagai langkah, seperti meningkatkan produksi minyak domestik, memanfaatkan cadangan minyak strategis, dan melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak dari Iran, Rusia, dan Venezuela, untuk menahan lonjakan harga tersebut.

Dampak pada Industri dan Respons Korporasi

CEO United Airlines, Scott Kirby, juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa harga energi tinggi berpotensi bertahan hingga tahun depan. Ia menyatakan:

"Saya pikir jika Anda mulai melihat apa yang terjadi di Timur Tengah dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih, itu merupakan asumsi yang masuk akal bagi kita."

Antisipasi terhadap kenaikan biaya energi yang berkelanjutan membuat maskapai ini berencana mengurangi jumlah penerbangan guna meredam dampak dari lonjakan biaya tersebut. Kirby menambahkan, "Kami berharap situasinya membaik, tetapi biaya perencanaan untuk hal seperti itu cukup kecil. Kami akan mengurangi sedikit penerbangan daripada biasanya, namun tetap bersiap untuk skenario harga minyak tinggi dalam jangka panjang."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, peringatan Larry Fink bukan hanya soal harga minyak yang tinggi, melainkan juga sinyal kuat bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dapat mengguncang stabilitas ekonomi dunia secara serius. Lonjakan harga minyak hingga US$150 per barel bukanlah skenario mustahil jika konflik terus berlanjut tanpa solusi diplomatik yang efektif.

Dampak ekonomi dari harga energi yang tinggi tidak hanya akan dirasakan di sektor industri dan konsumen, tetapi juga berpotensi memicu inflasi global dan memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku industri harus mempersiapkan strategi mitigasi risiko jangka panjang, termasuk diversifikasi sumber energi dan penguatan kerja sama internasional.

Ke depan, penting bagi publik dan pelaku bisnis untuk terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah dan kebijakan pemerintah terkait energi. Skenario harga minyak yang fluktuatif ini bisa menjadi game-changer bagi perekonomian global, sehingga kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk sangat krusial.

Untuk informasi terbaru dan analisis mendalam lainnya, kunjungi sumber asli berita di CNBC Indonesia dan laporan internasional terpercaya seperti Reuters.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad