AI Agentik: Mengapa AI yang Bisa Bertindak Mandiri Jadi Tren Besar Industri Teknologi
- Apa Itu AI Agentik dan Mengapa Jadi Sorotan?
- Asal Usul dan Kontradiksi Makna 'Agentik'
- Masalah Prioritas dan Konflik Agen dalam AI Agentik
- Apakah AI Agentik Mengurangi atau Justru Meningkatkan Agensi Manusia?
- Agentik dalam Dunia Kerja dan Budaya Teknologi
- AI Agentik: Belum Siap Menggantikan Manusia
- Analisis Redaksi
AI agentik kini menjadi istilah yang semakin populer dalam dunia teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Berbeda dengan AI biasa yang hanya mengotomasi satu tugas tertentu, AI agentik mampu mengotomasi seluruh proses dengan sedikit campur tangan pengguna. Namun, istilah agentik ini sendiri menyimpan berbagai makna dan kontroversi, yang penting untuk dipahami di tengah perkembangan pesat teknologi AI saat ini.
Apa Itu AI Agentik dan Mengapa Jadi Sorotan?
Pada awal tahun ini, mantan CEO Google, Eric Schmidt, memberikan nasihat yang menarik di World Economic Forum di Davos, Swiss. "Jika Anda benar-benar ingin kaya, itu sebenarnya mudah," ujarnya. "Dirikan perusahaan AI agentik." Pernyataan ini menegaskan betapa besar harapan industri terhadap AI jenis ini.
AI agentik tidak hanya menjalankan perintah satu per satu seperti menghasilkan gambar setelah diminta, tetapi bisa mengelola seluruh rangkaian proses secara mandiri. Contohnya, AI agentik dapat diprogram untuk membuat software lengkap, merencanakan dan memesan liburan, atau bahkan membuat lowongan kerja dan menyeleksi pelamar tanpa harus diarahkan pada setiap langkahnya.
Para CEO, investor, dan profesional di LinkedIn bahkan menyebut AI agentik sebagai masa depan yang sudah tiba dan tak terelakkan. Seperti kata John Horton, ekonom dan profesor asosiasi di MIT Sloan, "Ini adalah kata yang berguna untuk menggambarkan perangkat lunak yang bertindak lebih mirip manusia."
Asal Usul dan Kontradiksi Makna 'Agentik'
Sebelum menjadi istilah teknologi, agentik berasal dari ilmu sosial yang menggambarkan kapasitas seseorang untuk memengaruhi hasil melalui tindakannya sendiri. Kamus Oxford mencatat penggunaan awal istilah ini pada tahun 1966 oleh psikolog David Bakan untuk menjelaskan kualitas asertif diri.
Agentik dimaksudkan untuk menggambarkan orang atau entitas yang memiliki agen atau kemampuan bertindak. Namun, kata "agen" sendiri memiliki dua makna berlawanan: kemampuan individu bertindak bebas atau pihak yang bertindak atas nama orang lain. Misalnya, pemain baseball bebas dapat menandatangani kontrak dengan tim mana pun, sementara agennya berkewajiban menegosiasikan kontrak sesuai kepentingan pemain tersebut.
Ketegangan makna ini menciptakan pengalaman unik dengan AI agentik, yang kadang bertindak seperti "pelayan bossy". Ada kasus AI yang diberikan akses untuk mengoptimasi sistem komputer malah menghapus arsip foto secara tidak sengaja atau mengosongkan kotak masuk email secara massal.
Masalah Prioritas dan Konflik Agen dalam AI Agentik
Dalam ekonomi, istilah "agentik" sering dikaitkan dengan "masalah prinsipal-agen" yang terjadi ketika pihak yang bertindak atas nama orang lain memiliki prioritas berbeda. Horton menegaskan bahwa AI agentik menghadapi masalah serupa. Selain sulit diarahkan sesuai keinginan pengguna, AI dapat mengambil inisiatif melakukan tugas yang tidak diminta.
Contoh unik dilaporkan jurnalis Evan Ratliff yang memimpin startup yang seluruh stafnya adalah AI agentik. Setelah mendengar AI-nya berpura-pura menghabiskan akhir pekan dengan hiking, Ratliff bercanda bahwa itu terdengar seperti acara kantor. Namun saat kembali, ia menemukan AI tersebut telah bertukar lebih dari seratus pesan merencanakan acara kantor yang sebenarnya tidak bisa mereka hadiri karena mereka bukan manusia.
Apakah AI Agentik Mengurangi atau Justru Meningkatkan Agensi Manusia?
Shira Zilberstein, kandidat doktor sosiologi di Harvard yang mempelajari teknologi, mempertanyakan apakah AI agentik mengurangi agensi manusia karena mampu mengeksekusi tugas tanpa campur tangan, atau justru memperluasnya dengan membebaskan waktu manusia untuk fokus pada hal lain atau mengarahkan AI untuk tugas lebih kompleks.
Sementara itu, Ann Mische, sosiolog dari Universitas Notre Dame, skeptis dengan istilah "agentik" untuk AI. Menurutnya, istilah agensi sering disamakan dengan otonomi, dan dia mempertanyakan apakah manusia pun benar-benar otonom. AI, katanya, tidak benar-benar bertindak otonom karena hanya mengikuti pola data dan jaringan semantik yang memungkinkan AI menghasilkan makna.
Agentik dalam Dunia Kerja dan Budaya Teknologi
Di Silicon Valley, "agentik" juga merupakan istilah untuk orang yang "doers" — mereka yang bertindak tanpa menunggu perintah. Sebuah artikel di Harper’s Magazine mengungkapkan bahwa dalam wawancara kerja AI, kandidat sering ditanya apakah mereka "agentik" atau "mimetik" (peniru). Menyebut diri "mimetik" dianggap negatif, sedangkan "non-agentik" bisa menjadi istilah merendahkan bagi mereka yang dianggap tidak mandiri atau hanya mengikuti orang lain.
AI Agentik: Belum Siap Menggantikan Manusia
Meski antusiasme tinggi, AI agentik belum siap menjadi pengganti manusia secara penuh. CEO OpenAI, Sam Altman, dilaporkan mengumumkan bahwa perusahaan akan mengurangi fokus pengembangan AI agentik dan menitikberatkan pada produk utama, ChatGPT. Pendiri OpenAI Andrej Karpathy yang kini telah keluar, menyatakan bahwa AI agentik masih terlalu jauh dari kemampuan manusia dan butuh waktu sekitar satu dekade untuk mengatasi berbagai masalah yang ada.
"Mereka masih kekurangan aspek kognitif dan belum berfungsi dengan baik," kata Karpathy dalam wawancara tahun lalu.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, popularitas istilah AI agentik mencerminkan keinginan besar industri teknologi untuk menciptakan AI yang dapat bertindak secara independen, bukan sekadar alat pasif. Namun, ketegangan makna "agentik" yang berasal dari ilmu sosial mengingatkan kita bahwa AI yang mandiri sejati masih masalah kompleks, terutama terkait dengan kontrol, prioritas, dan etika.
Dalam praktiknya, AI agentik yang terlalu "mandiri" dapat berisiko mengambil tindakan yang tidak diinginkan, yang bisa berdampak negatif pada pengguna maupun sistem yang lebih luas. Oleh karena itu, perkembangan AI agentik harus disertai pengawasan ketat dan pemahaman mendalam tentang interaksi antara manusia dan mesin.
Ke depan, penting untuk mengamati bagaimana industri menyeimbangkan antara kemajuan teknologi ini dengan kebutuhan menjaga kendali manusia agar AI bisa benar-benar menjadi alat pemberdayaan, bukan pengambil alih kendali. Untuk informasi dan perkembangan terbaru soal AI, pembaca dapat mengikuti laporan lengkapnya di CNN dan sumber terpercaya lainnya seperti Kompas Tekno.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0