Krisis Identitas OpenAI: Mengapa Sora Mendadak Dihentikan?

Mar 26, 2026 - 18:40
 0  4
Krisis Identitas OpenAI: Mengapa Sora Mendadak Dihentikan?

Pagi ini, saat membuka aplikasi video buatan OpenAI, Sora, saya disambut dengan deretan video aneh dan mengganggu yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Di platform yang menyerupai TikTok ini, pengguna bisa membuat video AI yang sangat realistis, bahkan dari wajah mereka sendiri, dan membagikannya secara publik. Namun, konten yang muncul sangat mengkhawatirkan: dari rekayasa adegan perang di Iran hingga Donald Trump palsu yang berbicara soal Jeffrey Epstein. Ada pula klip paling mengerikan yang menunjukkan seseorang menggoreng bayi secara mendalam.

Ad
Ad

Meskipun tidak semua video semengerikan itu, Sora telah menjadi sumber viralitas internet yang cukup stabil. Dalam hitungan hari setelah peluncurannya, aplikasi ini langsung meroket ke puncak unduhan di App Store. Namun, kabar buruk datang tiba-tiba. OpenAI mengumumkan penutupan Sora dan menghentikan akses publik ke teknologi pembuat video ini. Keputusan ini terasa mendadak dan mengejutkan, bahkan bagi sebagian staf Sora sendiri.

Penutupan Mendadak dan Dampaknya

Hanya beberapa bulan lalu, Disney mengumumkan rencana investasi sebesar 1 miliar dolar AS dalam OpenAI dengan tujuan menghadirkan karakter Disney ke aplikasi Sora. Kolaborasi antara kedua perusahaan masih berjalan awal minggu ini sebelum Disney akhirnya membatalkan rencana investasi tersebut. Di media sosial, pengguna mengabadikan kenangan mereka dengan Sora melalui video favorit seperti deretan penguin berputar dan adegan Yesus berjalan di atas air memenangkan medali emas renang Olimpiade.

Ketika OpenAI meluncurkan Sora pada September lalu, CEO Sam Altman memprediksi bahwa masyarakat akan mengalami revolusi artistik yang menakjubkan. Ia menulis bahwa "Kreativitas akan mengalami ledakan Cambrian yang luar biasa". Sayangnya, revolusi tersebut tidak pernah benar-benar terjadi. Masyarakat memang menunjukkan ketertarikan yang mengejutkan terhadap konten AI, seperti tren telenovela cabul yang diperankan buah AI di TikTok, tapi hal itu tidak cukup untuk mempertahankan Sora.

Dalam pernyataan resmi, OpenAI menyebutkan biaya komputasi yang sangat tinggi sebagai salah satu alasan utama penutupan aplikasi ini. Pembuatan video AI jauh lebih mahal dibandingkan pembuatan teks. Forbes memperkirakan bahwa Sora bisa menghabiskan jutaan dolar setiap hari sejak diluncurkan, dan Bill Peebles, pimpinan Sora, menyebut ekonominya "benar-benar tidak berkelanjutan". OpenAI sendiri tidak menanggapi perkiraan tersebut secara langsung.

Model Bisnis OpenAI yang Tak Jelas

Penutupan proyek secara tiba-tiba telah menjadi ciri khas OpenAI dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan ini sering berganti model bisnis dan fitur produk dengan sangat cepat, mencoba menemukan jalur menuju keuntungan. Namun, sejauh ini, OpenAI belum memiliki rencana bisnis yang jelas dan solid.

Pada 2019, Sam Altman pernah mengaku, "Kami tidak tahu bagaimana suatu hari nanti akan menghasilkan pendapatan". Ia bahkan bercanda bahwa suatu saat AI akan cukup pintar untuk memberi tahu OpenAI bagaimana mendapatkan keuntungan. Setelah keberhasilan ChatGPT, modal investor mengalir deras, dan valuasi OpenAI kini lebih besar dari Toyota, Coca-Cola, dan Disney digabung. Tetapi modal besar saja tidak cukup; investor ingin melihat keuntungan nyata.

Dalam beberapa tahun terakhir, OpenAI bereksperimen dengan berbagai model bisnis, dari proyek infrastruktur besar seperti Stargate yang gagal karena masalah kepemimpinan, hingga fitur belanja di ChatGPT yang baru-baru ini dihentikan. Bahkan janji peluncuran perangkat keras baru yang sempat diumumkan akan keluar tahun ini, kini mundur hingga 2027. Kebijakan konten pun berubah-ubah, dengan larangan konten NSFW yang sempat dilonggarkan, lalu kembali ditunda tanpa batas waktu.

Persaingan dan Krisis Identitas OpenAI

Saat perusahaan lain seperti Anthropic fokus pada penjualan alat AI produktivitas ke pasar bisnis dengan pendekatan yang konsisten, OpenAI malah terlihat kacau dan tidak fokus. Menurut laporan, Nvidia, investor besar, sempat ragu dengan "kurangnya disiplin" OpenAI dalam strategi bisnis, meskipun CEO Nvidia membantah ketidakpuasan tersebut.

OpenAI kini mencoba meniru strategi Anthropic dengan menyiapkan "superapp" yang menggabungkan berbagai produk mereka dalam satu aplikasi, serta berencana menggandakan jumlah karyawan tahun ini untuk memperkuat layanan bisnis. Fidji Simo, kepala aplikasi OpenAI, menekankan pentingnya fokus pada produktivitas di bidang bisnis dan menghindari "misi sampingan" yang mengalihkan perhatian.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penutupan mendadak Sora bukan sekadar keputusan produk biasa, melainkan pertanda krisis identitas yang lebih besar bagi OpenAI. Perusahaan ini berjuang menemukan keseimbangan antara inovasi yang menciptakan kegembiraan dan model bisnis yang berkelanjutan secara finansial. Eksperimen tanpa arah yang konsisten dan perubahan strategi yang terlalu cepat menunjukkan bahwa OpenAI masih mencari pijakan yang kokoh dalam industri AI yang sangat kompetitif.

Keputusan Disney membatalkan investasi dan ketidakhadiran Sam Altman dalam aktivitas publik Sora selama peluncuran bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu lebih fokus dan disiplin. Jika OpenAI gagal mengatasi krisis ini, mereka berisiko kehilangan posisi dominan yang sudah mereka raih dengan ChatGPT, terutama terhadap pesaing seperti Anthropic yang semakin mengukuhkan pasar enterprise AI.

Ke depan, publik dan investor perlu mengamati dengan seksama bagaimana OpenAI mengeksekusi strategi baru mereka, terutama dalam menyatukan produk dan memfokuskan bisnis pada segmen yang menghasilkan pendapatan nyata. Perkembangan ini akan menentukan apakah OpenAI dapat bertahan sebagai pemimpin inovasi AI atau justru terjebak dalam siklus eksperimen yang tidak berujung.

Lebih lengkapnya, Anda dapat membaca artikel aslinya di The Atlantic.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad