Banjir Berulang di Kota Lele Lamongan: Dampak dan Harapan Warga
Banjir tahunan yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, telah menjadi masalah klasik yang berlangsung selama puluhan tahun. Warga yang terdampak bahkan harus beraktivitas menggunakan perahu, menggantikan sepeda motor yang tak bisa digunakan karena genangan air yang tinggi dan lama.
Banjir Berulang Hampir Setiap Tahun di Lamongan
Supriyanto, warga Dusun Pujut, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, menyampaikan bahwa banjir sudah terjadi hampir setiap tahun sejak ia kecil. Pria kelahiran 1974 ini menyebut banjir tersebut telah berlangsung hampir lima dekade. Tahun ini, banjir sudah berlangsung mendekati empat hingga lima bulan, dengan beberapa desa yang hampir seluruhnya terendam air.
“Banjir ini hampir (terjadi) tiap tahun. (Tahun ini) udah mendekati empat bulan ini (belum surut), bahkan ada yang hampir 5 bulan itu (ada) desa yang nggak kelihatan apa-apa, cuma kelihatan rumah. Jadi aktivitas tiap hari naik perahu,” ujar Supriyanto.
Banjir di Lamongan ini terjadi karena luapan air dari aliran Bengawan Njero, anak Sungai Bengawan Solo. Saat musim hujan dan debit Bengawan Solo meningkat, air Bengawan Njero yang mengalir dari bagian selatan dan barat Lamongan rutin meluap. Namun, air sulit mengalir ke Bengawan Solo karena debitnya lebih tinggi sehingga pintu air tidak bisa dibuka.
“Kalau Bengawan Solo, arusnya besar dan bendungannya nggak bisa dibuka karena permukaan lebih rendah dari Bengawan Solo,” tambah Supriyanto.
Warga yang tinggal di wilayah terdampak sudah terbiasa dengan banjir berkepanjangan, namun tiap tahun ketinggian air dan durasi genangan semakin meningkat. Contohnya, di Kalitengah, banjir hampir mencapai lima bulan dan ada dusun yang tidak terlihat daratan sama sekali.
Dampak Banjir Berkepanjangan pada Tambak dan Kehidupan Warga
Mayoritas warga di wilayah terdampak menggantungkan penghasilan pada tambak bandeng dan udang serta bertani padi. Banjir yang berlangsung berbulan-bulan menyebabkan kerugian besar karena lahan tambak terendam air dan bibit gagal ditebar. Banyak petambak belum sempat menebar bibit udang dan bandeng akibat lahan yang masih tergenang.
“Belum sempat malah, cuma ada yang nekat. Banyak yang belum sempat nebar bibit udang sama bandeng itu. Bekasnya padi kemasukan air jadi busuk, banyak yang matilah,” kata Supriyanto.
Potensi pendapatan tambak dalam kondisi normal bisa mencapai sekitar Rp 200 juta per hektare. Namun, dampak banjir membuat banyak warga kehilangan sumber penghasilan utama dan akhirnya beralih menjadi buruh pabrik atau pekerja bangunan.
Selain kerugian usaha, banjir juga meningkatkan biaya rumah tangga. Warga harus rutin mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah untuk meninggikan rumah agar tidak terendam banjir.
“Dua tahun lalu rumah kami sudah ditinggikan hampir 1-2 meter, tapi tetap kena banjir sekitar 30-40 sentimeter. Biaya semen saja habis hampir Rp 20 juta,” jelas Supriyanto.
Bantuan pemerintah sejauh ini lebih banyak berupa bantuan logistik seperti beras dan mie instan. Namun warga menginginkan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir dan mengembalikan aktivitas ekonomi terutama di sektor tambak.
Faktor Penyebab dan Upaya Penanggulangan Banjir
Muhammad, warga Desa Soko, Kecamatan Glagah, menyampaikan bahwa banjir tahun ini lebih parah dari sebelumnya dan air sulit keluar meskipun sudah ada pompa air yang disediakan pemerintah. Mesin pompa tersebut berfungsi membuang air ke Bengawan Solo, namun kapasitasnya belum memadai untuk menanggulangi debit air yang tinggi.
“Pompa sudah diperbaiki, tapi kapasitasnya nggak sebanding dengan intensitas curah hujan,” ujar Muhammad.
Muhammad menilai pendangkalan dan sedimentasi sungai menjadi salah satu penyebab utama banjir semakin parah. Pengerukan dan normalisasi sungai hanya dilakukan pada sungai besar, sementara sungai kecil yang juga krusial jarang tersentuh.
“Normalisasi sungai cuma di kali-kali besar, jarang yang kali-kali kecil,” tambahnya.
Warga berharap ada revitalisasi sungai secara menyeluruh dari hulu ke hilir dan penataan tata ruang di wilayah selatan Lamongan agar area resapan air tetap terjaga. Berkurangnya lahan resapan akibat pembangunan perumahan di Lamongan Selatan membuat aliran air menjadi tidak terkendali dan meluap ke utara.
Perubahan Transportasi dan Kondisi Jalan Terendam Banjir
Banjir yang melanda Lamongan menyebabkan banyak ruas jalan tergenang hingga membuat warga beralih menggunakan perahu sebagai alat transportasi utama. Di Desa Laladan, Kecamatan Deket, hampir semua warga memiliki perahu untuk beraktivitas sehari-hari seperti berbelanja dan bepergian ke luar desa.
"Perahu menjadi alat transportasi andalan warga menggantikan sepeda motor yang dititipkan di desa lain," ujar Kepala Desa Laladan, Achwan.
Sementara itu, jalan beton di Dusun Gendol, Desa Gempolpendowo, Kecamatan Glagah, yang selama ini menjadi akses utama warga juga masih terendam dan menjadi licin karena lumut yang tumbuh. Untuk mengurangi risiko terpeleset, warga secara swadaya memasang waring atau jaring ikan di jalan agar permukaan tidak licin.
Respons Pemerintah dan Harapan Warga
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas PU SDA telah mengoperasikan pompa air di wilayah Sungai Bengawan Jero, seperti di Kuro, Kecamatan Karangbinangun. Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menyatakan pompa tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi genangan air yang menyebabkan banyak rumah terendam banjir.
“Saya sudah berkoordinasi dengan BBWS Bengawan Solo dan Dinas PU SDA Jatim untuk mengaktifkan pompa yang ada,” ujar Emil.
Namun, menurut warga, kapasitas pompa masih perlu ditingkatkan dan normalisasi sungai kecil harus menjadi prioritas agar banjir tidak berulang. Mereka juga berharap penataan tata ruang dan pelestarian lahan resapan di wilayah selatan Lamongan dilakukan secara serius untuk mengurangi dampak banjir.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, banjir berulang di Kabupaten Lamongan bukan hanya persoalan musiman biasa, melainkan sebuah krisis lingkungan dan tata ruang yang telah berlangsung puluhan tahun dan semakin parah. Ketergantungan warga pada tambak dan pertanian menjadikan kerugian banjir sangat besar dan berpengaruh langsung terhadap ekonomi masyarakat.
Langkah normalisasi sungai yang hanya fokus pada sungai besar tanpa memperhatikan sungai kecil dan daerah resapan air menunjukkan pendekatan yang kurang komprehensif. Hal ini menimbulkan risiko berkelanjutan terhadap penanganan banjir yang tidak menyelesaikan akar masalah. Pemerintah perlu segera mengintegrasikan revitalisasi sungai, pengelolaan tata ruang, dan peningkatan kapasitas pompa sebagai solusi jangka panjang.
Ke depan, publik harus mengawasi implementasi program pemerintah dan mendorong inovasi teknologi serta partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. Selain itu, edukasi tentang mitigasi banjir dan adaptasi bagi warga terdampak sangat penting agar bencana ini tidak terus menerus menghambat kesejahteraan masyarakat Lamongan.
Simak terus perkembangan penanganan banjir di Kota Lele Lamongan agar solusi nyata dapat segera terwujud demi kehidupan yang lebih baik bagi warga.
Untuk informasi lengkap dan update terbaru, kunjungi sumber asli berita di detikcom.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0