Kronologi Pasutri Pemudik Tewas Terseret Banjir di Cianjur, Ini Detilnya

Mar 30, 2026 - 20:50
 0  7
Kronologi Pasutri Pemudik Tewas Terseret Banjir di Cianjur, Ini Detilnya

Kecelakaan tragis menimpa pasangan suami istri (pasutri) pemudik asal Sumedang yang meninggal dunia setelah terseret oleh banjir luapan drainase di Jalan Raya Puncak, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Peristiwa nahas ini terjadi pada Minggu sore, 29 Maret 2026, saat keduanya tengah dalam perjalanan arus balik pasca-libur Lebaran 2026. Berikut kronologi lengkap kejadian tersebut.

Ad
Ad

Hujan Deras dan Banjir Luapan Drainase Sebabkan Kecelakaan

Pukul 18.10 WIB, kawasan Jalan Raya Puncak, Cipanas, diguyur hujan lebat yang menyebabkan banjir luapan drainase di sejumlah titik. Pada waktu yang sama, Tubagus Suharyana (57) dan istrinya Sri Vebrianti (45) tengah mengendarai sepeda motor dalam perjalanan kembali ke kampung halaman mereka di Sumedang setelah berkunjung ke kerabat di Bogor.

Di lokasi kejadian, korban berusaha mendahului kendaraan di depan dengan kondisi badan jalan yang sudah tergenang air akibat banjir drainase. Diduga karena kehilangan kendali, motor yang dikendarai mereka terjatuh dan terseret arus air masuk ke aliran drainase tanpa penutup di sisi kanan jalan nasional tersebut.

Peristiwa ini sempat menghebohkan pengendara dan warga sekitar, yang langsung melaporkan kejadian ke pos pengamanan Ops Ketupat Lodaya Polres Cianjur di persimpangan Pegadaian, Pacet.

Upaya Pencarian dan Penemuan Mayat Korban

Polisi segera menuju lokasi dan menemukan sepeda motor korban tersangkut di saluran drainase tanpa penutup. Selanjutnya, koordinasi dilakukan dengan tim SAR untuk melakukan pencarian korban, dipimpin langsung oleh Kapolres Cianjur, AKBP Alexander Yurikho Hadi.

Pukul 20.30 WIB, tim mendapatkan informasi dari pos pengamanan Ops Ketupat Lodaya Cikalongkulon terkait penemuan sesosok mayat laki-laki tanpa identitas yang tersangkut di saluran irigasi Junghil, Kampung Majalaya, Desa Majalaya, Kecamatan Cikalongkulon, sekitar 30 kilometer dari lokasi kejadian awal.

Jenazah tersebut dibawa ke kamar mayat RSUD Sayang Cianjur dan melalui pemeriksaan alat INAFIS, teridentifikasi sebagai Tubagus Suharyana, korban pria dalam kecelakaan tersebut. Keluarga yang dihubungi kemudian mengonfirmasi bahwa jenazah itu memang anggota keluarga mereka yang hilang terseret banjir.

Operasi pencarian pun dihentikan sementara dan dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Senin pagi, 30 Maret 2026.

Penemuan Jenazah Istri Korban dan Pemulangan ke Kampung Halaman

Saat apel kesiapan personel gabungan pada Senin pagi, tiba-tiba muncul laporan dari pos pengamanan Ops Ketupat Lodaya Cikalongkulon mengenai ditemukannya mayat perempuan tanpa identitas yang mengambang di Bendungan Cirata, Kampung Gelar, Desa Kamurang, Kecamatan Cikalongkulon, sekitar 35 kilometer dari lokasi awal.

Tim SAR segera mengevakuasi jenazah tersebut ke RSUD Sayang Cianjur. Pemeriksaan INAFIS menunjukkan bahwa jenazah perempuan itu cocok dengan identitas Sri Vebrianti, istri Tubagus Suharyana.

Setelah kedua jenazah berhasil ditemukan, keluarga melakukan pemulasaraan dan membawa keduanya ke kampung halaman di Sumedang untuk dimakamkan.

Faktor dan Implikasi Kecelakaan Banjir di Jalur Puncak

Peristiwa ini menyoroti risiko besar yang dihadapi pemudik di kawasan Puncak, khususnya saat musim hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan luapan drainase dan banjir lokal. Kondisi gorong-gorong tanpa penutup dan aliran air deras di bahu jalan menambah potensi bahaya yang mengancam keselamatan pengendara.

Selain itu, kejadian ini menjadi peringatan bagi pengendara agar lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatan, terutama saat melewati ruas jalan rawan banjir dan genangan air.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tragedi pasutri pemudik yang terseret banjir di Cianjur ini bukan hanya sekadar kecelakaan tunggal, melainkan cermin dari tantangan infrastruktur dan mitigasi bencana di kawasan wisata dan jalur mudik utama seperti Puncak. Drainase yang kurang optimal dan minimnya perlindungan pada gorong-gorong menjadi faktor kunci yang memperparah risiko bencana banjir lokal.

Dalam konteks mudik Lebaran yang setiap tahun melibatkan jutaan orang, pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat kesiapsiagaan, termasuk perbaikan sistem drainase, penambahan tanda peringatan bahaya, serta sosialisasi keselamatan berkendara pada musim hujan. Langkah-langkah ini bisa menyelamatkan nyawa dan mengurangi potensi kecelakaan tragis serupa di masa depan.

Selain itu, masyarakat juga harus lebih waspada terhadap kondisi jalan saat hujan deras dan tidak memaksakan diri untuk mendahului kendaraan lain di area rawan banjir. Keselamatan harus menjadi prioritas utama demi menghindari kehilangan yang tidak diinginkan.

Berita terbaru dan perkembangan terkait kecelakaan ini akan terus kami pantau agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan cepat. Simak terus update terbaru dari sumber resmi seperti kumparan dan media terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad