Inggris Pimpin 35 Negara Bebaskan Selat Hormuz, AS Justru Tak Diundang

Apr 2, 2026 - 21:10
 0  3
Inggris Pimpin 35 Negara Bebaskan Selat Hormuz, AS Justru Tak Diundang

Pemerintah Inggris secara resmi menginisiasi pertemuan internasional dengan mengundang 35 negara untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang kini diblokade oleh Iran. Menariknya, Amerika Serikat (AS) tidak diundang dalam pertemuan ini, meskipun selama ini AS sangat aktif dalam konflik di kawasan tersebut.

Ad
Ad

Agenda dan Tujuan Pertemuan Internasional

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi ini bertujuan untuk mencari solusi diplomatik dan politik guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang krusial untuk distribusi minyak dan gas dunia. Pertemuan yang berlangsung pada tanggal 2 April 2026 ini juga dihadiri langsung oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, bersama para pemimpin negara lain.

Starmer menyatakan, "Pertemuan ini akan menilai semua langkah diplomatik dan politik yang layak untuk memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan kapal dan pelaut, serta melanjutkan pergerakan komoditas vital." (The Guardian)

Langkah Inggris ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa jika AS menghentikan serangannya terhadap Iran, tanggung jawab menjaga keamanan Selat Hormuz akan diserahkan kepada negara lain. Trump juga mengkritik kurangnya dukungan dari negara-negara Eropa terhadap langkah militernya.

Negara-Negara yang Terlibat dan Dinamika Regional

Negara-negara yang menandatangani pernyataan bersama bulan lalu dan diundang untuk pertemuan ini mencakup Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Australia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Nigeria. Mereka berkomitmen untuk memastikan jalur pelayaran tersebut aman dan bebas hambatan.

AS tidak secara langsung diundang, yang menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antara Inggris dan AS dalam menangani krisis ini. Fokus pertemuan ini adalah sekutu Eropa dan negara-negara maritim serta regional utama di kawasan Timur Tengah.

Situasi Selat Hormuz dan Dampaknya pada Pasokan Global

Blokade parsial oleh Iran telah menyebabkan sekitar 1.000 kapal terdampar, padahal sebelumnya Selat Hormuz menjadi jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia serta sepertiga pupuk global. Konflik ini berimbas serius pada ketersediaan energi dan pangan dunia.

Sejak konflik pecah, hanya sekitar 130 kapal yang berhasil melintas, jumlah yang biasanya melintas dalam satu hari. Kementerian Pertahanan Inggris bahkan mengirim perencana militer ke Komando Pusat AS untuk mengeksplorasi opsi pengamanan jalur tersebut.

Dari sisi Iran, Korps Garda Revolusi Islam menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi musuh-musuh bangsa dan tetap di bawah kendali penuh angkatan laut mereka.

Sementara itu, Presiden Trump mengancam akan terus menyerang Iran sampai jalur tersebut dibuka dan bebas dari kendali Iran, dengan kata-kata yang keras, "Kami akan meledakkan Iran hingga terlupakan atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!"

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, inisiatif Inggris memimpin pertemuan 35 negara tanpa melibatkan AS merupakan langkah strategis dan diplomatik yang signifikan. Hal ini mencerminkan pergeseran kekuatan dan pendekatan dalam menangani krisis Selat Hormuz, di mana Inggris ingin mengambil peran sentral dalam menjaga stabilitas jalur pelayaran vital ini.

Pengabaian AS dalam pertemuan ini bisa jadi karena ketegangan politik dan perbedaan kebijakan antara Washington dan sekutu Eropanya, terutama terkait pendekatan militer versus diplomasi. Inggris tampaknya mengedepankan solusi diplomatik dan kemitraan multilateral yang lebih inklusif, menggabungkan kekuatan militer dan industri pelayaran untuk mengatasi tantangan keamanan dan keselamatan navigasi.

Namun, tantangan terbesar tetap pada realitas di lapangan, yaitu kendali Iran yang kuat atas Selat Hormuz dan risiko eskalasi militer lebih lanjut. Inggris dan negara-negara peserta pertemuan harus menyiapkan strategi jangka panjang yang tidak hanya fokus pada pengamanan fisik jalur tapi juga dialog politik yang dapat meredakan ketegangan.

Ke depan, publik dan pelaku industri harus memantau bagaimana hasil pertemuan ini akan diterjemahkan ke dalam aksi nyata, apakah dapat mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz dan menstabilkan pasokan minyak dan gas global yang sangat bergantung pada jalur ini.

Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini mengenai dinamika Selat Hormuz, kunjungi sumber asli CNBC Indonesia dan laporan internasional terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad