Propaganda China dan Strategi Media dalam Membingkai Perang Iran 2026

Apr 6, 2026 - 13:00
 0  5
Propaganda China dan Strategi Media dalam Membingkai Perang Iran 2026

Jakarta – Pekan lalu, media pemerintah China merilis sebuah video animasi yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan langsung viral di kalangan netizen China. Video tersebut menyajikan gambaran simbolis tentang perang antara AS-Israel melawan Iran melalui metafora kucing Persia dan elang botak, berhasil menarik hampir satu juta likes dalam hitungan jam dan dibanjiri komentar.

Ad
Ad

Video itu bukan sekadar hiburan, melainkan merupakan alat propaganda yang dirancang untuk memengaruhi opini publik domestik China dengan menyampaikan pesan geopolitik yang sesuai dengan narasi resmi Beijing. Inti dari pesan tersebut adalah menggambarkan Amerika Serikat sebagai kekuatan hegemonik yang agresif dan sedang mengalami kemunduran, sementara China tampil sebagai kekuatan besar yang damai, stabil, dan berkembang.

Simbolisme dalam Animasi AI: Kucing Persia vs Elang Putih

Dalam video produksi CCTV ini, kucing Persia digambarkan sebagai pihak yang terluka dan berusaha membalas dendam terhadap elang putih yang arogan. Elang putih menjadi simbol dominasi AS yang memaksa sebuah wilayah bernama "lembah aliran emas" untuk memperdagangkan sumber daya langka yang disebut "esensi besi hitam" hanya dengan menggunakan "tiket emas elang putih".

Konflik semakin memanas ketika sang elang membunuh pemimpin kucing Persia, memicu perang yang tidak seimbang. Elang putih menggunakan "jarum emas anti-udara" yang mahal untuk menyerang "burung kayu" yang lebih murah. Pesan ini jelas menunjukkan ketidakseimbangan kekuatan dan menyoroti agresivitas AS melalui simbol-simbol yang mudah dipahami masyarakat.

Strategi Media China dalam Mempengaruhi Opini Publik

Menurut W.A. Figueroa, asisten profesor sejarah dan hubungan internasional dari Universitas Groningen,

"Sejak awal, para pejabat China sangat jelas menggambarkan perang ini sebagai tindakan ilegal sekaligus ancaman bagi stabilitas global. Citra yang ditampilkan adalah China yang stabil, aktif terlibat, dan diplomatik, berbanding terbalik dengan Amerika Serikat yang agresif dan tidak dapat diprediksi."

Kantor berita resmi Xinhua juga memperkuat narasi ini dengan menyatakan bahwa tujuan AS sebenarnya adalah menciptakan "Iran tanpa kedaulatan" dan perang ini bukan soal keamanan semata, melainkan usaha mempertahankan hegemoni.

  • Di platform media sosial Douyin, para influencer nasionalis menyebarkan konten singkat yang mengklaim bahwa AS sedang "ciut" menghadapi tekad Iran.
  • Akun resmi militer China juga membagikan video analisis penempatan pasukan AS di Teluk dengan citra satelit beresolusi tinggi, mendapatkan jutaan likes.

Alicja Bachulska, analis China di European Council on Foreign Relations, menyoroti bahwa pemanfaatan teknologi AI dalam propaganda ini merupakan evolusi baru yang membungkus pesan politik Beijing dengan gaya Wuxia yang populer, membuatnya lebih menarik dan mudah diterima.

Analisis Redaksi: Propaganda sebagai Senjata Geopolitik China

Menurut pandangan redaksi, video animasi AI ini bukan hanya sekadar alat propaganda biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang China dalam menghadapi tuduhan dari Washington sebagai kekuatan pengganggu stabilitas global. Dengan menyajikan narasi yang menempatkan China sebagai kekuatan yang stabil dan damai, Beijing berusaha memperkuat posisi domestik dan internasionalnya.

Lebih jauh, penggunaan simbolisme budaya populer seperti cerita kucing Persia dan elang putih, serta gaya Wuxia, menunjukkan kejeniusan Beijing dalam mengemas pesan politik yang kompleks agar mudah dipahami dan diterima masyarakat luas. Ini juga memperlihatkan cara China menanggapi konflik Timur Tengah dengan perspektif persaingan eksistensial melawan AS, yang dilihat sebagai aktor neo-imperialis kehilangan kredibilitas.

Selain itu, video ini juga menempatkan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) sebagai solusi atas dominasi ekonomi AS, yang secara terselubung dipromosikan sebagai jalan keluar dari hegemoni ekonomi global. Ini memperlihatkan bagaimana propaganda bukan hanya tentang perang saat ini, tapi juga soal masa depan geopolitik dan ekonomi yang ingin dibentuk China.

Ke depan, publik dan analis harus terus mengawasi bagaimana media pemerintah China menggunakan teknologi modern dan budaya populer untuk membentuk opini, serta dampaknya terhadap persepsi konflik global dan hubungan internasional. Untuk informasi lebih detail, Anda dapat membaca sumber aslinya di Detik News dan mengikuti perkembangan terbaru di Deutsche Welle.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad