WIKA Rugi Rp 1,8 Triliun Tiap Tahun karena Proyek Kereta Cepat Whoosh

Apr 6, 2026 - 20:21
 0  5
WIKA Rugi Rp 1,8 Triliun Tiap Tahun karena Proyek Kereta Cepat Whoosh

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengungkapkan bahwa mereka mengalami kerugian besar hampir setiap tahun akibat keterlibatan dalam proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau yang dikenal dengan nama Whoosh. Kerugian tersebut mencapai sekitar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun setiap tahunnya.

Ad
Ad

Komposisi Pemegang Saham dan Peran WIKA dalam Proyek Kereta Cepat

WIKA merupakan salah satu pemegang saham utama dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium yang mengelola proyek KCIC. Komposisi pemegang saham PSBI adalah sebagai berikut:

  • PT Kereta Api Indonesia (Persero): 58,53%
  • PT Wijaya Karya (Persero) Tbk: 33,36%
  • PT Perkebunan Nusantara I: 1,03%
  • PT Jasa Marga (Persero) Tbk: 7,08%

Sementara itu, pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd yang terlibat dalam proyek ini terdiri dari beberapa perusahaan besar asal China, termasuk CREC dan Sinohydro.

Kerugian yang Membebani Kinerja Keuangan WIKA

Dalam konferensi pers di kantor proyek Tol Harbour Road (HBR) II, Jakarta Utara, pada Senin (6/4/2026), Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyampaikan bahwa kerugian yang dialami WIKA dari proyek kereta cepat ini sangat signifikan dan menjadi beban berat untuk kinerja keuangan perusahaan.

"Porsi kita itu setiap tahun membukukan kerugian yang memang cukup besar, kalau tahun lalu, kalau tahun 2025 kalau nggak salah Rp 1,7 triliun atau Rp 1,8 triliun membukukan kerugian hampir setiap tahun segitu," ujar Agung.

Agung menambahkan bahwa kondisi ini membuat WIKA sulit untuk mencetak laba yang optimal karena harus menanggung kerugian yang terus berulang.

Upaya Melepas Investasi dan Tantangan Regulasi

WIKA sebenarnya menginginkan untuk melepas investasinya di proyek kereta cepat agar dapat mengurangi kerugian tahunan. Namun, proses pelepasan tersebut tidak mudah karena keterlibatan WIKA tercatat dalam Peraturan Presiden yang mengatur proyek ini.

"Sehingga tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset kereta cepat. Yang bisa kita lakukan, ya kita minta pemerintah ataupun Danantara sebisa mungkin WIKA yang memang kondisinya sebenarnya kontraktor untuk tidak masuk ke situ, ya. Tetapi ini tentu menjadi domainnya daripada government atau Danantara," jelas Agung.

Proses Klaim Pembengkakan Biaya dan Mediasi dengan KCIC

Selain kerugian operasional, WIKA juga mengklaim adanya pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Whoosh sebesar Rp 5,02 triliun. Proses klaim ini sedang berjalan dan ditargetkan selesai pada tahun 2026.

Awalnya, klaim tersebut akan dibawa ke Pusat Arbitrase Internasional Singapura atau Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Namun, berdasarkan kesepakatan antara WIKA dan KCIC, proses tersebut dialihkan ke mediasi internal.

"Atas kesepakatan antara WIKA dan KCIC, kita sedang di mediasi. Jadi sedang tahap proses mediasi yang sekarang sedang proses. Sehingga sementara untuk yang arbitrase ditunda dulu, sebisa mungkin pihak antara WIKA dan KCIC ini melalui mediasi yang ada di WIKA. Target penyelesaian sih tahun ini bisa selesai," kata Agung.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kerugian terus menerus yang dialami WIKA dari proyek kereta cepat Whoosh menjadi sinyal penting bagi industri konstruksi dan investasi infrastruktur Indonesia. Proyek strategis nasional seperti KCIC memang memiliki manfaat jangka panjang, namun beban keuangan yang besar bagi perusahaan BUMN seperti WIKA dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan perusahaan dan bahkan berpotensi menghambat pertumbuhan sektor konstruksi nasional.

Selain itu, keterlibatan perusahaan BUMN dalam proyek semacam ini yang diatur oleh regulasi khusus seperti Peraturan Presiden menunjukkan adanya kompleksitas politik dan birokrasi yang harus dihadapi. Upaya pelepasan investasi yang sulit membuktikan bahwa keputusan pemerintah dan mekanisme korporasi harus berjalan seiring agar risiko bisnis dapat diminimalkan.

Ke depan, publik dan pemangku kepentingan harus terus mengawasi bagaimana proses mediasi antara WIKA dan KCIC berjalan, serta apakah ada langkah strategis untuk memperbaiki manajemen risiko proyek infrastruktur besar di Indonesia. Keseimbangan antara ambisi pembangunan dan kesehatan finansial perusahaan BUMN harus menjadi prioritas agar dampak negatif seperti kerugian tahunan besar tidak terus berulang.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan proyek KCIC dan dampaknya terhadap perusahaan BUMN seperti WIKA, Anda dapat merujuk pada sumber asli berita ini di detikFinance serta laporan resmi dari PT Wijaya Karya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad