Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.090-Rp17.140 di Tengah Ketegangan Geopolitik

Apr 10, 2026 - 11:50
 0  4
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.090-Rp17.140 di Tengah Ketegangan Geopolitik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat, 10 April 2026, dengan kisaran antara Rp17.090 hingga Rp17.140 per dolar AS. Kondisi ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah serta gangguan pasokan minyak global yang terus berlanjut.

Ad
Ad

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terbaru

Berdasarkan data dari Tradingview pada Kamis, 9 April 2026, rupiah ditutup stagnan di level Rp17.087 per dolar AS. Meski demikian, pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah langsung melemah sebesar 0,47% atau sekitar 79,5 poin menjadi Rp17.109 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,08% ke posisi 99,05.

Pergerakan mata uang Asia lainnya juga menunjukkan pelemahan, antara lain:

  • Yen Jepang melemah 0,30%
  • Yuan China turun 0,13%
  • Dolar Singapura melemah 0,13%
  • Won Korea Selatan turun 0,16%
  • Ringgit Malaysia melemah 0,25%
  • Peso Filipina melemah 0,49%
  • Baht Thailand turun 0,14%

Pengaruh Ketegangan Geopolitik dan Gangguan Pasokan

Menurut pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu jalur vital yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global. Meskipun terdapat gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, pengiriman minyak masih terhambat karena kendali ketat Iran atas akses transit.

"Gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, dan ketegangan geopolitik meningkatkan risiko kelangsungan pasokan minyak dunia," ujar Ibrahim Assuaibi.

Sentimen pasar juga semakin terganggu oleh eskalasi serangan Israel di Lebanon yang mengancam kestabilan gencatan senjata yang rapuh. Iran menyatakan pembicaraan damai dengan AS tidak masuk akal pasca serangan terbaru, yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Sebelumnya, Presiden AS mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang memicu harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dan berkurangnya hambatan pasokan. Namun, para analis memperingatkan bahwa gangguan struktural akibat konflik ini bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki.

Situasi Ekonomi Domestik dan Global

Dari sisi domestik, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 4,7%, sedikit menurun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,8%. Meski demikian, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang sebesar 4,2%.

Beberapa faktor eksternal utama yang memengaruhi prospek ekonomi kawasan antara lain:

  1. Konflik di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga energi;
  2. Pembatasan perdagangan di Amerika Serikat dan ketidakpastian kebijakan global;
  3. Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah lanskap ekonomi dan industri.

OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% dari sebelumnya 5%, seiring meningkatnya tekanan global akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.

Sementara itu, risalah FOMC bulan Maret yang dirilis Rabu lalu menunjukkan bahwa pejabat Federal Reserve AS masih mempertimbangkan penurunan suku bunga tahun ini meskipun ketidakpastian akibat perang di Timur Tengah dan tarif perdagangan masih tinggi. Mereka menegaskan pentingnya tetap adaptif dalam menghadapi dampak konflik terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja AS yang stagnan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pelemahan rupiah yang terjadi pada 10 April 2026 mencerminkan dampak nyata dari ketegangan geopolitik yang tidak hanya mempengaruhi pasar minyak dunia, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian yang luas pada pasar keuangan global. Situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial pasokan energi dunia menjadi faktor utama yang menghambat stabilitas nilai tukar rupiah.

Lebih jauh, pelemahan nilai tukar ini bisa memicu kenaikan biaya impor dan inflasi domestik. Bank Indonesia harus waspada dan siap mengambil langkah kebijakan moneter yang tepat untuk meredam dampak negatif terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi makro.

Kedepannya, pelaku pasar dan pengambil kebijakan harus terus memantau dinamika geopolitik dan perkembangan kondisi ekonomi global, terutama dari kebijakan The Fed dan situasi di Timur Tengah, yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian ini menuntut strategi mitigasi risiko yang matang agar Indonesia dapat menjaga stabilitas ekonomi di tengah turbulensi global.

Untuk informasi lebih lengkap dan update pasar valuta asing, Anda dapat mengunjungi sumber asli berita ini di Bisnis.com serta mengikuti perkembangan terkini di portal berita ekonomi terpercaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad