Manfaat WFH untuk Kesehatan: Turunkan Risiko Penyakit dan Stres Kerja

Apr 12, 2026 - 18:20
 0  6
Manfaat WFH untuk Kesehatan: Turunkan Risiko Penyakit dan Stres Kerja

Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah bukan hanya sekadar tren atau solusi di masa pandemi, tetapi juga memiliki manfaat signifikan dari sisi kesehatan. Ahli kesehatan masyarakat, Dicky Budiman, menyatakan bahwa pelaksanaan WFH dapat menurunkan risiko penularan penyakit menular sekaligus membantu mengurangi stres kerja bagi para pekerja.

Ad
Ad

Manfaat WFH dalam Mengurangi Risiko Penyakit Menular

Dicky Budiman menjelaskan bahwa keberhasilan WFH dalam mendukung kesehatan sangat bergantung pada desain kebijakan dan kondisi individu. Namun, berdasarkan literatur yang ada, salah satu manfaat utama WFH adalah pengurangan potensi penularan penyakit menular, terutama penyakit saluran pernapasan seperti COVID-19 dan influenza.

“Kalau bicara manfaat, ada pengurangan potensi penularan penyakit menular. WFH efektif menurunkan transmisi atau penularan penyakit saluran pernapasan,” jelasnya saat diwawancara Health Liputan6.com pada Sabtu (11/4/2026).

Dengan mengurangi interaksi fisik di ruang kerja dan perjalanan ke kantor, WFH membantu memutus rantai penyebaran penyakit yang biasa terjadi di kerumunan atau ruang tertutup.

Manfaat Kesehatan Mental dari Fleksibilitas WFH

Selain menurunkan risiko infeksi, WFH juga berdampak positif pada kesehatan mental. Sistem kerja ini memberikan fleksibilitas waktu yang memungkinkan pekerja menghindari stres akibat perjalanan dan tekanan waktu.

“Dengan adanya fleksibilitas waktu, maka akan menurunkan stres pada individu karena tidak harus buru-buru, pagi-pagi desak-desakan,” tambah Dicky.

Studi meta analisis pada 2023 dan 2024 menguatkan temuan ini dengan menunjukkan bahwa WFH bisa mengurangi burnout ringan hingga sedang dengan meningkatkan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance).

Tantangan Penerapan WFH di Sektor Pelayanan Publik

Meski WFH memberikan banyak manfaat, tidak semua sektor pekerjaan dapat menerapkan kebijakan ini secara penuh. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa sektor layanan publik seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik tetap harus beroperasi secara normal.

“Rumah sakit, puskesmas, klinik itu tidak boleh tutup, sangat diperlukan untuk pelayanan publik,” ujarnya saat kunjungan ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Dante juga menegaskan bahwa WFH bukan berarti libur, melainkan kerja tetap berjalan dari rumah dengan rapat dan tugas yang harus diselesaikan secara digital.

Pengawasan Kinerja ASN dalam Skema WFH

Pemerintah Indonesia telah mengatur mekanisme pengawasan ketat terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjalani WFH. Melalui Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 3 Tahun 2026, seluruh instansi pemerintah menerapkan pola kerja kombinasi antara Work From Office (WFO) dan WFH.

Dalam pola ini, ASN bekerja 4 hari di kantor (Senin-Kamis) dan 1 hari WFH (Jumat). Mekanisme pengawasan dilakukan secara digital dan berbasis capaian kinerja, bukan kehadiran fisik.

“Setiap ASN terikat pada Sasaran Kinerja Pegawai yang terukur. Pengawasan dilakukan melalui sistem elektronik, bukan sekadar absensi fisik,” kata Menteri PANRB Rini Widyantini.

Pengawasan digital ini meningkatkan transparansi dan akuntabilitas serta memastikan bahwa produktivitas ASN tetap optimal meskipun bekerja dari rumah. ASN yang tidak memenuhi target kinerja dapat dikenakan sanksi disiplin sesuai peraturan yang berlaku.

Evaluasi dan Dukungan Sistem Digital Pemerintah

Evaluasi efektivitas pelaksanaan WFH wajib dilaporkan setiap bulan ke Menteri PANRB. Pemerintah juga mengoptimalkan sistem informasi dan teknologi digital untuk mendukung pelaksanaan tugas ASN secara fleksibel.

Ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, serta regulasi terkait jam kerja ASN yang mengedepankan fleksibilitas dan kinerja.

Selain itu, pemerintah memastikan layanan publik esensial seperti kesehatan, keamanan, dan layanan kedaruratan tetap berjalan optimal meski sebagian pegawai menerapkan WFH.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kebijakan WFH yang kini menjadi bagian dari transformasi budaya kerja di Indonesia membawa dampak positif yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat dan produktivitas kerja. Menurunkan risiko penularan penyakit menular adalah capaian nyata yang harus terus dipertahankan, terutama di era pasca pandemi di mana potensi wabah baru masih ada.

Namun, manfaat WFH tidak hanya soal kesehatan fisik. Pengurangan stres kerja dan peningkatan keseimbangan hidup menjadi faktor krusial dalam menjaga kualitas hidup pekerja jangka panjang. Ini juga dapat mengurangi angka burnout dan meningkatkan kreativitas serta produktivitas.

Ke depan, pemerintah dan perusahaan perlu terus mengembangkan sistem kerja fleksibel yang didukung teknologi digital dan pengawasan kinerja berbasis hasil. Selain itu, perhatian khusus harus diberikan pada sektor yang tidak bisa WFH agar pelayanan publik tetap maksimal.

Para pekerja dan pemberi kerja juga harus belajar menyesuaikan budaya kerja baru ini agar tidak menimbulkan efek negatif seperti isolasi sosial atau penurunan kolaborasi tim. Dengan pengelolaan yang tepat, WFH bisa menjadi model kerja masa depan yang lebih sehat dan efisien.

Untuk informasi lengkap seputar manfaat WFH dan kebijakan ASN, kunjungi sumber resmi di Liputan6.com dan berita terbaru di Kompas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad