2 Penyebab Utama Negosiasi AS-Iran Gagal yang Membuat Israel Senang

Apr 13, 2026 - 14:50
 0  5
2 Penyebab Utama Negosiasi AS-Iran Gagal yang Membuat Israel Senang

Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad pada Sabtu (11/4) gagal mencapai kesepakatan penting untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan antara kedua negara. Pembicaraan yang berlangsung hingga dini hari itu tidak menemukan titik terang dalam isu-isu krusial yang dibahas, sehingga kedua pihak pulang tanpa hasil yang memuaskan.

Ad
Ad

Wakil Presiden JD Vance selaku kepala delegasi AS menyatakan, "Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi AS." Ia menegaskan bahwa batasan-batasan AS sudah dijelaskan secara sangat jelas selama perundingan.

Gagalnya negosiasi ini disambut dengan antusiasme oleh Israel. Menurut laporan CNN Indonesia, pemerintah Israel bahkan langsung mempersiapkan pasukannya menghadapi kemungkinan gelombang serangan baru terhadap Iran setelah kegagalan tersebut.

1. AS Kekeh soal Penghentian Senjata Nuklir Iran

Isu utama yang menjadi batu sandungan dalam negosiasi adalah program nuklir Iran. AS menuntut agar Iran menghentikan total pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama, dan memindahkan stok uranium yang sudah diperkaya keluar dari wilayah Iran. Namun, Tehran menolak tuntutan ini.

Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menegaskan bahwa delegasi Iran merasa dikhianati oleh AS dua kali dalam perundingan sebelumnya, terutama saat perang berdurasi 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, di mana AS melancarkan serangan menghancurkan situs nuklir Iran untuk pertama kalinya.

"Tehran meminta jaminan bahwa perang benar-benar berakhir kali ini dan serangan tidak akan kembali terjadi setelah mereka memberi konsesi," ujar Qalibaf.

Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menambahkan bahwa pengayaan uranium adalah hak sah Iran dan bagian fundamental dari program nuklir mereka yang berjalan sesuai aturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Ia menegaskan tidak ada negara yang bisa mencabut hak Iran untuk melakukan pengayaan nuklir secara damai.

2. Polemik Pengelolaan Selat Hormuz

Isu kedua yang menimbulkan kebuntuan adalah sengketa pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berada di antara Iran dan Oman. Pejabat AS menyebutkan bahwa negosiator Iran tidak mau membuka sepenuhnya Selat Hormuz tanpa menetapkan biaya bagi kapal-kapal yang melintas.

Iran meminta tarif yang dapat mencapai hingga US$2 juta (sekitar Rp34,19 miliar) untuk kapal yang melewati Selat Hormuz. Tarif ini bahkan sudah dibayar oleh beberapa kapal, termasuk kapal dari China.

Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengusulkan pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh AS dan Iran. Namun, Tehran menolak gagasan tersebut dengan alasan bahwa selat merupakan wilayah perairan Iran dan Oman, sehingga pengelolaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab kedua negara tersebut.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari memicu gejolak di pasar energi global dan tekanan politik terhadap pemerintah AS. Oleh karena itu, para negosiator Iran bersikeras menolak membuka jalur itu sebelum tercapai kesepakatan yang final.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kegagalan negosiasi ini menunjukkan ketegangan struktural yang sangat dalam antara AS dan Iran, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembicaraan diplomatik singkat. Isu senjata nuklir yang menjadi inti permasalahan bukan hanya soal teknologi atau keamanan, tetapi juga soal kepercayaan dan jaminan keamanan bagi Iran setelah pengalaman pahit dalam konflik sebelumnya.

Selanjutnya, pengelolaan Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak dunia menjadi isu geopolitik yang sarat kepentingan ekonomi dan politik. Sikap Iran yang menolak pengelolaan bersama dengan AS dan mengklaim wilayahnya memperkuat posisi tawar mereka, yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut jika tidak segera dicari solusi.

Bagi Israel, kegagalan ini adalah peluang untuk memperkuat posisi militernya terhadap Iran yang dipandang sebagai ancaman eksistensial. Publik harus terus memantau perkembangan selanjutnya karena potensi eskalasi militer semakin nyata, dan dampaknya bisa meluas hingga ke pasar energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Untuk informasi terbaru dan analisis mendalam tentang konflik AS-Iran dan dampaknya, simak terus berita dari sumber terpercaya seperti CNN Indonesia dan media internasional lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad