Trump Blokade Selat Hormuz usai Gagal Gencatan Senjata dengan Iran, Seberapa Efektif?

Apr 14, 2026 - 14:11
 0  5
Trump Blokade Selat Hormuz usai Gagal Gencatan Senjata dengan Iran, Seberapa Efektif?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengambil langkah tegas dengan melakukan blokade Selat Hormuz mulai Senin, 13 April 2026 waktu AS, setelah upaya perundingan gencatan senjata dengan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal pada Jumat, 10 April 2026.

Ad
Ad

Berdasarkan laporan CNN Indonesia yang mengutip Reuters, Trump melalui media sosial Truth Social menegaskan bahwa AS akan menindak tegas setiap kapal di perairan internasional yang melakukan pembayaran bea masuk kepada Iran.

"Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas. Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan DIHANCURKAN!" tulis Trump dalam unggahannya.

Blokade Laut, Strategi yang Pernah Dilakukan Trump di Venezuela

Tindakan blokade laut bukanlah hal baru bagi Trump. Pada Desember 2025, ia juga menerapkan blokade total dan menyeluruh terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang dikenai sanksi, termasuk langkah penculikan terhadap Presiden Nicolas Maduro.

Trump menyebut pemerintahan Maduro sebagai "organisasi teroris asing" dan menyatakan blokade tersebut bertujuan memaksa Caracas mengembalikan "seluruh minyak, wilayah, dan aset lainnya." Dalam pernyataannya, ia menuduh rezim Maduro menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai berbagai kejahatan besar seperti terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.

  • Blokade Venezuela melibatkan 15.000 tentara dan kapal induk terbesar dunia, USS Gerald Ford.
  • Target utama adalah kapal tanker minyak yang membawa jutaan barel minyak mentah, sumber pendapatan devisa utama Venezuela.
  • Operasi ini menunjukkan penggunaan penolakan maritim sebagai cara melumpuhkan negara.

Respons Iran dan Ketegangan yang Meningkat

Berbeda dengan Venezuela yang terdesak, Iran justru menunjukkan sikap tidak gentar terhadap blokade tersebut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa mereka siap melawan atau menghadapi argumen dengan logika, usai kembali dari Islamabad.

Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah gagalnya perundingan gencatan senjata. Beberapa pengamat menilai langkah AS ini tidak akan menghentikan perlawanan Iran.

Profesor John Mearsheimer dari Universitas Chicago menilai arah konflik saat ini justru merupakan kekalahan bagi AS dan Israel, terutama setelah Iran menguasai Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.

Mearsheimer menjelaskan tujuan strategis Israel di Timur Tengah yang meliputi:

  1. Memperluas perbatasan hingga wilayah seperti Tepi Barat, Jalur Gaza, Lebanon Selatan, dan Semenanjung Sinai.
  2. Melakukan pembersihan etnis di wilayah yang dikuasainya, khususnya Gaza dan Tepi Barat.
  3. Memastikan negara-negara tetangga tetap lemah dan tunduk pada AS.

Menurutnya, Israel menggunakan dua cara utama untuk mencapai tujuan ini: mempertahankan negara tetangga seperti Yordania dan Lebanon agar tetap tunduk, serta melemahkan negara-negara besar seperti Suriah, Iran, dan Turki.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah Trump memblokade Selat Hormuz merupakan upaya eskalasi yang berisiko tinggi dalam konflik AS-Iran. Strategi yang pernah diterapkan di Venezuela dengan menculik Presiden Maduro dan melakukan blokade laut memang menunjukkan tekad keras Trump untuk memaksakan kehendaknya, namun konteks Iran berbeda jauh. Iran memiliki kekuatan militer dan geopolitik yang lebih besar serta dukungan regional yang kuat, sehingga blokade ini berpotensi memperpanjang ketegangan dan memicu konfrontasi militer yang lebih luas.

Selain itu, penguasaan Iran atas Selat Hormuz—jalur strategis pengiriman minyak global—memberikan mereka posisi tawar yang kuat. Jika AS meneruskan blokade, konsekuensinya bisa berdampak langsung pada pasokan energi dunia dan harga minyak internasional, yang berdampak luas pada ekonomi global.

Publik dan pengamat harus terus mengawasi perkembangan ini karena setiap eskalasi militer di kawasan Timur Tengah bisa mengganggu stabilitas regional dan global. Diplomasi dan negosiasi yang efektif seharusnya menjadi prioritas untuk mencegah konflik yang lebih besar.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan situasi ini, simak laporan terbaru dari Reuters dan CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad