129 Ton Kulit Sapi Asal Jerman Positif PMK Dimusnahkan di Bogor

Apr 15, 2026 - 21:00
 0  2
129 Ton Kulit Sapi Asal Jerman Positif PMK Dimusnahkan di Bogor

Sebanyak 129.150 kilogram kulit sapi asal Jerman yang terindikasi mengandung hama penyakit hewan karantina khususnya foot and mouth disease (PMK) atau penyakit kuku dan mulut, dimusnahkan di Bogor, Jawa Barat. Pemusnahan dilakukan di PT PPLI, Kecamatan Klapanunggal sebagai langkah pencegahan masuknya penyakit hewan berbahaya ke Indonesia.

Ad
Ad

Pemusnahan Kulit Sapi Asal Jerman dan Temuan Penyakit

Deputi Bidang Karantina Hewan Badan Karantina Nasional, Sriyanto, menjelaskan bahwa dari 12 kontainer kulit sapi impor yang masuk ke Indonesia, 5 kontainer terindikasi positif PMK dan satu kontainer positif penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

"Hari ini kita menyaksikan pemusnahan sebanyak 129 ton ya, pemasukan kulit dari luar ke negara kita yang berasal dari Jerman itu," ujar Sriyanto, Rabu (15/4/2026).

Kulit sapi tersebut rencananya akan didistribusikan ke berbagai daerah dan digunakan untuk industri nonpangan. Namun, karena ditemukan indikasi penyakit serius, maka semua barang tersebut harus dimusnahkan untuk menghindari risiko penyebaran penyakit.

Bahaya Penyakit PMK dan LSD bagi Peternakan Lokal

PMK dan LSD merupakan penyakit hewan yang sangat berbahaya bagi sistem peternakan nasional. Jika tidak segera ditangani, keduanya berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi para peternak dan industri peternakan Indonesia.

  • PMK dapat menyebabkan penurunan produktivitas hewan, kematian, dan pembatasan perdagangan ternak.
  • LSD menyebabkan luka berbenjol pada kulit ternak hingga menurunkan nilai jual dan kesehatan hewan.

Sriyanto menambahkan, kerugian akibat PMK yang sudah masuk ke Indonesia diperkirakan mencapai Rp 40 triliun, sedangkan untuk LSD mencapai sekitar Rp 10 triliun.

Peran Karantina dan Dukungan Program Pemerintah

Pemusnahan ini menjadi bagian dari upaya Badan Karantina Indonesia sebagai garda terdepan dalam mencegah masuknya penyakit hewan melalui impor barang seperti kulit sapi. Langkah ini sejalan dengan program Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong swasembada dan kemandirian pangan nasional.

"Pemusnahan ini merupakan tindakan karantina untuk memastikan kita mencegah masuknya penyakit melalui media atau pembawa yang diimpor," tambah Sriyanto.

Upaya pengendalian dan pencegahan penyakit ini terus dilakukan agar dampak negatif terhadap peternakan dan ekonomi nasional dapat diminimalisir.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kejadian pemusnahan 129 ton kulit sapi asal Jerman ini menjadi alarm penting bagi pemerintah dan pelaku industri terkait ketatnya pengawasan impor barang hewan. Penyakit hewan karantina seperti PMK dan LSD bukan hanya masalah kesehatan hewan, tetapi juga berpotensi mengguncang perekonomian peternakan nasional secara luas. Jika tidak dicegah, dampaknya bisa meluas hingga mengganggu ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pangan hewan.

Langkah pemusnahan ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjalankan protokol karantina sebagai benteng pertahanan pertama. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah penguatan pengawasan di pelabuhan-pelabuhan utama dan edukasi bagi importir agar memahami risiko penyakit hewan.

Kedepannya, publik harus mengawasi perkembangan pengendalian penyakit ini, termasuk implementasi program Asta Cita yang berfokus pada kemandirian pangan. Jika dikelola dengan baik, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor produk hewan yang rawan penyakit dan memperkuat industri peternakannya.

Untuk informasi lengkap, kunjungi sumber asli berita di DetikNews dan pantau terus update dari CNN Indonesia Ekonomi terkait dampak penyakit hewan pada sektor peternakan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad