Faktor Mekanis Diduga Jadi Penyebab Utama Kecelakaan Helikopter di Sekadau
Kecelakaan helikopter Airbus H130 PK-CFX yang terjadi di wilayah hutan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, diduga kuat disebabkan oleh faktor mekanis atau masalah pada perawatan pesawat. Hal ini disampaikan oleh Syarif Usmulyani Alqadrie Ah,Pnb, S.E, SSiT, seorang pengamat transportasi udara sekaligus Ketua Masyarakat Transportasi Udara Indonesia (MTUI) Kalimantan Barat.
Menurut Syarif, dari lima faktor utama penyebab kecelakaan dalam dunia penerbangan yang terdiri atas faktor manusia, cuaca, gangguan atmosfer, kondisi landasan, serta faktor mekanis, faktor cuaca bisa dikesampingkan dalam insiden ini. "Berdasarkan rekaman dan kesaksian di lokasi kejadian, cuaca saat helikopter jatuh dilaporkan cerah tanpa gangguan cuaca ekstrem," ujarnya di Pontianak, Jumat.
Analisis Penyebab Kecelakaan Helikopter di Sekadau
Kecelakaan terjadi setelah helikopter berangkat dari Melawi menuju Kubu Raya sekitar pukul 08.34 WIB dan sempat melakukan komunikasi terakhir sebelum hilang kontak pada pukul 10.40 WIB. Berdasarkan rekaman visual awal, diduga kuat terjadi gangguan pada sistem utama pesawat, terutama rotor utama.
"Posisi helikopter saat jatuh tidak langsung terjun bebas, melainkan tampak masih berusaha melakukan pendaratan. Ini mengindikasikan adanya masalah pada sistem mekanikal, khususnya rotor utama atau sistem penggeraknya," jelas Syarif.
Dugaan sementara juga mengarah pada perawatan pesawat yang menjadi aspek penting yang harus ditelusuri, termasuk kelayakan mesin dan riwayat maintenance sebelum penerbangan. Dalam hal ini, aspek teknis dan mekanikal menjadi penyebab dominan dibandingkan faktor manusia. "Saya menilai kontribusi faktor manusia hanya sekitar 10 persen," tambahnya.
Evaluasi Sistem Komunikasi dan Penanganan Darurat
Syarif turut menyoroti lambatnya proses deteksi dan penanganan setelah helikopter hilang kontak. Dalam standar penerbangan, hilangnya kontak selama lima sampai sepuluh menit sudah harus menjadi alarm serius bagi pihak terkait seperti AirNav.
- Dalam kasus ini, helikopter baru ditemukan setelah lebih dari dua jam.
- Menurutnya, sistem koordinasi komunikasi penerbangan perlu dievaluasi agar respons penanganan lebih cepat di masa mendatang.
"Ini menjadi bahan evaluasi sistem komunikasi dan koordinasi, karena respons cepat sangat krusial untuk menyelamatkan korban dan mengurangi dampak kecelakaan," ujarnya.
Harapan pada Investigasi Resmi
Syarif berharap investigasi resmi yang dilakukan otoritas terkait dapat mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara komprehensif. Pemeriksaan menyeluruh terhadap komponen pesawat, data penerbangan, serta prosedur penanganan darurat menjadi kunci utama.
"Semua harus dikaji secara menyeluruh, mulai dari aspek teknis, sistem komunikasi, hingga prosedur penanganan darurat, agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.
Menurut laporan resmi ANTARA, helikopter tersebut milik PT Matthew Air dan telah dievakuasi oleh tim gabungan setelah ditemukan di hutan Sekadau.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, dugaan kuat faktor mekanis sebagai penyebab utama kecelakaan helikopter ini membuka perhatian besar tentang pentingnya pemeliharaan dan perawatan pesawat secara ketat. Kecelakaan ini bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga soal tata kelola dan standar operasional perusahaan penerbangan yang harus diperketat, terutama di wilayah terpencil seperti Kalimantan Barat.
Lebih jauh, lambatnya respons setelah hilang kontak menunjukkan potensi keterbatasan sistem komunikasi dan koordinasi darurat yang harus segera diperbaiki. Dalam era teknologi saat ini, deteksi dan respon cepat menjadi sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi risiko kecelakaan yang lebih parah.
Kedepannya, publik dan pemangku kepentingan harus mengawasi hasil investigasi secara transparan dan menuntut perbaikan menyeluruh. Investigasi ini juga harus menjadi momentum untuk meningkatkan standar keselamatan transportasi udara di Indonesia, terutama bagi penerbangan rotorcraft yang beroperasi di medan sulit.
Dengan evaluasi dan perbaikan menyeluruh, diharapkan kecelakaan serupa dapat dicegah dan kepercayaan masyarakat terhadap transportasi udara dapat kembali pulih.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0