Suriah Mulai Buka Dialog dengan Israel, Langkah Baru Negara Arab di Timur Tengah
Setelah Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Maroko menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020, Suriah kini mulai membuka dialog dengan Israel, menandai langkah baru dalam dinamika politik Timur Tengah yang selama ini penuh ketegangan.
Dialog Baru Suriah-Israel Terkait Dataran Tinggi Golan
Suriah, yang selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel, kini di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed Al Sharaa mulai mempertimbangkan negosiasi jangka panjang dengan Israel terkait wilayah Dataran Tinggi Golan. Wilayah ini masih diduduki secara ilegal oleh Israel sejak Perang Arab-Israel 1967.
Dalam forum diplomatik di Kota Antalya, Turki, Jumat (17/4), Sharaa menyampaikan keinginan Suriah untuk "membentuk aturan baru yang mengaktifkan kembali perjanjian pemisahan pasukan, atau menyepakati perjanjian baru yang menjamin keamanan kedua pihak".
"Jika kita mencapai kesepakatan, kita bisa memasuki negosiasi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah Dataran Tinggi Golan yang diduduki," kata Sharaa, dikutip AFP.
Sejak Sharaa berkuasa pasca kejatuhan Bashar Al Assad pada Desember 2024, Israel telah mengirim pasukan ke zona penyangga di Dataran Tinggi Golan yang dipantau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Zona ini memisahkan pasukan Israel dan Suriah dan selama ini menjadi titik sensitif dalam hubungan kedua negara.
Sejarah dan Tantangan Negosiasi
Perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 menjadi landasan hubungan militer antara Suriah dan Israel, namun Israel diduga melanggar perjanjian tersebut dengan mengirim pasukan ke zona penyangga. Dalam beberapa bulan terakhir, upaya kedua pihak untuk mencapai kesepakatan keamanan baru terus berlangsung.
Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al Shaibani, pada Februari menyebutkan bahwa negosiasi keamanan tengah berlangsung, meski belum mencakup isu Dataran Tinggi Golan secara khusus.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara tegas menolak pengembalian wilayah Dataran Tinggi Golan kepada Suriah, menegaskan sikap keras Tel Aviv atas wilayah yang direbut sejak 1967 tersebut.
Konstelasi Diplomasi Timur Tengah dan Abraham Accord
Langkah Suriah membuka dialog dengan Israel melengkapi rangkaian perubahan besar dalam hubungan negara-negara Arab dengan Israel. Sejak 2020, melalui perjanjian Abraham Accord, sejumlah negara Arab seperti UEA, Bahrain, dan Maroko telah menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
- Mesir dan Yordania sudah lama menjalin perjanjian damai dengan Israel.
- Sudan juga mulai membuka jalur diplomasi dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah Suriah ini bisa menjadi game-changer yang penting bagi stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama terkait isu sensitif seperti Dataran Tinggi Golan yang berpotensi memicu konflik lebih luas jika tidak diatasi.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, keputusan Suriah membuka dialog dengan Israel menandai babak baru diplomasi di Timur Tengah yang lebih kompleks dan dinamis. Meski belum resmi menormalisasi hubungan seperti negara-negara Arab lainnya, keterlibatan Suriah dalam negosiasi menunjukkan adanya tekanan dan kebutuhan untuk mencari solusi atas masalah lama yang sudah berlangsung puluhan tahun, khususnya soal Dataran Tinggi Golan.
Namun, sikap keras Israel yang menolak pengembalian wilayah tersebut bisa menjadi hambatan utama yang memicu ketegangan lebih lanjut. Negosiasi ini harus dilihat sebagai proses yang panjang dan penuh tantangan, di mana kedua belah pihak harus bersedia kompromi demi stabilitas kawasan.
Ke depan, publik dan komunitas internasional perlu mengawasi perkembangan dialog ini secara seksama. Jika berhasil, bisa menjadi titik awal untuk meredakan ketegangan dan membuka pintu bagi perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.
Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini tentang hubungan Suriah dan Israel, kunjungi sumber resmi di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0