PM Baru Hungaria Peter Magyar Bersumpah Tangkap Netanyahu Sesuai Perintah ICC
Perdana Menteri baru Hungaria, Peter Magyar, menggemparkan dunia internasional dengan pernyataannya yang berjanji akan menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu jika yang bersangkutan memasuki wilayah Hungaria. Janji ini ditegaskan sebagai bentuk kepatuhan Hungaria terhadap perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC), di mana Hungaria adalah salah satu anggotanya.
Langkah Baru Hungaria dalam Menanggapi Surat Perintah ICC
Dalam konferensi pers yang dikutip dari CNN Indonesia dan Sky News pada Selasa (21/4), Peter Magyar menegaskan, "Saya percaya bahwa jika suatu negara adalah anggota Mahkamah Pidana Internasional, dan seseorang yang dicari pengadilan memasuki wilayah kita, maka orang itu harus ditahan." Pernyataan ini jelas mengacu pada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan ICC terhadap Netanyahu pada November 2024 terkait tuduhan kejahatan perang akibat agresi Israel di Jalur Gaza Palestina.
Ini menjadi titik perubahan besar dalam kebijakan Hungaria, mengingat pemerintahan sebelumnya di bawah Viktor Orban justru menolak melaksanakan surat perintah ICC tersebut. Orban yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan memiliki hubungan yang cukup erat dengan Netanyahu bahkan sempat mengumumkan penarikan Hungaria dari ICC pada April 2025, hanya beberapa bulan setelah surat perintah itu diterbitkan.
Perbedaan Sikap Pemerintahan Magyar dan Orban
Di bawah kepemimpinan Orban, Hungaria menjadi satu-satunya negara Uni Eropa yang menolak mematuhi perintah ICC, meski Netanyahu pernah mengunjungi Hungaria pada April 2025 untuk bertemu langsung dengan Orban. Saat itu, pemerintah Hungaria menyatakan tidak akan menangkap Netanyahu.
Sementara itu, Peter Magyar mengambil sikap yang berlawanan. Ia menyatakan bahwa Hungaria akan menghentikan proses penarikan dari ICC yang sebelumnya digagas oleh Orban, sehingga menandakan niatnya untuk kembali patuh pada aturan dan kewajiban sebagai anggota Mahkamah Pidana Internasional.
Upaya Mempererat Hubungan Diplomatik dengan Israel
Saat baru menjabat, Magyar juga menghubungi Netanyahu melalui telepon pada 15 April 2026. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pemerintah Israel, Magyar mengundang Netanyahu untuk menghadiri peringatan 70 tahun Perlawanan Hungaria. Netanyahu menyambut baik undangan tersebut dan bahkan mengundang Magyar menghadiri pertemuan antar pemerintah (G2G) di Israel.
Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun Magyar berkomitmen pada hukum internasional, ia juga ingin menjaga hubungan bilateral yang erat dengan Israel. Namun, konflik kepentingan antara komitmen hukum dan hubungan diplomatik ini akan menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Magyar ke depan.
Implikasi dan Tantangan ke Depan
Langkah Magyar bisa menjadi preseden penting bagi negara-negara anggota ICC lainnya yang selama ini tidak konsisten dalam menjalankan perintah pengadilan internasional. Jika Hungaria benar-benar menahan Netanyahu bila berkunjung, ini akan memperlihatkan bahwa komitmen hukum internasional dapat mengalahkan kepentingan politik dalam hubungan bilateral antarnegara.
Namun, langkah ini juga berpotensi menimbulkan ketegangan diplomatik yang serius dengan Israel dan sekutunya, terutama Amerika Serikat, mengingat hubungan erat Netanyahu dengan pemerintahan Trump sebelumnya yang juga memiliki hubungan kuat dengan Orban.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, keputusan Peter Magyar untuk menegakkan perintah ICC adalah sinyal kuat bahwa Hungaria ingin mengubah arah kebijakan luar negerinya dengan memperkuat posisi hukum internasional di atas politik pragmatis. Ini menandai pergeseran signifikan dari era Orban yang lebih mengedepankan hubungan personal dan kepentingan nasional sempit.
Namun, langkah Magyar ini tidak tanpa risiko. Mengingat Netanyahu adalah sosok yang kontroversial dan menjadi fokus banyak kekuatan geopolitik, Hungaria harus bersiap menghadapi tekanan diplomatik dan potensi pembalasan ekonomi atau politik dari sekutu Netanyahu. Selain itu, publik Hungaria dan Uni Eropa akan mengawasi dengan ketat apakah komitmen ini benar-benar dijalankan atau hanya retorika politik semata.
Kedepannya, kita perlu mengamati apakah Magyar mampu menjaga keseimbangan antara kepatuhan hukum internasional dan kelangsungan hubungan diplomatik strategis. Ini juga akan menjadi indikator bagaimana negara-negara anggota ICC lain, terutama di Eropa Timur, merespons perintah pengadilan internasional yang selama ini sering diabaikan.
Untuk informasi lebih lanjut terkait perkembangan ini, simak terus berita internasional terbaru dan analisis mendalam dari sumber terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0