Xi Jinping Buka Suara soal Selat Hormuz yang Masih 'Disandera' Iran-AS

Apr 22, 2026 - 21:02
 0  5
Xi Jinping Buka Suara soal Selat Hormuz yang Masih 'Disandera' Iran-AS

Presiden China Xi Jinping akhirnya memberikan pernyataan resmi pada Rabu, 22 April 2026, mengenai situasi genting di Selat Hormuz yang masih "disandera" oleh Iran dan Amerika Serikat. Kondisi ini secara signifikan mengganggu rantai pasok energi global dan menimbulkan ketegangan geopolitik yang semakin memanas.

Ad
Ad

Dalam pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman (MbS), Xi menyampaikan keprihatinannya atas penutupan jalur pelayaran strategis tersebut. Menurut pernyataan resmi pemerintah Tiongkok, Xi menegaskan kembali dukungannya terhadap "semua upaya yang mengarah pada pemulihan perdamaian dan penyelesaian sengketa melalui cara politik dan diplomatik."

Selat Hormuz: Jalur Vital yang Terancam

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan Samudra Hindia. Sekitar sepertiga minyak dunia melewati rute ini setiap harinya, menjadikannya krusial bagi stabilitas energi global.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran terjadi sejak 28 Februari 2026 sebagai respons atas konflik yang meletus antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Tindakan ini menyebabkan hampir seluruh lalu lintas maritim di kawasan itu tersendat. Selanjutnya, pada 13 April, AS membalas dengan memblokade semua pelabuhan Iran, memperburuk ketegangan dan memperpanjang krisis hingga tujuh minggu terakhir.

Xi mencatat bahwa "Selat Hormuz harus mempertahankan jalur pelayaran normal, karena hal ini melayani kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional." Pernyataan ini secara diplomatis tidak menyebut secara eksplisit pihak Iran atau AS, namun menegaskan pentingnya stabilitas jalur strategis itu.

Respons dan Ambisi China dalam Konflik

Kontras dengan sikap Xi yang mengedepankan diplomasi, Presiden AS Donald Trump melalui media sosial Truth mengeklaim kemenangan dalam konflik tersebut. Trump menyatakan, "Saya memenangkan Perang, dengan telak, semuanya berjalan sangat baik," dan menegaskan bahwa blokade angkatan laut akan terus berlanjut hingga Washington mencapai "kesepakatan" dengan Teheran.

Berbeda dengan deklarasi keras AS, China tampak mengambil posisi lebih berhati-hati dan strategis. Menurut Gedaliah Afterman, kepala program kebijakan Asia-Israel di Institut Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri Abba Eban, China memilih untuk mengamati dan memanfaatkan situasi tanpa langkah dramatis, memposisikan diri sebagai kekuatan adidaya yang lebih bertanggung jawab di tengah ketegangan antara dua negara besar dunia.

  • China menunjukkan dukungan terhadap penyelesaian diplomatik.
  • Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons perang dengan AS dan Israel.
  • AS membalas dengan blokade pelabuhan Iran sejak 13 April.
  • Konflik menimbulkan gangguan besar terhadap rantai pasok energi global.
  • Saudi Arabia terlibat melalui komunikasi dengan China untuk mencari solusi.

Implikasi Global dan Rantai Pasok Energi

Gangguan di Selat Hormuz membawa dampak luas pada pasar minyak dunia. Sebagai jalur ekspor minyak utama, ketidakstabilan di sini berpotensi menaikkan harga BBM dan mengancam pasokan energi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa stok BBM dalam negeri tetap aman karena tidak seluruh pasokan energi melewati Selat Hormuz.

Para analis internasional juga mengamati langkah China sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Dengan menampilkan diri sebagai mediator dan negara yang mendukung perdamaian, China berharap memperoleh keuntungan diplomatik dan ekonomi tanpa terjebak dalam konflik langsung.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan Xi Jinping ini bukan hanya soal menyuarakan perdamaian, tetapi juga upaya China mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan global yang bijak di tengah kekacauan geopolitik. Dengan tidak secara langsung menyalahkan Iran atau AS, China menjaga hubungan baik dengan kedua pihak sekaligus memperkuat citra sebagai penengah yang kredibel.

Ketegangan yang berlarut-larut di Selat Hormuz tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga berdampak pada ekonomi dunia, terutama sektor energi yang sangat bergantung pada rute ini. Indonesia dan negara-negara lain perlu waspada terhadap potensi gangguan pasokan energi lebih lanjut dan mulai mencari alternatif diversifikasi sumber energi.

Masa depan konflik ini sangat bergantung pada kemampuan diplomasi dan negosiasi antara Iran, AS, dan negara-negara kawasan. Peran China sebagai mediator potensial akan terus menjadi sorotan, mengingat ambisi geopolitik dan kepentingan ekonominya di Timur Tengah. Untuk perkembangan terbaru, pembaca disarankan mengikuti sumber terpercaya seperti CNN Indonesia dan media internasional lainnya.

Ke depan, upaya penyelesaian secara damai dan diplomatis harus menjadi prioritas utama agar Selat Hormuz dapat kembali berfungsi normal, menjaga stabilitas energi dunia, dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad