Peternak Sapi di Bekasi Waspadai Penyakit BEF Jelang Idul Adha 1447 H

May 8, 2026 - 14:41
 0  6
Peternak Sapi di Bekasi Waspadai Penyakit BEF Jelang Idul Adha 1447 H

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, peternak dan pedagang sapi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat merasa cemas dengan kemunculan penyakit demam tiga hari atau Bovine Ephemeral Fever (BEF). Penyakit ini dianggap lebih berbahaya dibanding penyakit mulut dan kuku (PMK) karena bisa menyebabkan kematian mendadak pada sapi jika tidak segera ditangani.

Ad
Ad

Ancaman Serius Penyakit BEF bagi Sapi Kurban

Karma, Ketua Kelompok Ternak BUMDes Cikahuripan di Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, menyatakan bahwa penyakit BEF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang dibawa oleh serangga penghisap darah, seperti nyamuk dan lalat. Ia mengingatkan para peternak dan pedagang sapi untuk sigap mengenali gejala awal penyakit ini agar bisa segera diberikan penanganan yang tepat.

"Kalau PMK sudah biasa, ini sapi sesak nafas, ngos-ngosan, panas kalau kena BEF. Itu 1×24 jam kalau nggak buru-buru ditangani bisa mati," ujarnya di Cikarang, Jumat.

Dalam usaha ternak BUMDes yang dikelola Karma, dua ekor sapi pernah terjangkit penyakit ini, namun berhasil diselamatkan setelah mendapatkan perawatan intensif. Pengalaman ini membuat pengelola semakin memperketat pola pemeliharaan dengan memperhatikan pemberian pakan dan suplemen guna meningkatkan daya tahan tubuh sapi.

Perawatan dan Pencegahan yang Diterapkan Peternak

Karma menjelaskan bahwa pemberian pakan berkualitas sangat penting untuk menjaga imunitas sapi, terutama di musim penyakit musiman. Kombinasi pakan yang diberikan meliputi ampas tahu, konsentrat, jerami, dan rumput sebagai serat kasar. Selain itu, vitamin diberikan secara berkala setiap tiga bulan, serta obat cacing diberikan rutin untuk mencegah parasit yang dapat menghambat pertumbuhan sapi.

"Pemberian obat cacing secara rutin juga penting sebab makan banyak tapi kalau obat cacing kagak dikasih percuma, dimakan cacing itu abis. Nggak gemuk-gemuk, cacingan. Jadi harus disertai pengendalian parasit," tambahnya.

Pengawasan Ketat oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi

Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi melalui Dewi Suryani, Ketua Tim Pengendalian Penyakit Hewan dan Penjamin Kesehatan Hewan, menyatakan telah menerjunkan 32 personel untuk melakukan pengawasan kesehatan hewan kurban di 23 kecamatan. Pengawasan dilakukan di lapak penjualan, kandang peternak, dan rumah potong hewan.

"Hingga kini belum ada laporan kematian sapi atau hewan kurban akibat serangan BEF. Petugas sudah disebar untuk melakukan pemeriksaan secara ketat," jelas Dewi.

Dewi juga mengingatkan pedagang dan peternak untuk memisahkan hewan yang sakit agar tidak menular ke hewan lain dan tidak menjual hewan sakit sebagai kurban. Selain itu, mereka wajib menyediakan fasilitas yang memadai seperti peneduh, pakan dan air minum berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang agar tidak menjadi sarang nyamuk. Penggunaan fogging atau insektisida juga dianjurkan untuk mengendalikan populasi nyamuk dan lalat yang menjadi vektor BEF.

Karakteristik dan Pencegahan Penyakit BEF

Menurut Dewi, BEF bersifat endemik di hampir seluruh wilayah Indonesia dan ditularkan melalui gigitan nyamuk atau lalat penggigit, bukan melalui kontak langsung antar hewan. Penyakit ini sering muncul saat musim penghujan atau pancaroba, kondisi yang meningkatkan populasi serangga pembawa virus.

Untuk itu, masyarakat diimbau membeli hewan di lapak resmi yang telah diperiksa oleh petugas kesehatan hewan, memastikan kebersihan kandang, dan memastikan hewan kurban memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kekhawatiran peternak dan pedagang sapi di Bekasi terhadap penyakit BEF menjelang Idul Adha sangat beralasan karena dampak penyakit ini bisa sangat fatal dan mendadak. Langkah pengawasan intensif oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi merupakan upaya strategis untuk mencegah penyebaran penyakit yang bisa mengancam stok hewan kurban dan perekonomian peternak lokal.

Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan seluruh peternak dan pedagang menaati protokol kesehatan hewan, serta menjaga kebersihan lingkungan guna mengurangi populasi vektor. Di sisi lain, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat pembeli hewan kurban sangat penting agar mereka tidak membeli hewan yang berpotensi sakit, menjaga kualitas hewan kurban, dan mencegah risiko penyakit menular.

Ke depan, pengembangan sistem monitoring digital dan pelaporan cepat dapat menjadi kunci keberhasilan pengendalian penyakit BEF, terutama menjelang momen-momen besar seperti Idul Adha. Untuk informasi terbaru dan perkembangan terkait penyakit BEF dan kesehatan hewan kurban, masyarakat diimbau selalu mengikuti update dari dinas terkait dan media resmi.

Selengkapnya berita bisa dibaca di Antara News.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad