Banjir Parah di Bone Sulsel: Kondisi Mengenaskan Dua Korban Meninggal Dunia
Banjir parah yang melanda Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sejak Kamis malam (7/5/2026) telah menimbulkan kondisi mengenaskan dengan dua korban meninggal dunia dan puluhan warga yang harus dievakuasi. Kejadian ini terjadi akibat hujan deras yang turun terus-menerus, mengakibatkan ketinggian air di sejumlah titik mencapai antara 0,5 hingga 2 meter. Banjir terutama merendam kawasan Kota Watampone dan sekitarnya, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan merusak infrastruktur.
Wilayah Terdampak dan Dampak Banjir di Bone
Banjir yang terjadi di Bone menyebabkan sejumlah titik wilayah terendam, terutama di Kecamatan Tanete Riattang dan Tanete Riattang Timur. Beberapa lokasi yang terdampak meliputi Panyula, depan Polres Bone, Kelurahan Masumpu, Jalan Yos Sudarso, Lingkungan Lengkongnge, hingga Rompe. Genangan air yang cukup tinggi membuat akses jalan terputus dan tidak dapat dilalui kendaraan.
Selain itu, sejumlah fasilitas umum juga tidak dapat difungsikan sementara waktu, memperparah kondisi masyarakat yang terdampak. Situasi ini memaksa tim SAR gabungan untuk segera melakukan evakuasi terhadap warga yang berada di lokasi banjir.
Evakuasi dan Kronologi Dua Korban Meninggal
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa laporan banjir diterima sekitar pukul 05.40 WITA dan langsung menurunkan Tim Rescue Pos SAR Bone ke lokasi terdampak. Dalam operasi yang berlangsung sejak Jumat dini hari (8/5/2026), tim berhasil mengevakuasi 67 warga dalam keadaan selamat.
Namun, dua korban meninggal dunia ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Korban pertama adalah Naima (80), seorang perempuan lansia, yang ditemukan meninggal di atas ranjang rumahnya di Lingkungan Rompe, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, sekitar pukul 07.00 WITA. Penyebab kematiannya belum dapat dipastikan.
Korban kedua adalah Muhammad Arsan (5), seorang bocah laki-laki yang tenggelam saat keluarganya melakukan evakuasi mandiri di wilayah Panyula. Upaya penyelamatan dengan melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan perawatan di Puskesmas Bajoe tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Kolaborasi Tim SAR dan Upaya Penanganan
Operasi SAR melibatkan berbagai unsur gabungan, termasuk Basarnas, BPBD, Damkar, Satpol PP, Polres Bone, Kodim, Brimob, PSC, Pemerintah Kabupaten Bone, dan masyarakat setempat. Mereka terus melakukan pemantauan dan siaga di wilayah terdampak untuk mengantisipasi kondisi darurat lanjutan serta memastikan keselamatan masyarakat.
"Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan akan terus melakukan pemantauan dan siaga di wilayah terdampak banjir guna mengantisipasi adanya kondisi darurat lanjutan serta memastikan keselamatan masyarakat," ujar Andi Sultan.
Apa yang Menyebabkan Banjir di Bone?
Banjir ini merupakan dampak dari hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Bone sejak Kamis malam. Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat menyebabkan aliran air tidak mampu tertampung oleh sistem drainase yang ada serta sungai-sungai di sekitar Kota Watampone, sehingga meluap dan merendam permukiman warga.
Fenomena seperti ini menjadi perhatian penting mengingat potensi hujan ekstrem yang semakin meningkat akibat perubahan iklim global. Pengelolaan tata ruang dan sistem drainase yang memadai sangat dibutuhkan untuk meminimalisir dampak bencana serupa di masa depan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, banjir parah yang terjadi di Bone Sulsel bukan hanya soal kerugian material dan korban jiwa, tetapi juga menjadi peringatan serius mengenai kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di daerah rawan banjir. Meskipun tim SAR dan unsur terkait sigap melakukan evakuasi, kondisi jalan dan fasilitas umum yang terputus menunjukkan bahwa infrastruktur darurat dan sistem peringatan dini masih perlu ditingkatkan.
Bencana ini juga mencerminkan pola peningkatan curah hujan ekstrem yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia akibat perubahan iklim. Pemerintah daerah harus segera memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat untuk memperbaiki sistem tata kelola air dan drainase serta melakukan edukasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.
Ke depan, perhatian khusus harus diberikan pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, yang paling berisiko saat terjadi bencana seperti ini. Publik juga perlu terus mengikuti informasi resmi dari Basarnas dan BPBD agar dapat merespon dengan cepat apabila terjadi bencana susulan.
Untuk informasi lebih lengkap dan update kejadian ini, silakan kunjungi laporan resmi di Liputan6 Regional dan pantau berita terbaru dari CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0