Peternak Sapi Bekasi Waspadai Penyakit BEF Jelang Iduladha 2026
Peternak sapi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kini semakin waspada terhadap risiko penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) atau dikenal juga sebagai penyakit demam tiga hari yang melanda ternak menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Kekhawatiran ini muncul karena penyakit BEF dapat menyebabkan kematian mendadak pada sapi apabila tidak segera ditangani, sehingga menjadi fokus perhatian utama para peternak dan pedagang sapi di wilayah tersebut.
Penyakit BEF: Ancaman Lebih Berbahaya dari PMK
Karma, Ketua Kelompok Ternak BUMDes Cikahuripan di Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, menegaskan bahwa penyakit BEF memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang selama ini sudah dikenal oleh para peternak.
"Kalau PMK sudah biasa, ini sapi sesak napas, ngos-ngosan, panas kalau kena BEF. Itu 1×24 jam kalau tidak buru-buru ditangani bisa mati," ujar Karma di Cikarang, Jumat (8/5/2026).
Gejala BEF yang berupa gangguan pernapasan dan demam tinggi ini membuat penanganan cepat dan tepat menjadi sangat krusial untuk menyelamatkan ternak.
Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan Cepat
Karma juga menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui serangga pengisap darah, sehingga peternak dan pedagang hewan kurban harus mampu mengenali ciri-ciri awal penyakit agar dapat melakukan penanganan secara cepat dan efektif.
Menurutnya, dua ekor sapi milik BUMDes yang dikelola bersama sempat terjangkit penyakit BEF, namun berhasil diselamatkan setelah menjalani perawatan intensif. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi kelompok ternak untuk memperketat pola pemeliharaan dan pengawasan kesehatan ternak.
Strategi Perawatan dan Pencegahan Penyakit BEF
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh sapi dan mencegah penyebaran penyakit, Karma menyebutkan beberapa langkah yang diterapkan pada ternak, antara lain:
- Pengaturan pakan dengan kombinasi ampas tahu, konsentrat, jerami, dan rumput guna menjaga keseimbangan nutrisi.
- Pemberian vitamin dan obat cacing secara rutin setiap tiga bulan untuk menjaga kondisi kesehatan dan mengendalikan parasit.
- Memperketat proses pengawasan kesehatan dan pengelolaan kandang agar terhindar dari serangga pembawa virus.
Pemkab Bekasi juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan penyakit BEF menjelang Iduladha sebagai upaya antisipasi terhadap potensi kerugian di sektor peternakan serta menjaga kualitas hewan kurban yang akan dipasarkan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kewaspadaan yang ditingkatkan oleh peternak dan Pemkab Bekasi terhadap penyakit BEF merupakan langkah krusial dalam menjaga keberlangsungan usaha peternakan sapi, terutama menjelang momentum Iduladha yang menjadi puncak kebutuhan hewan kurban. Penyakit BEF yang berisiko menyebabkan kematian mendadak pada sapi berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar jika tidak ditangani serius.
Lebih jauh, perhatian ini harus didukung dengan edukasi yang masif kepada peternak tentang gejala penyakit dan cara pencegahannya, serta kolaborasi dengan dinas pertanian dan kesehatan hewan untuk pengawasan ketat di lapangan. Langkah preventif seperti pemberian suplemen dan pengendalian serangga pembawa virus harus menjadi standar pemeliharaan ternak.
Ke depan, perhatian terhadap penyakit BEF juga akan menjadi indikator penting dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga daging sapi di Jawa Barat. Masyarakat dan peternak perlu terus mengikuti update informasi dari sumber resmi agar respons terhadap penyakit ini dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini mengenai penyakit BEF di Bekasi, Anda dapat mengunjungi artikel asli di JPNN.com Jabar dan mengikuti berita terbaru terkait kesehatan hewan kurban di media terpercaya seperti Kompas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0