Rupiah Jeblok ke Rp17.963 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Prediksi Terbarunya
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi, tercatat berada di level Rp17.963 per dolar AS. Penurunan ini terjadi seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat yang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS, yang memicu tekanan pada mata uang Garuda.
Pergerakan Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya
Rupiah melemah sebesar 11 poin atau 0,06 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS cukup bervariasi:
- Ringgit Malaysia menguat 0,52%
- Peso Filipina naik 0,18%
- Yen Jepang meningkat 0,03%
- Yuan China melemah 0,03%
- Won Korea Selatan terdepresiasi 0,40%
- Dolar Singapura dan dolar Hong Kong bergerak stabil
Variasi ini menunjukkan bahwa pengaruh penguatan dolar AS tidak merata di kawasan Asia, tergantung pada kondisi ekonomi dan sentimen pasar masing-masing negara.
Pengaruh Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa penguatan dolar AS yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Hal ini menyebabkan indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam 13 bulan terakhir.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, membawa indeks dolar AS naik mencapai level tertinggi baru dalam 13 bulan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com pada Kamis (25/6).
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed biasanya memicu arus modal ke Amerika Serikat yang dianggap lebih menguntungkan, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan depresiasi.
Prediksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini akan berada dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS. Rentang ini menggambarkan volatilitas rupiah yang masih cukup tinggi akibat ketidakpastian kebijakan moneter AS dan sentimen pasar global.
Selain faktor eksternal, kondisi domestik seperti neraca perdagangan, cadangan devisa, serta kebijakan fiskal dan moneter Indonesia juga akan berperan dalam menentukan kekuatan rupiah.
Pergerakan Mata Uang Utama Negara Maju
Di pasar global, mata uang utama negara maju menunjukkan pergerakan yang beragam terhadap dolar AS:
- Franc Swiss menguat 0,04%
- Poundsterling Inggris naik tipis 0,01%
- Dolar Australia terkoreksi 0,09%
- Euro Eropa turun 0,01%
- Dolar Kanada melemah 0,01%
Pergerakan ini menunjukkan bahwa dolar AS masih sangat dominan dan menjadi aset safe haven utama di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pelemahan rupiah kali ini bukan hanya akibat sentimen jangka pendek atas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tapi juga mencerminkan tantangan fundamental yang lebih luas bagi mata uang negara berkembang. Ketergantungan Indonesia pada aliran modal asing membuat rupiah rentan terhadap perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Selain itu, volatilitas rupiah yang tinggi dapat berdampak pada biaya impor dan investasi, yang pada akhirnya mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus memperkuat stabilitas makroekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor untuk meredam tekanan tersebut.
Ke depan, penting bagi pelaku pasar untuk memantau kebijakan The Fed secara ketat serta merespons perkembangan global yang bisa mempercepat atau menunda keputusan suku bunga. Juga, langkah-langkah penguatan ekonomi domestik akan menjadi kunci dalam menahan pelemahan rupiah agar tidak berlarut.
Untuk informasi lebih lengkap terkait pergerakan rupiah dan kebijakan moneter global, Anda bisa mengunjungi sumber asli berita di CNN Indonesia dan mengikuti update di situs resmi Bank Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0