Ahli Gizi Sebut Program Makan Bergizi Gratis Efektif Cegah Penyakit Tidak Menular
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini mendapat sorotan penting dari kalangan ahli gizi sebagai solusi strategis untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM) sejak usia dini. Dr. Doddy Izwardy, ahli gizi dan Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), menyatakan bahwa MBG lebih dari sekadar program bantuan pangan; ini adalah investasi jangka panjang dalam pembangunan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
MBG sebagai Instrumen Pencegahan Penyakit Tidak Menular
Dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (1/7), Doddy menekankan pentingnya pengalokasian anggaran MBG dalam anggaran pendidikan APBN 2026. Ia menegaskan bahwa program ini berperan vital dalam mengatasi beban ganda malnutrisi pada anak usia sekolah, yaitu tingginya prevalensi stunting sekaligus obesitas.
“Intervensi anak sekolah harus diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan PTM. Ini yang menjadi penekanan kami,” ujar Doddy.
Data Survei Kesehatan Indonesia dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada kelompok usia 5–12 tahun mencapai 23,6 persen, sedangkan angka obesitas dan kelebihan berat badan sekitar 20 persen. Kedua kondisi ini, kata Doddy, memiliki risiko tinggi terhadap munculnya penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular di masa depan.
Kesenjangan Gizi dan Pola Hidup Anak Sekolah
Doddy juga mengangkat isu kesenjangan status gizi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Stunting lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, sedangkan obesitas lebih dominan di perkotaan. Faktor penyebab lain yang diperhatikan meliputi rendahnya aktivitas fisik anak, kebiasaan hidup bersih yang belum optimal, serta tingginya konsumsi pangan tidak sehat yang mengandung gula, garam, dan lemak berlebih (GGL).
Namun, program MBG menunjukkan hasil positif selama 16 bulan pelaksanaan dengan peningkatan konsumsi buah dan sayur di kalangan pelajar. Hal ini mendorong terbentuknya pola makan yang lebih sehat dan seimbang, sekaligus berkontribusi pada pengurangan risiko PTM.
MBG sebagai Investasi Pembangunan Sumber Daya Manusia
Lebih jauh, Doddy menegaskan MBG bukanlah sekadar bantuan makan siang biasa, melainkan sebuah investasi sumber daya manusia yang harus dipandang lintas sektor. Program ini sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mengentaskan kelaparan, meningkatkan kesehatan, kualitas pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Program gizi sekolah harus dipandang sebagai investasi human capital, bukan hanya bantuan makan,” tegas Doddy.
Dengan upaya ini, generasi penerus diharapkan tumbuh sehat, cerdas, dan produktif, yang pada akhirnya akan memperkuat daya saing bangsa di masa depan.
Langkah dan Tantangan ke Depan
Implementasi program MBG memerlukan dukungan anggaran yang cukup dan komitmen lintas kementerian, terutama pendidikan dan kesehatan. Evaluasi berkala dan pengawasan ketat juga penting untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan program. Selain itu, edukasi pola hidup sehat harus terus digalakkan agar anak-anak tidak hanya mendapat nutrisi yang cukup dari MBG, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat secara menyeluruh.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pengakuan MBG sebagai instrumen pencegahan PTM merupakan langkah maju dalam kebijakan kesehatan dan pendidikan nasional. Meski sering dipandang sebagai program sosial biasa, MBG sejatinya dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk kualitas generasi muda yang bebas dari beban penyakit kronis yang menggerogoti produktivitas bangsa.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana pemerintah mengintegrasikan program MBG dengan kebijakan lainnya, seperti pengaturan pangan sehat di sekolah dan aktivitas fisik rutin. Jika tidak, program ini berisiko menjadi solusi parsial yang kurang efektif. Selain itu, perhatian khusus harus diberikan pada keterjangkauan dan pemerataan pelaksanaan MBG di seluruh wilayah, terutama daerah terpencil dan pedesaan yang masih menghadapi tantangan stunting tinggi.
Masyarakat dan pemangku kepentingan juga sebaiknya aktif mengawasi dan mendukung pelaksanaan MBG agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara luas. Ke depan, keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan Indonesia dalam menyiapkan SDM unggul yang sehat dan berdaya saing.
Untuk informasi lebih lengkap dan perkembangan terbaru tentang program MBG dan upaya pencegahan penyakit tidak menular, Anda dapat mengunjungi sumber berita aslinya di Media Indonesia serta situs resmi kementerian kesehatan dan pendidikan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0