Harga Properti Australia Anjlok Terbesar Sejak 2022, Ini Penyebabnya
Harga properti di Australia mengalami penurunan bulanan terdalam dalam tiga setengah tahun pada Juni 2026, menandai perubahan signifikan di pasar yang sebelumnya mengalami kenaikan tajam. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tekanan dari suku bunga pinjaman yang tinggi dan kondisi ekonomi makro yang mulai memengaruhi permintaan rumah.
Penurunan Harga Properti Nasional dan Dampak Wilayah
Berdasarkan data dari Cotality, harga rumah secara nasional turun 0,4 persen pada Juni 2026 dibanding bulan sebelumnya, menjadi koreksi terbesar sejak Desember 2022. Meski begitu, secara tahunan harga masih mencatat kenaikan sebesar 7,3 persen.
Data revisi beberapa bulan sebelumnya mengindikasikan harga rumah kemungkinan telah mencapai puncaknya pada Maret 2026, kemudian turun sekitar 0,7 persen sepanjang kuartal II 2026. Penurunan harga paling signifikan terjadi di dua kota terbesar Australia, yaitu:
- Sydney: harga rumah turun 1,2 persen dalam sebulan
- Melbourne: harga rumah melemah 1,0 persen
Sementara itu, kota-kota besar lainnya menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga, dengan Adelaide stagnan, Brisbane naik tipis 0,3 persen, dan Perth meningkat 0,7 persen.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Properti
Perlambatan pasar properti ini merupakan koreksi setelah harga properti nasional naik lebih dari 30 persen dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini berlangsung meski Australia menghadapi pandemi Covid-19, lockdown, dan lonjakan biaya pinjaman, yang tetap tertopang oleh pasokan rumah yang terbatas dan pertumbuhan populasi yang kuat.
Direktur Riset Cotality, Tim Lawless, menjelaskan bahwa penurunan permintaan sudah mulai terlihat sebelum kenaikan suku bunga bank sentral sebesar 75 basis poin.
"Bahkan sebelum suku bunga naik 75 basis poin, kami sudah melihat kendala keterjangkauan mulai menekan permintaan pembeli," ujar Lawless, dikutip dari Reuters.
Selain itu, meningkatnya biaya hidup, memburuknya sentimen konsumen, dan perubahan kebijakan pajak properti yang diumumkan pemerintah federal turut memperburuk kondisi pasar perumahan.
"Meningkatnya tekanan biaya hidup, sentimen yang sangat pesimistis, serta melemahnya permintaan akibat perubahan kebijakan pajak properti yang diumumkan dalam anggaran pemerintah federal semuanya berkontribusi terhadap melemahnya kondisi pasar perumahan," jelas Lawless.
Penurunan Permintaan Kredit dan Dampak Pasar Perumahan
Tekanan di sektor properti juga terlihat dari penurunan permintaan kredit kepemilikan rumah (KPR). Data Equifax menunjukkan permintaan KPR turun 6,6 persen dalam lima bulan hingga Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini lebih dalam dibandingkan 0,9 persen pada Januari-April 2026.
Permintaan dari pembeli rumah pertama bahkan merosot 9,1 persen. Sementara itu, tingkat keberhasilan lelang rumah di kota-kota besar turun menjadi 47,4 persen pekan lalu, terendah sejak April 2020 saat pandemi melumpuhkan aktivitas ekonomi.
Penjualan rumah di kota-kota besar selama kuartal II 2026 juga turun 16,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Reserve Bank of Australia (RBA) menyatakan pasar perumahan mulai melunak, dengan pertumbuhan kredit perumahan yang diperkirakan terus melambat. RBA mengingatkan risiko pelemahan pasar yang lebih dalam dapat menekan konsumsi rumah tangga.
Prediksi dan Prospek Pasar Properti Australia
Sejumlah ekonom memperkirakan harga rumah Australia akan terus melemah sepanjang 2026, khususnya di Sydney dan Melbourne. Namun, keterbatasan pasokan rumah dan potensi berkurangnya aksi jual investor akibat perubahan pajak yang tidak berlaku surut diperkirakan akan membatasi penurunan harga secara drastis.
Data izin pembangunan unit hunian resmi pemerintah juga menunjukkan penurunan, yakni turun 1,1 persen pada Mei 2026 setelah turun 0,2 persen pada April, menandakan tekanan pada pasokan perumahan masih berlanjut.
Pasar menilai siklus kenaikan suku bunga Australia kemungkinan telah mencapai puncaknya, dengan hanya diperkirakan kenaikan tambahan sebesar 12 basis poin hingga akhir tahun. Bahkan, mulai muncul perhitungan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada akhir 2027.
Lembaga keuangan AMP memperkirakan harga rumah akan terkoreksi sekitar 6 persen dari puncaknya dan mencapai titik terendah pada pertengahan 2027 saat penurunan suku bunga mulai dilakukan.
Kepala Ekonom AMP, Shane Oliver, menilai, "Banyak faktor pendorong supercycle kenaikan harga properti kini mulai memudar. Kita mungkin akan melihat harga mencapai titik terendah pada pertengahan tahun depan, tetapi fase kenaikan berikutnya kemungkinan akan lebih moderat dibandingkan sebelumnya."
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penurunan harga properti Australia yang terdalam sejak 2022 ini menandai perubahan penting dalam siklus pasar properti yang selama lima tahun terakhir didorong oleh suku bunga rendah dan permintaan kuat. Kenaikan suku bunga yang agresif serta faktor-faktor makro seperti tekanan biaya hidup dan kebijakan pajak baru mempercepat koreksi ini.
Meski penurunan harga akan menekan sentimen pemilik rumah dan sektor konstruksi, keterbatasan pasokan properti tetap menjadi penyangga alami yang membatasi penurunan lebih dalam. Ini juga menunjukkan bahwa pasar properti Australia memasuki fase penyesuaian yang lebih sehat setelah periode pertumbuhan yang tidak berkelanjutan.
Ke depan, penting untuk memantau kebijakan moneter RBA dan respons pasar terhadap kemungkinan perubahan suku bunga, karena hal tersebut akan sangat menentukan arah pasar properti nasional. Selain itu, perubahan kebijakan pajak properti juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi perilaku investor dan pembeli rumah pertama.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0