ISNA Soroti Pemenuhan Gizi Atlet yang Masih Lemah dan Siapkan Pelatihan Sport Diet
Pemenuhan gizi atlet di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Kecukupan energi dan kalori merupakan fondasi utama dalam mencetak atlet yang sehat, bugar, dan berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini disampaikan dalam pemaparan Ketua PP Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., MPH., RD, di Surabaya pada Sabtu (4/7/2026).
Dr. Mirza menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak bisa hanya berfokus pada latihan fisik dan peningkatan massa otot saja. "Aspek pemenuhan gizi harus menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap performa, proses pemulihan, hingga kesehatan atlet," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tanpa asupan gizi yang memadai, performa atlet tidak akan optimal.
Masih Banyak Atlet Belum Terpenuhi Kebutuhan Gizinya
Menurut Dr. Mirza, hingga saat ini banyak atlet Indonesia yang belum memperoleh asupan makanan sesuai kebutuhan. Permasalahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perbedaan kemampuan penyelenggara olahraga di tiap daerah serta kurang meratanya pemahaman tentang penyusunan menu dan kebutuhan energi atlet.
"Apabila kebutuhan gizi atlet dapat dipenuhi hingga sekitar 70–80 persen sesuai standar, maka kualitas pemenuhan energi akan meningkat signifikan dan berdampak positif pada performa olahraga," jelasnya. Oleh karena itu, ISNA terus mendorong agar seluruh penyelenggara olahraga memiliki pemahaman yang sama terkait angka kecukupan gizi, perencanaan menu, dan pendampingan atlet.
Upaya ISNA dalam Meningkatkan Kompetensi Gizi dan Anti-Doping
ISNA berkomitmen untuk mendukung berbagai pemangku kepentingan melalui penyusunan standar kebutuhan gizi atlet, edukasi, serta pengawasan pelaksanaan program gizi. Selain itu, mereka juga menghadirkan dashboard edukasi yang diperbarui setiap bulan, sebagai pusat pembelajaran bagi tenaga kesehatan, ahli gizi, dan praktisi olahraga agar memperoleh informasi terbaru mengenai sport nutrition.
Dalam rangka meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang ini, ISNA akan menggelar dua pelatihan nasional pada tahun 2026:
- Pelatihan Sport Diet di Batam pada Agustus yang fokus pada asuhan gizi atlet, mulai dari asesmen status gizi, penyusunan intervensi gizi, hingga monitoring dan evaluasi.
- Pelatihan Anti-Doping pada September yang digelar secara hybrid, terdiri dari dua hari pembelajaran daring dan dua hari praktik luring di Bandung.
"Harapan kami, semakin banyak tenaga kesehatan, ahli gizi, dan praktisi olahraga yang kompeten di bidang sport nutrition dan anti-doping sehingga pembinaan atlet Indonesia semakin profesional," tutup Dr. Mirza.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, sorotan ISNA terhadap pemenuhan gizi atlet yang masih lemah mengungkap sebuah masalah fundamental yang kerap terlupakan dalam pembinaan olahraga Indonesia. Selama ini fokus utama pembinaan lebih banyak mengarah pada latihan fisik dan teknik, tanpa diimbangi dengan perhatian serius pada asupan gizi yang menjadi bahan bakar utama performa atlet.
Ketimpangan pemahaman dan implementasi standar gizi antar daerah juga menjadi hambatan besar yang harus segera diatasi. Program pelatihan yang disiapkan ISNA menjadi langkah strategis untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan praktisi olahraga di seluruh Indonesia. Ini bukan hanya soal meningkatkan performa atlet, tapi juga menjaga kesehatan jangka panjang mereka.
Kedepannya, perhatian pemerintah dan stakeholder olahraga sangat dibutuhkan agar rekomendasi dan program ISNA dapat diadopsi secara luas. Dengan demikian, Indonesia bisa secara lebih serius menggenjot prestasi olahraga sekaligus menciptakan ekosistem pembinaan atlet yang berkelanjutan dan profesional.
Untuk informasi lebih detail dan update program pelatihan ISNA, Anda bisa mengunjungi sumber resmi ISNA dan mengikuti berita olahraga terpercaya lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0