Selisih Paham Ulama vs Pejabat hingga Rumor Kudeta di Iran Meningkat
Ketegangan politik di Iran semakin memanas dengan beredarnya rumor kudeta dan perpecahan antara kubu ulama garis keras dan pejabat politik. Situasi ini semakin menguat di tengah tekanan baru dari Amerika Serikat yang mengguncang stabilitas pemerintahan Iran dan membuat gencatan senjata serta nota kesepahaman (MoU) tampak tidak efektif.
Perpecahan dalam Pemerintahan Iran Meningkat
Perpecahan ini menjadi semakin nyata saat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei pada awal Juli 2026 di Teheran. Dalam acara tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjalan di samping peti jenazah, namun sejumlah pelayat justru meneriakkan slogan yang menentang pejabat kompromis seperti Pezeshkian, dengan seruan "Mati bagi para kompromis!".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menjadi tokoh perunding utama dengan Amerika Serikat, mendapat perlakuan kasar hingga dilempari batu oleh massa yang menuduhnya sebagai "pengkhianat yang menjual negara". Padahal, Araghchi berhasil mengurangi sanksi internasional melalui perundingan yang rumit.
Penguatan Kubu Garis Keras dan Tuduhan Kudeta
Menurut laporan CNN Indonesia, permusuhan terhadap pejabat tinggi ini mencerminkan semakin kuatnya pandangan kubu ultra-garis keras yang menuduh para pejabat yang menandatangani kesepakatan dengan AS sedang melakukan "kudeta lunak" terhadap negara dan nilai-nilai revolusi Iran.
Hal ini diperparah oleh ketidakhadiran publik Ayatollah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi yang baru, yang hampir tidak pernah tampil sejak menjabat. Ketiadaannya menimbulkan spekulasi apakah ia bersembunyi karena alasan keamanan atau kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk tampil.
Kubu garis keras yang hadir dalam jumlah besar di pemakaman menilai pejabat pemerintah lebih memilih menyerah kepada AS daripada membalas kematian Ali Khamenei, yang dianggap bertentangan dengan arahan Mojtaba. Namun, Mojtaba masih menjalankan kekuasaan secara tersembunyi sementara pejabat seperti Pezeshkian, Araghchi, dan Ketua Negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf menjadi wajah pemerintahan.
Tuduhan Kudeta dan Ancaman Terhadap Presiden
Anggota parlemen garis keras, Mahmoud Nabavian, menyebutkan potensi "kudeta" melalui unggahan di platform X, dan mengajak rakyat untuk berdiri melawan kudeta yang diduga sedang berlangsung. Tuduhan ini dipicu oleh ketidakmampuan kelompok ultra-garis keras untuk mengakses langsung Mojtaba Khamenei, sementara Ghalibaf dan sekutunya dianggap menjalankan negara tanpa arahan pemimpin tertinggi.
Situasi semakin memanas ketika seorang penyanyi religi dekat aparat keamanan, Mohammad Ali Bakhshi, secara terbuka mengancam Presiden Pezeshkian dengan kata-kata keras jika tidak memenuhi syarat Pemimpin Tertinggi, bahkan mengancam keselamatannya secara langsung. Ancaman ini menuai kecaman luas, namun belum ada tindakan hukum yang diketahui terhadap Bakhshi.
Konflik Politik dan Dampak Geopolitik
Ketegangan antara dua kubu ini tidak hanya mencerminkan perpecahan internal Iran, tetapi juga memperumit posisi Iran di arena internasional, khususnya dalam menghadapi Amerika Serikat. Kegagalan menjaga kesepakatan dan adanya rumor kudeta dapat melemahkan posisi Iran dalam negosiasi diplomatik dan meningkatkan risiko konflik terbuka.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, perpecahan mendalam antara ulama garis keras dan pejabat politik di Iran merupakan indikator krisis legitimasi dalam pemerintahan Republik Islam. Ketidakmampuan Pemimpin Tertinggi baru untuk muncul ke publik dan mengendalikan situasi memperlihatkan adanya ketidakpastian kekuasaan yang berpotensi memicu konflik internal yang lebih serius.
Selain itu, tuduhan kudeta lunak yang dilemparkan kubu garis keras terhadap para pejabat yang menegosiasikan gencatan senjata dengan AS memperlihatkan bagaimana politik Iran sedang mengalami polarisasi tajam. Jika situasi ini terus berlanjut, Iran bisa memasuki fase ketidakstabilan yang berisiko memperlemah posisi negara di kancah regional dan global, serta membuka peluang intervensi eksternal lebih lanjut.
Penting bagi pengamat internasional dan masyarakat global untuk memantau perkembangan politik Iran secara seksama, karena dinamika internal ini tidak hanya mempengaruhi keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga keseimbangan kekuatan global.
Untuk update perkembangan terbaru terkait politik dan keamanan di Iran, terus pantau berita dari sumber terpercaya dan analis ahli di bidang Timur Tengah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0