Google dan Apple Hadapi Tekanan Uni Eropa Atas Masa Depan Asisten AI

Jul 19, 2026 - 20:20
 0  2
Google dan Apple Hadapi Tekanan Uni Eropa Atas Masa Depan Asisten AI

Google dan Apple memegang posisi dominan dalam persaingan kecerdasan buatan (AI) berkat kendali mereka atas miliaran smartphone di seluruh dunia. Namun, dominasi ini kini menghadapi tantangan besar dari Komisi Eropa, yang berupaya membuka akses bagi asisten AI lain di perangkat Android dan iOS guna menciptakan persaingan yang lebih sehat dan menjamin privasi pengguna.

Ad
Ad

Dominasi Google dan Apple di Pasar Smartphone dan AI

Menurut data dari firma riset pasar Omdia, Google dan Apple menguasai sekitar 5 miliar perangkat aktif Android dan iPhone secara global. Kedua perusahaan ini terus mengembangkan asisten AI mereka—Google dengan Gemini dan Apple dengan Siri—untuk tidak hanya menjawab pertanyaan tetapi juga membantu menyelesaikan berbagai tugas secara otomatis.

Namun, seiring dengan makin meluasnya penggunaan AI, Komisi Eropa melihat perlunya persaingan yang lebih adil, khususnya di wilayah Uni Eropa yang memiliki sekitar 427 juta smartphone yang tunduk pada regulasi baru.

Regulasi Digital Markets Act dan Tuntutan Uni Eropa

Dalam rangka meningkatkan persaingan, Uni Eropa menerapkan Digital Markets Act (DMA) yang mulai berlaku pada 2023. Regulasi ini menuntut Google membuka akses bagi asisten AI pihak ketiga di perangkat Android paling lambat Juli 2027. Selain itu, Google juga harus membagikan data pencarian kepada mesin pencari dan chatbot AI lain untuk memberikan pengalaman serupa dengan Google Search.

Komisi Eropa menegaskan bahwa pengguna Android harus dapat mengakses berbagai layanan AI dengan suara dan menggunakan asisten AI pihak ketiga untuk mengoperasikan aplikasi, sama seperti dengan Gemini dari Google. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan pilihan yang lebih luas dan fitur yang lebih kaya bagi pengguna.

Penolakan dan Kekhawatiran Google dan Apple

Google menyatakan bahwa membuka akses bagi aplikasi eksternal akan menimbulkan risiko keamanan serius. Kent Walker, Presiden Urusan Global Google dan Alphabet, menyatakan bahwa hal ini dapat memberikan izin perangkat yang sensitif dan kuat kepada aplikasi luar, yang berpotensi membahayakan privasi, rahasia dagang, dan bahkan keamanan nasional.

Sementara itu, Sameer Samat, Presiden Android Google, menyebutkan bahwa pengguna sudah diberi opsi untuk mengganti asisten AI default di pengaturan perangkat, sehingga aturan Uni Eropa dianggap tidak perlu. Apple juga mengungkapkan kekhawatiran serupa, menolak peluncuran asisten AI terbaru mereka di wilayah Uni Eropa karena ketentuan DMA yang memaksa akses data pribadi pengguna oleh asisten AI pihak ketiga.

Seorang juru bicara Komisi Eropa menyatakan bahwa perusahaan besar yang masuk kategori "gatekeepers" dalam DMA dapat menerapkan perlindungan privasi, keamanan, dan integritas yang tepat untuk memenuhi regulasi tersebut.

Dampak Terhadap Persaingan dan Privasi Pengguna

Penerapan aturan ini diprediksi akan mengurangi dominasi Apple dan Google atas software smartphone di Eropa. Misalnya, ChatGPT saat ini sudah terpasang di sekitar 30% smartphone di Uni Eropa dan berpotensi mendapatkan keunggulan lebih besar jika akses platform dibuka.

Menurut analis Omdia, Runar Bjorhovde, jika pengguna dapat menggunakan ChatGPT untuk melakukan layanan seperti memesan Uber tanpa melalui Android, maka hal ini bisa menjadi tantangan besar bagi pengaruh Google di pasar.

Namun, isu privasi tetap menjadi perhatian utama. Memberikan akses yang lebih dalam kepada aplikasi pihak ketiga untuk mengendalikan perangkat bisa membuka celah penyalahgunaan data pribadi—termasuk pesan, lokasi, mikrofon, dan layar pengguna.

Calli Schroeder, penasihat senior di Electronic Privacy and Information Center, mengingatkan bahwa tanpa pengamanan yang tepat, aplikasi bisa menyalahgunakan otoritas yang diberikan oleh pengguna, dan bahwa kesadaran pengguna terhadap risiko AI masih harus ditingkatkan.

Selain itu, Michael Stokes dari Veilant menambahkan bahwa kegagalan fungsi AI dengan akses penuh terhadap perangkat bisa berakibat serius bagi pengguna. Oleh karena itu, keputusan tentang pemberian izin tersebut harus diawasi dengan ketat oleh produsen perangkat seperti Samsung.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, upaya Uni Eropa untuk membuka akses AI di smartphone merupakan langkah penting dalam menghadirkan persaingan yang lebih sehat di industri teknologi. Dominasi Google dan Apple selama ini menghambat inovasi dan pilihan konsumen, sehingga regulasi seperti Digital Markets Act bisa menjadi game-changer bagi pasar AI di Eropa dan bahkan dunia.

Namun, kekhawatiran privasi yang diangkat oleh kedua perusahaan juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tantangan utama adalah menciptakan mekanisme keamanan dan transparansi yang mampu melindungi data pribadi pengguna tanpa mengorbankan inovasi dan aksesibilitas layanan AI.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Uni Eropa dan para raksasa teknologi ini dapat menemukan keseimbangan antara regulasi ketat dan pengembangan teknologi yang aman. Perkembangan ini juga akan menjadi indikator penting dalam globalisasi regulasi AI yang makin menjadi sorotan di berbagai negara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai regulasi ini, Anda dapat membaca langsung di sumber aslinya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad