Banjir di Tujuh Kecamatan Pasuruan Mulai Berangsur Surut, BPBD Terus Pantau
Banjir yang melanda tujuh kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mulai mengalami penurunan ketinggian air pada Senin, 23 Maret 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kondisi terkini ini sebagai hasil dari upaya penanganan darurat yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat selama periode 23-24 Maret 2026.
Detail Penanganan dan Kondisi Terkini Banjir di Pasuruan
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa banjir merendam tujuh kecamatan di Kabupaten Pasuruan, yakni Pandaan, Winongan, Pohjentrek, Grati, Rejoso, Kraton, dan Bangil. Berdasarkan pendataan terakhir, sebanyak 4.263 unit rumah warga terdampak banjir di wilayah tersebut.
"Tujuh kecamatan yang terendam banjir antara lain Kecamatan Pandaan, Winongan, Pohjentrek, Grati, Rejoso, Kraton, dan Bangil. Merujuk pendataan terakhir, terdapat 4.263 unit rumah warga pada tujuh kecamatan tersebut terendam banjir," ujar Abdul Muhari.
Hampir seluruh lokasi banjir telah mulai surut, hanya tersisa wilayah di Kecamatan Rejoso dengan ketinggian muka air berkisar 30 sampai 40 sentimeter. BPBD Kabupaten Pasuruan bersama dengan perangkat daerah terus melakukan pemantauan khusus untuk wilayah yang masih tergenang.
Banjir di Kota Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto
Selain Kabupaten Pasuruan, di Kota Pasuruan banjir juga terjadi akibat meluapnya debit air Sungai Welang. Sekitar 100 unit rumah di Kecamatan Gadingrejo terdampak banjir yang mulai menggenangi sejak Sabtu, 21 Maret 2026, dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter. BPBD Kota Pasuruan segera melakukan asesmen dan pemantauan secara berkala, serta mendorong warga untuk bergotong royong membersihkan lingkungan setelah banjir surut.
"Pada saat kejadian, BPBD Kota Pasuruan langsung menuju lokasi untuk melakukan asesmen dan pemantauan secara berkala. Kondisi saat ini, banjir telah surut. Warga saling bergotong royong untuk lakukan pembersihan," tambah Abdul Muhari.
Sementara itu, di Kabupaten Mojokerto, hujan dengan intensitas tinggi pada Jumat, 20 Maret 2026, menyebabkan debit air sungai dan drainase meluap ke pemukiman warga. Banjir menggenangi 333 unit rumah, akses jalan desa, dan lahan seluas 61,5 hektare dengan ketinggian air antara 100 sampai 300 sentimeter.
BPBD Kabupaten Mojokerto bersama lintas instansi telah melakukan upaya penanganan darurat termasuk penyediaan perahu fiber, penyedotan air menggunakan pompa, penyaluran air bersih, serta mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Saat ini, kondisi banjir di wilayah tersebut sudah mulai surut.
Imbauan BNPB Menjelang Arus Balik Lebaran 2026
Memasuki masa arus balik Lebaran 2026, BNPB mengimbau masyarakat yang melakukan perjalanan jauh untuk selalu waspada, terutama saat berada di wilayah rawan bencana. Berikut beberapa langkah kesiapsiagaan yang disarankan:
- Cek jalur mudik aman bencana melalui platform InaRISK
- Pantau kondisi cuaca di lokasi sekitar atau tujuan perjalanan
- Pastikan kendaraan dalam kondisi layak jalan
- Pahami rambu keselamatan selama perjalanan
- Segera hubungi petugas jika terjadi keadaan darurat di lokasi
"Pastikan kondisi kendaraan yang digunakan dalam kondisi yang layak jalan, pahami rambu-rambu keselamatan ketika berada di perjalanan, apabila terjadi keadaan darurat segera hubungi petugas yang bersiaga di lokasi sekitar anda," jelas Abdul Muhari.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penanganan banjir di Kabupaten Pasuruan dan wilayah sekitarnya memperlihatkan koordinasi yang cukup baik antara BNPB dan pemerintah daerah, terutama dalam hal pemantauan dan evakuasi awal. Kemampuan respon cepat BPBD dan penyediaan fasilitas darurat seperti dapur umum dan perahu fiber menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana bagi warga terdampak.
Meski banjir mulai surut, perhatian khusus tetap harus diberikan pada wilayah yang masih tergenang seperti Kecamatan Rejoso. Potensi banjir susulan akibat curah hujan yang tidak menentu masih menjadi ancaman. Selain itu, kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana harus semakin ditingkatkan, terutama menjelang musim hujan dan arus balik Lebaran yang sering memicu risiko kecelakaan dan kondisi darurat lainnya.
Ke depan, perlu ada peningkatan sistem peringatan dini dan pengelolaan tata ruang yang lebih baik untuk mengurangi risiko banjir di wilayah rawan. Masyarakat juga disarankan aktif memanfaatkan teknologi informasi seperti InaRISK untuk mendapatkan informasi terkini dan akurat mengenai potensi bencana.
Dengan langkah-langkah pencegahan dan kesiapsiagaan yang matang, diharapkan dampak bencana banjir dapat diminimalisir dan keselamatan masyarakat tetap terjaga.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0