Revitalisasi Terminal Kampung Rambutan Jadi Solusi Antisipasi Banjir di Jakarta Timur
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mempersiapkan revitalisasi Terminal Kampung Rambutan sebagai langkah antisipasi terhadap permasalahan banjir yang kerap terjadi di kawasan tersebut, terutama saat hujan deras mengguyur. Peristiwa genangan air yang terjadi pada Sabtu, 21 Maret 2026, menjadi pemicu utama rencana pembenahan terminal yang sudah beroperasi sejak era 1990-an ini.
Genangan Air Mendorong Revitalisasi Terminal Kampung Rambutan
Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, revitalisasi Terminal Kampung Rambutan merupakan solusi jangka menengah hingga panjang yang akan dilakukan guna mengantisipasi terjadinya genangan air serupa. Saat meninjau kesiapan arus balik di terminal pada Selasa lalu, Syafrin menegaskan bahwa rencana ini tengah dibahas secara matang agar terminal mampu berfungsi optimal tanpa terganggu banjir.
"Tentu untuk jangka menengah dan panjang kita akan lakukan revitalisasi Terminal Kampung Rambutan. Ini masih dibahas untuk antisipasi terjadinya genangan serupa," ujarnya.
Terminal yang berlokasi di Jakarta Timur ini sudah berusia lebih dari tiga dekade dan belum mengalami pembaruan signifikan. Oleh sebab itu, revitalisasi dianggap krusial untuk menyesuaikan kondisi infrastruktur dengan perkembangan kawasan sekitar yang semakin pesat.
Integrasi Moda Transportasi dan Konsep Transit Oriented Development
Selain masalah genangan, revitalisasi terminal juga bertujuan menjadikan kawasan Kampung Rambutan sebagai pusat transportasi modern yang terintegrasi. Saat ini, terminal tersebut telah terhubung dengan berbagai moda transportasi seperti LRT Jabodebek dan layanan Transjakarta.
Syafrin menjelaskan, kawasan ini akan dikembangkan dengan prinsip Transit Oriented Development (TOD), sebuah konsep yang mengintegrasikan moda transportasi dengan kawasan hunian dan komersial. Prinsip TOD menekankan efisiensi mobilitas masyarakat dan pengurangan ketergantungan pada kendaraan pribadi.
"Kawasan ini akan terus ditingkatkan menjadi kawasan dengan prinsip Transit Oriented Development," kata Syafrin.
Langkah Konkret dan Koordinasi Antar Lembaga
Meski revitalisasi masih dalam tahap perencanaan, Pemprov DKI telah melakukan sejumlah langkah antisipatif untuk mencegah genangan air berulang. Salah satunya adalah pembersihan saluran air secara menyeluruh agar tidak terjadi penyumbatan yang dapat menghambat aliran air saat hujan deras.
"Yang pertama tentu kami melakukan pembersihan. Saluran air kita pastikan tidak ada sumbatan," ujar Syafrin.
Selain itu, Dinas Perhubungan juga berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta untuk mengkaji dan menyesuaikan infrastruktur terkait potensi luapan sungai di sekitar terminal. Kerja sama lintas instansi ini diharapkan mampu meminimalisir risiko banjir di area terminal yang merupakan simpul transportasi penting di Jakarta Timur.
Data dan Dampak Genangan Terakhir
Genangan air yang terjadi pada Sabtu malam hingga Minggu pagi sempat mencapai ketinggian hingga 50 sentimeter pada puncaknya sekitar pukul 01.30 WIB. Area terdampak meliputi terminal dalam kota dan layanan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), bahkan kantor pengelola terminal juga terendam air setinggi sekitar lima sentimeter.
"Genangan mulai terjadi sekitar pukul 21.00 dengan ketinggian 30 sentimeter, kemudian mencapai puncaknya sekitar 50 sentimeter pada pukul 01.30. Namun pagi ini air sudah berangsur surut," ujar Pengendali Terminal Kampung Rambutan, Mulyono.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, revitalisasi Terminal Kampung Rambutan bukan hanya sekadar upaya mengatasi masalah banjir, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat konektivitas transportasi di Jakarta Timur. Mengingat terminal ini merupakan titik vital bagi mobilitas masyarakat, pembenahan infrastruktur harus menyasar aspek drainase, kenyamanan, dan integrasi moda transportasi secara holistik.
Selain itu, penerapan konsep Transit Oriented Development diharapkan bisa mengubah pola pemanfaatan lahan dan mobilitas warga, yang selama ini masih tergantung pada kendaraan pribadi. Jika berhasil, ini akan menjadi contoh pengembangan terminal terpadu yang bisa direplikasi di kawasan lain di Jakarta.
Namun, tantangan utama adalah kesiapan fiskal Pemprov DKI dalam merealisasikan rencana revitalisasi ini. Penanganan jangka pendek seperti pembersihan saluran air memang perlu dilakukan secara rutin, tetapi renovasi besar memerlukan komitmen anggaran dan perencanaan jangka panjang yang matang.
Ke depan, masyarakat perlu terus memantau perkembangan proyek ini. Implementasi revitalisasi Terminal Kampung Rambutan akan menjadi indikator penting bagaimana pemerintah menangani permasalahan banjir sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di ibu kota.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0