Video AI Buah Viral dengan Konten Gelap dan Misoginis yang Mengkhawatirkan

Mar 26, 2026 - 07:10
 0  2
Video AI Buah Viral dengan Konten Gelap dan Misoginis yang Mengkhawatirkan

Dalam lima hari terakhir, sebuah akun Instagram bernama FruitvilleGossip berhasil mengumpulkan lebih dari 300.000 penonton lewat serangkaian video bertajuk Fruit Paternity Court. Menggunakan karakter buah yang sepenuhnya digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI), acara ini menampilkan seorang ibu clementine yang menuntut pengakuan ayah atas bayi tangerine-nya dari Mr. Mike, si mangga. Namun, hasil tes DNA yang dibacakan oleh Dr. Lime mengungkap bahwa Mr. Mike bukan ayah si bayi.

Ad
Ad

Meski terlihat konyol, video ini memikat banyak penonton dengan komentar seperti, "Entah kenapa aku ikut terlibat dalam kehidupan buah-buahan ini," dan "Cepat rilis episode terakhirnya malam ini, kami butuh!"

Konten Gelap dan Narasi Misoginis dalam Video AI Buah

Di balik popularitasnya, video-video AI buah ini menampilkan tema-tema gelap dan misoginis yang mengkhawatirkan. Tokoh perempuan buah seringkali digambarkan dalam situasi memalukan dan kekerasan. Mereka sering berkhianat pada pasangan buah mereka, lalu terbongkar dan kehilangan segalanya. Bayi buah yang lahir di luar nikah biasanya bukan dari jenis buah yang tepat, sehingga perempuan buah mendapat hukuman berupa pukulan, makian, bahkan bayi buahnya dilempar keluar jendela hingga meninggal.

  • Video bahkan mengandung indikasi kekerasan seksual terhadap perempuan buah.
  • Ada adegan orang tua buah yang melakukan pelecehan terhadap teman buah anaknya.
  • Perempuan buah dan anak-anak mereka dikejar hiu, dihancurkan blender, atau direbus hidup-hidup.
  • Uniknya, beberapa video menghukum perempuan buah hanya karena kentut, dengan pria buah mengusir dan bahkan memenjarakan mereka.

Ketika ditanya alasan mengapa narasi seperti ini begitu populer, pembuat Fruit Paternity Court, seorang mahasiswa ilmu komputer berusia 20 tahun dari Inggris yang memilih anonim, menjelaskan bahwa video dengan adegan super dramatis dan skandal memang paling banyak ditonton. Ia menggunakan generator video AI seperti Google Veo, Kling AI, dan Sora untuk membuatnya.

Sang pembuat bahkan membagikan salah satu prompt yang dipakai untuk menghasilkan klip: "Karakter stroberi antropomorfik dengan ekspresi sassy, mahkota kecil di daun, kulit merah mengilap, lengan dan kaki kartun tipis, posisi percaya diri, warna hiper jenuh, pencahayaan studio lembut, latar putih, gaya Pixar-meets-brainrot, format vertikal 9:16." Ironisnya, gaya animasi Pixar ini masih digunakan meski Disney telah mengakhiri kerja sama dengan OpenAI terkait Sora.

Viralitas dan Dampak dari Serial AI Buah

Akun AI buah terbesar saat ini adalah Ai Cinema dengan serial parodi Fruit Love Island yang telah mengumpulkan lebih dari 3,3 juta pengikut TikTok dalam 10 hari. Serial ini memiliki lebih dari 21 episode dan total lebih dari 200 juta penayangan dan meniru jalan cerita acara realitas aslinya.

Episode awal menunjukkan perempuan buah yang terlibat pertengkaran dan kekerasan, seperti saling memanggil dengan julukan kasar "bald-headed bitch." Fans membagikan meme, fan art, dan opini yang juga mencerminkan sikap menghakimi terhadap perempuan, sama seperti dalam acara realitas.

"Ini meniru kekerasan nyata terhadap perempuan yang kita lihat di televisi realitas," kata Jessica Maddox, profesor media di University of Georgia. "Televisi realitas masih punya batasan, tapi di sini tidak ada yang menghalangi kekerasan dan misogini."

Meski demikian, beberapa video telah dihapus oleh TikTok karena melanggar pedoman komunitas, dan pembuat konten mengaku akun mereka sedang diduga dilaporkan massal oleh pengguna yang marah.

Respons Pengguna dan Potensi Komersial Konten AI Buah

Video AI buah ini memicu antusiasme sekaligus kemarahan, baik dari pengguna anonim maupun figur publik. Penyanyi Zara Larsson sempat mengunggah dan menghapus video TikTok yang menunjukkan ketertarikan pada karakter buah tertentu setelah mendapat kritik keras.

Menariknya, beberapa merek juga mulai berinteraksi di kolom komentar, seperti Olipop dan Slim Jim. Fenomena ini begitu cepat berkembang hingga ada yang menilai ini sebagai upaya terorganisir untuk menormalkan konten AI yang dianggap slop atau asal-asalan.

Maddox menegaskan bahwa komentar-komentar tersebut berasal dari akun asli dengan ribuan pengikut, menandakan minat nyata dari audiens. Namun, meskipun popularitasnya tinggi, belum tentu konten ini menghasilkan keuntungan besar karena banyak akun masih baru dan belum memenuhi syarat program pendapatan TikTok.

Asal Usul dan Perkembangan Drama Mikro AI Buah

Konten AI buah mulai muncul sejak Maret, dengan berbagai akun terinspirasi dari kesuksesan Fruit Love Island. Ada The Summer I Turned Fruity yang mengadaptasi drama remaja populer, The Fruitpire Diaries dari The Vampire Diaries, dan Food Is Blind yang mengambil konsep dari Love Is Blind.

Fenomena ini mengingatkan pada kontroversi Elsagate dan karakter-karakter viral di Italia yang juga penuh dengan konten bermasalah. Namun, gaya penyajian drama mikro ini semakin diminati oleh perusahaan teknologi besar yang ingin menghadirkan serial pendek berdurasi menit yang bisa menarik perhatian di media sosial.

Menurut Ben L. Cohen, aktor yang terlibat dalam sekitar 15 drama mikro vertikal di Los Angeles, ada kesamaan mencolok antara drama AI buah dan serial yang diperankannya: "Banyak kekerasan terhadap perempuan" dalam durasi singkat dengan judul-judul yang sensasional seperti "Alpha Werewolf Daddy Impregnated Me."

Dia menambahkan, "Ini menarik karena vibe-nya yang kartun tapi tetap menggambarkan kekerasan." AI memang menjadi pilihan murah dan cepat untuk produksi, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan aktor manusia di konten-konten klikbait seperti ini.

Salah satu pengguna TikTok dengan 70.000 pengikut bahkan berpendapat bahwa Fruit Love Island versi AI lebih menarik ketimbang acara realitas aslinya, meski dia kemudian menghapus video tersebut karena kritik.

Cohen mengaitkan tren ini dengan perubahan minat penonton yang semakin mengutamakan konten singkat di platform seperti TikTok. Penonton lebih suka menonton klip berdurasi satu menit ketimbang menonton episode penuh berdurasi 20 hingga 60 menit.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena viralnya video AI buah ini menunjukkan bagaimana teknologi AI bisa dimanfaatkan untuk membuat konten yang menghibur sekaligus mengandung pesan berbahaya dan misoginis yang tersembunyi. Meskipun terlihat sepele dan lucu, narasi yang menampilkan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan buah mencerminkan pola sosial nyata yang berulang di dunia hiburan, terutama televisi realitas, namun tanpa pengawasan dan regulasi yang memadai.

Kemudahan dalam pembuatan konten AI dan kecepatan penyebarannya di media sosial berpotensi memperkuat stereotip negatif dan normalisasi kekerasan terhadap perempuan secara digital. Ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang tanggung jawab platform dan pencipta konten dalam mengontrol dampak sosial dari video viral yang mereka buat dan sebarkan.

Ke depan, penting bagi penonton untuk kritis terhadap jenis konten yang mereka konsumsi dan bagi regulator untuk mengembangkan kebijakan yang mampu menangani konten AI yang semakin kompleks dan berpotensi berbahaya. Mengingat potensi komersial yang besar, tren ini kemungkinan akan terus berkembang dan bertransformasi, sehingga pengawasan dan edukasi publik menjadi kunci utama dalam menghadapinya.

Untuk informasi lebih lengkap dan sumber asli, Anda bisa membaca artikel di WIRED.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad